ArticleID PicAddress Subject Date
{ArticleID}
{Header}
{Subject}

{Comment}

 {StringDate}
 
 
 
 
 
 
 
ViewArticlePage
 
 
 
  • HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SALAT  
  • Sendtofriend
  •  
  •  
  • HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SALAT

     

     

     

     

     

    Dengan membaca takbirotul ihrom, pelaku salat telah memu-lai salatnya, dan sampai akhir salat ada beberapa hal yang diharamkan baginya; yang jika dia melakukan salah satu dari mereka, salatnya menjadi batal. Hal-hal yang mem-batalkan salat antara lain:

    1. Makan dan minum.
    2. Berbicara.
    3. Tertawa.
    4. Menangis.
    5. Menyimpang dari kiblat.
    6. Mengurangi atau menambahi rukun salat.
    7. Merusak cara salat.[1]

     

    Hukum Hal-hal yang Membatalkan Salat

    1.      Berbicara

    • Jika pelaku salat sengaja mengucapkan sebuah kata* yang dengannya ingin menyampaikan suatu makna, maka salatnya batal.[2]
    • Jika dia sengaja mengucapkan kata yang tersusun dari dua huruf atau lebih, sekalipun dengannya dia tidak ingin menyampaikan suatu makna, berdasar-kan ihtiyath wajib dia harus (menyelesaikan salatnya lalu) mengulang dari awal.[3]* 
    • Selama dalam keadaan salat, dia tidak boleh meng-ucapkan salam kepada orang lain. Akan tetapi, jika seseorang mengucapkan salam kepadanya, dia (pe-laku salat) wajib menjawabnya dan harus mendahu-lukan kata salamnya,  misalnya; “assalamu alaika”, atau “assalamu alaikum”. Jadi, tidak boleh menjawab begini, “alaikum salam”.[4]**

     

    2.      Tertawa dan Menangis

    • Jika pelaku salat sengaja tertawa dengan suara, maka salatnya batal.
    • Senyum tidak membatalkan salat.
    • Jika dia sengaja menangis dengan suara karena urusan dunia, maka salatnya batal.
    • Menangis tanpa suara dan menangis karena takut Allah swt., atau menangis untuk urusan akhirat tidak membatalkan sekalipun dengan suara salat.[5]***

     

    3.      Membelakangi Kiblat

    • Jika sengaja sedikit menyimpang dari kiblat sehing-ga tidak dapat lagi dikatakan bahwa dia masih menghadap kiblat, maka salatnya batal.
    • Jika lupa menolehkan wajah secara keseluruhan ke kanan atau ke kiri kiblat,* berdasarkan ihtiyath wajib harus (menyelesaikan salat lalu) mengulangnya dari awal. Akan tetapi, jika wajah tidak sampai ke kanan atau ke kiri kiblat, salatnya sah.[6]

     

    4.      Merusak Bentuk Salat

    • Jika pelaku salat melakukan sesuatu di tengah-tengah salatnya sehingga merusak bentuk salat, misalnya; bertepuk tangan, melompat dan sebagai-nya, salatnya batal sekalipun karena lupa.[7]
    • Jika dia diam di tengah-tengah salatnya sehingga tidak bisa dikatakan bahwa dia sedang salat, maka salatnya batal.[8]
    • Membatalkan salat wajib adalah haram, kecuali dalam keadaan terpaksa seperti di bawah ini:

    a.       Menjaga jiwa

    b.      Menjaga hak milik

    c.       Menghindari kerugian jiwa dan harta.

    • Membatalkan salat untuk membayar hutang boleh-boleh saja dengan syarat:

    a.       Orang yang menghutangi menagih haknya.

    b.      Waktu salat tidak sempit. Yakni setelah mem-bayar hutang, dia bisa mengerjakan salat ter-sebut pada waktunya.

    c.       Di tengah-tengah salat tidak bisa membayar hutang.[9]

    • Membatalkan salat demi harta yang tidak penting hukumnya makruh.[10]

     

    Hal-hal yang Makruh dalam Salat

    1.       Memejamkan mata.

    2.       Memainkan jari-jari dan kedua tangan.

    3.       Diam untuk mendengarkan pembicaraan orang lain ke-tika membaca Al-Fatihah, atau surah, atau zikir.

    4.       Segala pekerjaan yang merusak kekhusyukan dan ke-tundukkan dalam salat.

    5.       Menolehkan wajah sedikit ke kanan atau ke kiri, (karena bila berlebihan dapat membatalkan salat).[11]

     

     

    Kesimpulan Pelajaran

    1.       Pekerjaan-pekerjaan di bawah ini membatalkan salat:

    1. Makan dan minum.
    2. Berbicara.
    3. Tertawa.
    4. Menangis.
    5. Membelakangi kiblat.
    6. Mengurangi atau menambahi rukun-rukun salat.
    7. Merusak cara salat.

    2.       Berbicara dalam salat, sekalipun satu kata yang terdiri dari dua huruf, membatalkan salat.

    3.       Tertawa dengan bersuara membatalkan salat.

    4.       Menangis dengan suara dan menangis karena urusan dunia membatalkan salat.

    5.       Jika pelaku salat menolehkan seluruh wajahnya ke ka-nan atau ke kiri kiblat atau menyimpang dari arah kiblat, maka salatnya batal.

    6.       Jika pelaku salat melakukan sesuatu sehingga merusak bentuk salat, maka salatnya batal.

    7.       Boleh membatalkan salat untuk menjaga jiwa dan harta, atau untuk membayar utang kepada seseorang dengan syarat orang tersebut menagih hak miliknya dan waktu salat masih luang, atau dalam salat tidak bisa membayar hutang.

     

     

    Pertanyaan:

    1.       Pekerjaan apa saja yang bisa membatalkan salat?

    2.       Apa yang harus dilakukan oleh pelaku salat jika sese-orang mengucapkan salam kepadanya?

    3.       Tawa dan tangis bagaimanakah yang bisa membatalkan salat?

    4.       Jika pelaku salat tahu bahwa anak kecil mendekati pemanas ruangan sehingga boleh jadi badannya akan terbakar, apakah dia bisa membatalkan salatnya?

    5.       Seorang musafir tahu di tengah-tengah salatnya kalau kereta api siap bergerak, apakah boleh membatalkan sa-latnya supaya tidak tertinggal kereta?

     

     

     



    1. Taudhih Al-Masail, masalah ke-1126.

    *   Gulpaigani-Araki: jika kata-kata itu terdiri dari dua huruf atau lebih, (Ibid, hal. 199).

    2. Ibid, hal. 154.

    1. Ibid.

    *   Khu;i: salatnya tidak batal, akan tetapi seusai salat dia harus bersujud sahwi, (masalah ke-1141).

    2. Taudhih Al-Masail, masalah ke-1137.

    ** Araki- Gulpaigani: jawablah sebagaimana salam yang diucapkan oleh orang itu. Akan tetapi, ketika disalami dengan ucapan alaikum salam, jawablah dengan ucapan; salamun alaikum (masalah ke-1146). Khu’i: berdasarkan ihtiyath wajib, jawablah sesuai dengan ucapan salamnya. Menjawab dengan alaikum salam boleh-boleh saja (masalah ke-1146).

    3. Ibid, hal. 156, tentang hal-hal ketujuh dan kedelapan yang membatalkan salat.

    ***Seluruh Marja’: berdasarkan ihtiyath wajib, untuk urusan dunia pun tidak boleh menangis, walaupun tanpa suara (Ibid, hal. 209).

    *   Gulpaigani: jika menolehkan kepala ke kanan atau ke kiri kiblat, baik sengaja ataupun lupa, salatnya tidaklah batal, akan tetapi makruh, (masalah ke-1140).

    1. Ibid, masalah ke-1131.

    2. Ibid, hal. 156, tentang hal kesembilan yang membatalkan salat.

    3. Ibid, masalah ke-1152.

    1. Ibid, masalah 1159-1161.

    2. Ibid, masalah ke-1160.

    3. Ibid, masalah ke-1157.