ArticleID PicAddress Subject Date
{ArticleID}
{Header}
{Subject}

{Comment}

 {StringDate}
 
 
 
 
 
 
 
ViewArticlePage
 
 
 
  • HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA (1)  
  • Sendtofriend
  •  
  •  
  • HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA (1)

     

     

     

     

     

    Pelaku puasa dari azan Subuh sampai Maghrib harus menghindari hal-hal yang bisa membatalkan salat, antara lain:

    ·         Makan dan minum.

    ·         Memasukkan debu tebal sampai ke tenggorokan.

    ·         Merendam seluruh kepala ke dalam air.

    ·         Muntah.

    ·         Berhubungan seks.

    ·         Istimna’ (onani).

    ·         Membiarkan diri dalam keadaan junub sampai azan Subuh.[1]

     

    Hukum-hukum Hal yang Membatalkan Puasa

    ·         Makan dan Minum

    1.       Jika pelaku puasa sengaja memakan atau meminum sesuatu, maka puasanya batal.[2]

    2.       Jika pelaku puasa sengaja menelan sisa makanan yang ada di sela-sela gusi, maka puasanya batal. [3]

    3.       Menelan ludah tidak membatalkan puasa walaupun banyak. [4]

    4.       Jika pelaku puasa karena lupa (tidak tahu kalau dirinya lagi puasa) memakan atau meminum sesuatu, puasanya tidak batal.[5]

    5.       Seseorang tidak boleh membatalkan puasanya karena lemas, tetapi jika karena lemas dia tidak sanggup lagi, maka boleh membatalkan puasanya.[6]

     

    ·         Suntik

    Jika bukan sebagai pengganti makanan, suntikan tidak-lah membatalkan puasa,* sekalipun menjadikan bagian anggota badannya terbius.[7]

     

    ·         Memasukkan Debu Tebal ke Tenggorokan

    1.       Jika pelaku puasa memasukkan debu tebal ke tenggorokan, puasanya batal,** baik debu makanan, seperti tepung atau selain makanan, seperti tanah.

    2.       Puasa tidak batal pada beberapa hal di bawah ini:

    a.       Debu tidak tebal.

    b.      Tidak sampai ke tenggorokan, tetapi hanya sampai di dalam mulut.

    c.       Masuk ke tenggorokan tanpa disengaja.

    d.      Tidak tahu kalau dalam keadaan berpuasa.

    e.       Ragu sampai atau tidaknya debu tebal ke teng-gorokan.[8]

    ·         Merendam Seluruh Kepala di dalam Air

    1.       Jika pelaku puasa sengaja memasukkan kepala ke dalam air mutlak* maka puasanya batal.

    2.       Puasa tidak batal pada beberapa hal di bawah ini:

    a.       Lupa merendam kepala ke dalam air.

    b.      Merendam sebagian kepala ke dalam air.

    c.       Merendam setengah dari kepala ke dalam air ke-mudian merendamkan setengah lainnya.

    d.      Jatuh ke dalam air secara tak sengaja.

    e.       Orang lain merendamkan kepalanya ke dalam air dengan paksa.

    f.        Ragu apakah seluruh kepala telah masuk ke da-lam air atau tidak.[9]

     

    ·         Muntah

    1.       Jika pelaku puasa sengaja muntah, sekalipun karena sakit, puasanya batal.[10]

    2.       Jika pelaku puasa tidak tahu hari puasa atau muntah tanpa disengaja, puasanya tidak batal.[11]

     

    ·         Istimna’ (Onani)

    1.       Jika pelaku salat ber-istimna’ yakni dia sendiri melakukan kebiasaan rahasia sehingga cairan mani keluar darinya, maka puasanya batal.[12]

    2.       Jika mani keluar darinya tanpa disengaja, misalnya junub dalam keadaan tidur, puasanya tidak batal.[13]

    Kesimpulan Pelajaran

    1.       Makan dan minum, memasukkan debu tebal ke teng-gorokan, merendam kepala ke dalam air, muntah, ber-hubungan seks, istimna’ (onani), membiarkan diri dalam keadaan junub sampai azan Subuh, semua ini memba-talkan puasa.

    2.       Menelan ludah tidak membatalkan puasa.

    3.       Jika seseorang memakan atau meminum sesuatu karena lupa, puasanya tidak batal.

    4.       Suntikan tidak membatalkan puasa jika bukan sebagai pengganti makanan.

    5.       Jika debu tidak tebal atau tidak sampai ke tenggorokan atau pelaku puasa ragu apakah debu sampai ke teng-gorokan atau tidak, puasanya tidak batal.

    6.       Jika seseorang lupa merendam kepala ke dalam air atau jatuh ke dalam air tanpa disengaja atau direndamkan ke dalam air dengan paksa, maka puasanya tidak batal.

    7.       Jika pelaku puasa muntah tanpa disengaja atau tidak tahu hari puasa, puasanya tidak batal.

    8.       Jika pelaku puasa junub dalam keadaan tidur, puasanya tidak batal.

     

    Pertanyaan:

    1.       Apa hukum membersihkan sisa makanan dalam mulut dengan tusuk gigi atau bersikat gigi ketika sedang ber-puasa?

    2.       Apakah memakan permen karet membatalkan puasa?

    3.       Seseorang dalam keadaan meminum air ingat bahwa dia sedang berpuasa, apa yang harus dia lakukan dan apa hukum puasanya?

    4.       Merokok termasuk bagian yang mana dari hal-hal yang membatalkan puasa?

    5.       Apa hukumnya berenang dalam keadaan berpuasa?



    1. Taudhih Al-Masail, masalah ke-1572.

    2. Ibid, masalah ke-1573.

    3. Ibid, masalah ke-1574.

    1. Ibid, masalah ke-1579.

    2. Ibid, masalah ke-1575.

    3. Ibid, masalah ke-1583.

    *   Gulpaigani: jika memang perlu disuntik, puasanya tidak batal, dan tidak ada perbedaan antara semua suntikan (masalah, ke-1585). Araki-Khu’i: suntik tidak membatalkan pua-sa; Istifta’, masalah ke-1585.

    4. Ibid, masalah ke-1576.

    ** Khu’i: debu tebal membatalkan puasa.

    5. Tahrir Al-Wasilah, Jil. 1/286. Taudhih Al-Masail, masalah 1608- 1618.

    *   Araki-Gulpagani: berdasarkan ihtiyath wajib, tidak boleh merendam kepala ke dalam air mudhaf, (masalah 1648).

    1. Taudhih Al-Masail, masalah ke-1609, 1910, 1913, 1615. Al-‘Urwah Al-Wutsqa, Jil. 2, hal. 187, masalah ke48.

    2. Ibid, masalah  ke-1646.

    3. Ibid.

    4. Ibid, masalah ke-1588.

    5. Ibid, masalah ke-1589.