ArticleID PicAddress Subject Date
{ArticleID}
{Header}
{Subject}

{Comment}

 {StringDate}
 
 
 
 
 
 
 
ViewArticlePage
 
 
 
  • HUKUM-HUKUM MASJID  
  • Sendtofriend
  •  
  •  
  • HUKUM-HUKUM MASJID,

    AL-QURAN DAN MENGUCAPKAN SALAM

     

     

     

     

    HUKUM-HUKUM MASJID

     

    Perkara-perkara yang Haram

    1.       Menghiasi masjid dengan emas.*

    2.       Menjual masjid, sekalipun sudah rusak.

    3.       Menajisi masjid. Dan jika telah ternajisi, harus segera disucikan.

    4.       Membawa tanah dan kerikil dari masjid, kecuali jika tanah itu tanah lebih.

     

    Perkara-perkara yang Sunah

    1.       Pergi ke masjid lebih dahulu dari jemaah yang lain, dan pulangnya lebih lambat dari mereka.

    2.       Menyalakan lampu masjid.

    3.       Membersihkan masjid.

    4.       Pertama-tama, menginjakkan kaki kanan untuk masuk ke masjid.

    5.       Pertama-tama, menginjakkan kaki kiri untuk keluar dari masjid.

    6.       Mengerjakan salat sunah dua rakaat (salat Tahiyat masjid).

    7.       Memakai wangi-wangian dan pakaian yang paling ba-gus ketika pergi ke masjid.

     

    Perkara-perkara yang Makruh

    1.       Melewati masjid. Maksudnya, masjid hanya sebagai tempat lewat; tanpa salat di dalamnya.

    2.       Meludah dan membuang ingus di masjid.

    3.       Tidur di masjid, kecuali dalam kondisi terpaksa.

    4.       Berteriak dan bersuara keras di masjid, kecuali untuk mengumandangkan azan.

    5.       Melakukan jual beli di  masjid.

    6.       Membicarakan urusan dunia di masjid.

    7.       Pergi ke masjid bagi orang yang baru makan bawang merah (atau bombai) atau bawang putih yang baunya mengganggu orang lain.[1]

    * * *

     

     

    HUKUM-HUKUM AL-QURAN

     

    1.       Al-Quran harus selalu bersih dan suci. Haram menajisi tulisan dan kertasnya. Dan jika telah najis, harus segera disucikan.[2] 

    2.       Jika sampul Al-Quran najis sehingga hilang kehormatan-nya, maka harus disucikan.[3]

    Menyentuh Tulisan-tulisan Al-Quran

    1.       Bagi orang yang tidak punya wudu, haram menyen-tuhkan bagian dari badannya ke Al-Quran.[4]

    2.       Sekaitan dengan tulisan Al-Quran, tidak ada perbedaan antara hal-hal di bawah ini:

    o    Antara ayat-ayat dan kata-kata Al-Quran, bahkan antara huruf-huruf dan harokat-harokatnya.

    o    Antara apa saja yang memuat tulisan Al-Quran, baik itu  kertas, tanah, dinding atau  kain. Semua itu tidak ada bedanya lagi dengan tulisan Al-Quran.

    o    Antara apa saja yang ditulis dengan pena, alat cetak, kapur, atau dengan yang lainnya.[5]

    o    Haram menyentuh tulisan Al-Quran—sekalipun itu tidak di dalam Al-Quran. Yakni, jika suatu ayat ter-cantum dalam suatu buku, bahkan jika satu kata da-ri Al-Quran tertulis di sebuah kertas, atau sepenggal dari lafadz Al-Quran itu robek dan ter-pisah dari lembaran Al-Quran atau lembaran buku lainnya, maka hukum menyentuh semua ini tetap haram. 

    3.       Beberapa hal di bawah ini tidak dianggap menyentuh tulisan Al-Quran dan tidak haram:

    o    Menyentuh tulisan Al-Quran dari balik kaca atau plastik.

    o    Menyentuh kertas Al-Quran, sampulnya dan sekitar tulisannya, walaupun hukumnya makruh.

    o    Menyentuh terjemahan Al-Quran dengan bahasa apapun, kecuali nama Allah dengan bahasa apapun. Maka, menyentuh nama Allah dengan bahasa apapun seperti kata Tuhan adalah haram bagi orang yang tidak punya wudu.[6]

    4.       Kata-kata yang sama dalam Al-Quran dengan selain Al-Quran, seperti kata mu’min atau alladzina; jika penulis-nya menulis dengan niat menulis Al-Quran, maka haram menyentuhnya tanpa wudu.[7]

    5.       Menyentuh tulisan-tulisan Al-Quran juga haram bagi orang junub.

    6.       Orang junub tidak boleh membaca surah-surah Al-Quran yang memuat  sujud wajib (rincian masalah ini telah diterangkan pada Pelajaran 10).[8]

    7.       Bagi orang junub, makruh mengerjakan pekerjaan yang terkait dengan Al-Quran:

    a.       Membaca lebih dari tujuh ayat dari surah-surah Al-Quran yang tidak memuat sujud wajib.

    b.      Menyentuhkan anggota badan ke sampul Al-Quran dan sekitarnya serta ke sela-sela kosong di antara tulisan Al-Quran.

    c.       Membawa Al-Quran.

    8.       Disunahkan untuk berwudu selama membawa Al-Quran, membaca, menulis ayat-ayatnya dan menyentuh sekitarnya.[9]

    * * *

     

     

    HUKUM-HUKUM MENGUCAPKAN SALAM

    1.       Sunah mengucapkan salam kepada orang lain, namun wajib menjawab salam.[10]

    2.       Makruh mengucapkan salam kepada orang yang sedang melakukan salat.[11]

    3.       Jika seseorang mengucapkan salam kepada orang yang sedang melakukan salat, maka pelaku salat harus menja-wabnya dan mendahulukan kata “salamun”, yakni men-jawab begini: “salamun alaik”, atau “salamun alaikum.* [12]

    4.       Seseorang yang sedang melakukan salat tidak boleh mengucapkan salam kepada orang lain.[13]

    5.       Seseorang harus segera menyampaikan jawaban salam seusai orang lain mengucapkan salam kepadanya, dan dia berdosa jika sengaja tidak segera menjawabnya.[14]

    6.       Jika dua orang saling mengucapkan salam dalam waktu yang sama, maka masing-masing wajib menjawab salam kepada yang lainnya.[15]

    7.       Makruh mengucapkan salam kepada orang kafir. Dan jika seorang kafir  mengucapkan salam kepada seorang Muslim, maka berdasarkan ihtiyath wajib orang muslim harus menjawabnya dengan mengucapkan “’alaik” saja atau “salam” saja.[16]

     

    Tata Krama Mengucapkan Salam

    1.       Adalah sunah:

    a.       Pengendara kendaraan mengucapkan salam kepada pejalan kaki.

    b.      Yang berdiri bersalam kepada yang duduk.

    c.       Kelompok yang sedikit mengucapkan salam kepada kelompok yang lebih banyak.

    d.      Yang lebih kecil mengucapkan salam kepada yang lebih besar.[17]

    2.       Selain dalam keadaan salat, sunah menjawab salam dengan ucapan yang lebih baik. Oleh karenanya, jika seseorang mengucapkan “salamun alaikum”, maka sunah menjawabnya dengan ucapan “salamun ‘alaikum waroh-matullah”. [18]

    3.       Adalah makruh mengucapkan salam kepada perem-puan, khususnya kepada perempuan muda.[19]

     

     

    Kesimpulan Pelajaran

    1.       Haram menjual masjid dan menghiasinya dengan emas.

    2.       Haram menajisi masjid dan wajib menyucikannya.

    3.       Tidak boleh membawa tanah dan kerikil dari masjid kecuali jika tanah yang lebih.

    4.       Haram menajisi tulisan dan kertas Al-Quran dan wajib menyucikannya.

    5.       Orang yang tidak punya wudu haram menyentuhkan anggota badannya ke tulisan Al-Quran.

    6.       Sekaitan dengan tulisan Al-Quran, tidak ada perbedaan antara hal-hal di bawah ini:

    a.       Ditulis pada Al-Quran atau pada selain Al-Quran.

    b.      Ayat Al-Quran atau kata-katanya, bahkan huruf-hurufnya.

    c.       Tertulis pada kertas atau pada selain kertas.

    d.      Tertulis dengan pena atau dengan selainnya.

    7.       Tidak apa-apa menyentuh tulisan Al-Quran dari balik kaca atau plastik.

    8.       Tidak apa-apa menyentuh terjemahan Al-Quran kecuali semua terjemahan lafadz Allah.

    9.       Sunah mengucapkan salam kepada orang lain, dan wajib menjawab salam.

    10.   Beberapa kondiri bagi pelaku salat sekaitan dengan ucapan salam:

    a.       Dalam keadaan salat, dia tidak boleh mengucapkan salam kepada orang lain.

    b.      Jika ada yang mengucapkan salam kepadanya, dia wajib menjawabnya tetapi harus mendahulukan kata “salamun”.

    c.       Makruh mengucapkan salam kepada orang yang sedang mengerjakan salat.

    11.   Seseorang harus segera menjawab salam yang diucap-kan kepadanya.

    12.   Makruh mengucapkan salam kepada orang kafir.

     

    Pertanyaan:

    1.       Apa hukumnya membawa turbah milik masjid untuk dipakai salat di rumah?

    2.       Sekaitan dengan menjaga masjid, pekerjaan apa saja yang hukumnya wajib, sunah dan makruh?

    3.       Apa hukumnya tidur di dalam masjid dan melewatinya?

    4.       Apa hukumnya menulis ayat Al-Quran di badan (tato)?

    5.       Apa hukumnya menyentuh tanpa wudu ayat-ayat Al-Quran yang tertulis pada batu nisan (kuburan)?

    6.       Sekaitan dengan Al-Quran, pekerjaan apa saja yang hukumnya haram?

    7.       Bagaimana menjawab salam dalam keadaan salat?

    8.       Apakah kamu tahu kenapa dalam kondisi salat kita ti-dak boleh mengucapkan salam kepada orang lain, tetapi kita harus menjawab salam orang yang mengucapkan-nya salam kepada kita?



    *    Gulpaigani: berdasarkan ihtiyath wajib, tidak boleh dihiasi. Khu’i: berdasarkan ihtiyath mustahab, hendaknya tidak dihiasi. (Hasyiah Al-Urwah Al-Wutsqo’).

    1. Al-Urwah Al-Wutsqa, Jil. 1, hal. 455-456.

    2. Taudhih Al-Masail, masalah ke-135.

    3. Ibid, masalah ke-136.

    1. Ibid, masalah ke-317.

    2. Al-Urwah Al-Wutsqo’, Jil. 1, hal. 190-191.

    3. Ibid, Jil. 1, hal. 189-190.

    1. Ibid, hal. 190.

    2. Taudhih Al-Masail, masalah ke-355.

    3. Ibid, masalah ke-322.

    4. Al-Urwah Al-Wutsqa, Jil. 1, hal. 715, masalah ke-30.

    5. Ibid, masalah ke-29.

    *   Seluruh marja’: harus menjawab sebagaimana salam yang ucapkan oleh orang tersebut. Yakni, jika dia mengucapkan “salamun alaik”, maka jawablah “salamun alaik” juga, (Hasyiah Al-‘Urwah Al-Wutsqa).

    1. Al-Urwah Al-Wutsqa, Jil. 1, hal. 711, masalah ke-17.

    2. Ibid, masalah ke-15.

    3. Ibid, hal. 557, masalah ke-25.

    4. Ibid, hal. 716, masalah ke-36.

    5. Ibid, masalah ke-33.

    1. Al-Urwah Al-Wutsqa, Jil. 1, hal. 716, masalah ke-33.

    2. Ibid, hal. 717, masalah ke-38.

    3. Ibid, Jil. 2, hal. 804, masalah ke-41.