Hubungan Antara Perang dan Irfan
Perang fisabilillah serta gerakan amar makruf dan nahi munkar mempunyai prinsip-prinsip dan syarat-syarat tertentu dimana memperoleh mereka merupakan suatu kemestian dan menolak perkara-perkara yang merintangi mereka juga menjadi suatu kewajiban. Karena itu, dalam perang dan pergerakan di jalan hak, tidak hanya menuntut keikhlasan, akan tetapi juga menuntut makrifat (baca; irfan) terhadap derajat kedarurian peperangan dan kadar pengaruhnya bagi hidayah ummat manusia secara umum serta kadar pengaruhnya dalam memelihara akidah ummat Islam secara khusus.
Perang, terkadang dikitari dengan kemudahan, seperti kondisi dalam menentukan hak dan batil dan merealisasikannya dapat dilakukan dengan mudah. Namun perang juga terkadang diputari dengan kerumitan, seperti keadaan dimana hak dari batil sulit dipisahkan dikarenakan atmosfir budaya dan sosial sedemikian keruh dan kotornya. Dan apabila telah dilakukan pemisahan hak dari batil, perkara lain yang menyulitkan pelaksanaannya adalah masalah politik dan ketiadaan medan untuk melakukan peperangan. Dalam keadaan seperti ini, jika seseorang dapat menentukan hak dari batil dan mengetahui secara bijak kebenaran bangkit untuk mempertahankannya, maka ia berhak mendapatkan pemuliaan dan penghormatan setinggi-tingginya.
Perang dan jihad hakiki tidak mungkin terlaksana tanpa irfan hakiki, sebagaimana irfan hakiki tidak mungkin dihasilkan tanpa pengorbanan harta, kedudukan, dan jiwa: "Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." (Qs, at-Taubah [9]: 24)
Dalam barisan para mujahid hakiki tertera alamat irfan dan dalam shaf para 'arif sejati tergambar alamat mujahadah. Yakni makrifat seorang 'arif kepada Tuhan dan kerinduan bertemu dengan-Nya menjadi pilar pembebasan diri dari berbagai ikatan-ikatan duniawi dan modal dasar untuk memperoleh tujuan ukhrawi yang didambakan: "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (Qs. at-Taubah [9]: 20)
Kecintaan serta kerinduan seorang 'arif tidak akan pernah padam kecuali dengan pertemuan (wusul), dan pertemuan tidak mungkin terjadi kecuali dengan perang dan jihad, dan perang hakiki tidak akan dihasilkan kecuali dengan makrifat sempurna (irfan hakiki). Oleh karena itu, antara hamparan medan politik dan perlawanan terhadap kezaliman serta antara irfan sejati dan perang hakiki terdapat keselarasan dan kesimetrian sempurna. Seorang pejuang yang berperang dalam konteks seperti ini maka ia adalah pejuang yang paling utama dari seluruh pejuang, sebagaimana seorang 'arif seperti ini lebih tinggi dari seluruh 'arif.[2]Imam Husain As potret paling sempurna orang yang menyatukan antara irfan sejati dan perang hakiki, karena itu beliau layak sebagai sayyid para syuhada dalam pengertian penghulu orang yang mati syahid dan penghulu orang-orang 'arif yang bertemu kekasih yang dirindukannya.
Menggabungkan Perang dan Irfan
Perang fisabilillah dan makrifat Ilahiah merupakan dua substansi nilai insan yang masing-masing mempunyai keutamaan. Pertanyaan adalah, dapatkah kedua keutamaan dan kesempurnaan ini bergabung pada diri seseorang? Dengan kata lain, dapatkah seseorang dari satu sisi memiliki hati lembut, pengasih, dan pemaaf, di sisi lain memiliki jiwa membaja, pemberani, kesatria, dan pantang menyerah dalam berhadapan dengan thagut dan kezaliman? Apakah jiwa yang mempunyai dimensi jihad, pengorbanan, dan rezim perang, dapat menjadi ahli doa, berbisik-bisik dengan Hak Swt, dan menangis tersedu-sedu? Yang jelas sejarah telah menampilkan orang-orang yang kehidupannya telah menyatukan kedua keutamaan dan kesempurnaan insani tersebut. Kendatipun kebanyakan orang tidak dapat mempertemukannya, apatah lagi menyatukannya. Seperti terdapat orang yang senantiasa dalam hidupnya beribadah dan bermunajat, namun ketika mereka diperhadapkan antara bergabung dengan pasukan hak Amirul Mukmini Ali As atau pasukan batil Muawiyah, ataukah diperhadapkan antara memilih menyokong pasukan hak Imam Husain As atau pasukan batil Yazid, mereka malah diam dan sama sekali tidak dapat memilih di antara keduanya. Juga terdapat orang yang di medan peperangan, pemberani dan kesatria, namun sangat disayangkan karena mereka bukan ahli irfan, sehingga terkadang mereka salah memilih jalan atau tidak menghiraukan seruan pemimpin yang hak.
Namun, orang seperti 'arif Yaman Uwais Qarani, adalah salah seorang di antara orang-orang yang dapat menggabungkan antara kedua keutamaan tersebut. Dari sisi ibadah, tatkala malam tiba dia berkata, ini adalah malam ruku. Dan dia semalaman ruku hingga waktu subuh tiba. Terkadang dia juga berkata, ini adalah malam sujud. Dan dia melewati malam itu dengan sujud hingga subuh tiba.[3]Dalam dimensi kesatriaan, dikatakan bahwa dalam keadaan mengenakan pakaian dari wol dan bersenjata dengan dua pedang, dia hadir dalam perang shiffin. Dan di hadapan pimpinan kaum 'arif Amirul Mukminin Ali As berkata, ulurkan tanganmu hingga aku membaiatmu. Setelah dia membaiat Imam Ali As, dia berperang dalam pasukan beliau hingga dia meneguk syahadat dan bertemu dengan sang kekasih mutlak.[4]
Tidak diragukan bahwa para keluarga dan sahabat yang menyertai Imam Husai As di hari-hari Karbala dan berperang bersama beliau di jalan hak, mereka semua itu adalah orang-orang yang mampu menyatukan antara perang hakiki dan irfan hakiki. Mereka bukan tipe orang yang diam dan tidak memenuhi ajakan pemimpin hak, dan mereka bukan juga tipe orang yang bukan ahli ibadah dan munajat. Mereka, di bawah pimpinan pemimpin kafilah pencinta Ilahi, merindukan syahadat dan pertemuan serta perjamuan dengan sang kekasih mutlak, Allah Swt.
Tentu orang seperti 'arif Uwais Qarani dan para keluarga serta sahabat-sahabat Imam Husain As, mereka ini adalah orang-orang yang berada dalam makam tinggi dalam hal jihad hakiki dan irfan hakiki. Akan tetapi terdapat orang-orang yang juga berada dalam barisan ini yang secara gradasi berada dalam makam yang lebih rendah dari pada mereka. Yang urgen bagi kita adalah mengambil langkah yang pasti bergabung dengan mereka di bawah pimpinan kafilah pencinta kebenaran Amirul Mukminin Ali As dan Sayyid syuhada Imam Husain As.