ArticleIDPicAddressSubjectDate
{ArticleID}
{Header}
{Subject}

{Comment}

 {StringDate}
 
 
 
 
 
 
 
ViewArticlePage
 
 
 
  • Rahasia Do'a dan Gerakan Kebangkitan Imam Husain As  
  • 2010-03-16 7:37:7  
  • CountVisit : 778  
  • Sendtofriend
  •  
  •  
  • Rahasia Do'a dan Gerakan Kebangkitan Imam Husain As

    Do'a Arafah Imam Husain As, kendatipun ia adalah suatu do'a dan munajat kepada Sang Penguasa Mutlak, akan tetapi di dalam baris bait-baitnya juga  terkandung rahasia kebangkitan dan peperangan melawan penguasa kufur dan zalim. Beliau berkata, Tuhan! …Engkau mengarunia lutf dan ihsan kepadaku, lutf dan ihsan itu adalah Engkau sedemikian sabar dalam penciptaanku hingga priode gelap jahiliah lewat kemudian sistem Islami berdiri, barulah ketika itu Engkau mengadakanku di dunia dalam sistem pemerintahan Islami.[5]Yakni Imam Husain As bersyukur bahwa dia tidak diadakan di dunia dalam kondisi zaman jahiliah dan penguasaan orang-orang kafir, dimana jika beliau lahir sebelum pemerintahan Islami, beliau tidak akan dapat memperoleh nikmat Islam dan makrifat-makrifatnya yang dalam.

    Akan tetapi substansi ungkapan beliau itu tidak hanya perkara itu sebenarnya, tetapi perkara yang lebih urgen adalah dorongan pada pembentukan pemerintahan Islami dan upaya untuk tegaknya sistem Ilahi. Sebab jika seseorang ingin bersyukur dikarenakan tidak dilahirkan dalam kondisi pemerintahan kufur dan jahiliah, maka dia mesti dalam bentuk aplikasinya berupaya meruntuhkan daulah kufur dan kekuasaan syirik serta berusaha mendirikan pemerintahan Islami dan menjaganya. Ini tidak lain karena keberadaan pemerintahan kufur dan zalim, kendatipun tidak memustahilkan orang untuk memperoleh makrifat Ilahi dan akhlak insani, tetapi jalannya sangat sulit dan berat. Karena atmosfir yang menguasai lingkungan budaya, sosial, dan politik masyarakat adalah lingkungan jahiliah, akhlak rendah, dan thagut. Oleh karena itu, penghulu para syahid Imam Husain As, dengan maksud ini juga beliau bangkit melawan pemerintahan zalim Yazid, supaya masyarakat dan orang-orang akan datang berada dalam pancaran pemerintahan Islami. Sehingga mereka seperti beliau berada dalam lingkupan lutf dan berkah daulah hak dan hidup dalam lindungan pemerintahan Islam serta sinaran pancaran al-Qur'an.

    Berasaskan ini juga beliau sebelumnya berkata, saya bangkit menentang pemerintahan zalim hingga saya menghapus kekufuran dan menciptakan perbaikan pada ummat kakekku Rasulullah Saw:  انٌما خرجت لطلب الاصلاح فی أمٌة جدٌی [6]

    Beliau kemudian merealisasikan tujuan ini dengan seluruh irfan dan kekesatriaan hingga beliau sampai pada tujuannya lewat meneguk manisnya syahadat dan indahnya pertemuan dengan sang kekasih mutlak.

    Tajalli Irfan Peristiwa Karbala

    1. Cinta Ilahi

    Kecintaan kepada Tuhan ibaratnya api yang membakar segala apa yang dicapainya. Ia juga ibarat hujan yang mencurahkan air kepada segala sesuatu. Kecintaan kepada Tuhan itu sendiri muncul dari makrifat kepada-Nya. Karena itu semakin makrifat bertambah kepada-Nya, semakin kecintaan bertambah juga terhadap-Nya. Bagaimana dengan manusia sempurna (insan kamil) yang mempunyai makrifat sempurna insani kepada Allah Swt? Tentu kecintaannya juga pada-Nya adalah sempurna dan sedalam mungkin, yang hanya dibatasi oleh pembatas kecintaan yang tidak dapat dimiliki oleh maujud mumkin. Oleh karena itu, sesuatu yang membawa Imam Husain As pada hari Asyura melepaskan segala sesuatu hatta jiwanya, adalah cinta Ilahi. Dan beliau rela menanggung segala beban dan penderitaan pada hari itu; hanya karena cinta dan rindunya kepada Tuhan Yang maha Agung.

    Kecintaan beliau kepada Tuhan ini, bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba dan dalam peristiwa perjalanan Karbala ditemukan. Akan tetapi dalam seluruh perjalanan hidup beliau dipenuhi dengan cinta Ilahi dan peristiwa Asyura itu adalah buah dari kecintaan beliau tersebut. Dan sebagaimana diisyaratkan sebelumnya, bahkan seluruh hidup beliau merupakan tajalli cinta kepada Tuhan. Do'a dan munajat beliau, terutama do'a Arafah, menjadi bukti dari cinta Ilahi beliau ini. Dan juga malam-malam munajat, shalat, dzikir, sabar, tawakkal, dan pengorbanan yang beliau lewati di hari-hari Karbala merupakan manifestasi dari totalitas kecintaan beliau kepada Allah Swt. 

    Di samping Imam Husain As di hari-hari Karbala, juga anggota-anggota keluarga beliau dan para sahabat-sahabat beliau yang meneguk  kesyahidan, semuanya telah menunjukkan manifestasi cinta Ilahi dan menjadi para pencinta yang syahid. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali As, seperempat abad sebelum peristiwa Asyura tersebut, ketika beliau melewati Karbala beliau berkata kepada orang-orang yang menyertainya, di sini akan menjadi tempat terbunuhnya para syuhada pencinta.[7]Sesuai dengan ungkapan Amirul Mukmini Ali As ini maka semua orang yang berperang dipihak hak dan tauhid pada hari-hari Karbala, mereka semuanya adalah pencinta Ilahi Swt. Dan pimpinan serta imam mereka yaitu Imam Husain As merupakan pimpinan kafilah pencinta yang mengajarkan kepada para pengikutnya kecintaan, perang, dan irfan hakiki, dan juga bagi generasi-generasi akan datang yang mengikuti maktab kecintaannya.   

    2. Shalat

    Shalat, adalah pilar dan tiang agama. Bahkan  ia paling asasnya dasar agama setelah wilayat. Dan shalat merupakan manifestasi irfan dan spiritualitas yang sangat jelas.[8]Imam Husain As, dengan seluruh usia yang dilewatinya dipenuhi dengan shalat dan ibadat, -sebagaimana diriwayatkan dari Imam Sajjad As bahwa beliau berkata, ayahku dalam sehari semalam shalat seribu rakaat[9]- pada hari tâsû'a (hari kesembilan bulan muharram) meminta dari saudaranya hadhrat Abul Fadl As supaya mengambil kerelaan dari musuh untuk memberi mereka kesempatan satu malam, dimana malam itu beliau ingin hanya berdo'a, shalat, tilawah al-Qur'an, istigfar, dan munajat kepada Tuhan. Karena itu, setelah beliau berbicara dengan para pengikutnya dan mengungkapkan segala kemungkinan yang akan terjadi besoknya dan hujjah telah sempurna bagi mereka, beliau kembali ke kemahnya dan melewati seluruh malam itu dengan shalat, istigfar, dan munajat.[10]Demikian pula para sahabat-sahabatnya melewati malam itu dengan shalat, istigfar, dan munajat.[11]

    Pada hari Asyura, ketika peperangan demikian hebatnya berkecamuk, tapi saat-saat pembicaraan tentang shalat diungkapkan, beliau berpikir menegakkan shalat dan berkata, engkau mengingatkan kami kepada shalat, semoga Tuhan menjadikan kamu di antara orang-orang yang menegakkan shalat. Benar, sekarang adalah awal waktu shalat, mintalah dari musuh supaya menghentikan perang sejenak hingga kita selesai menunaikan shalat. Sebab musuh tidak bersedia menghentikan perang maka Said bin Abdullah Hanafi dan Zuhair bin Qin bertanggung jawab melindungi jiwa Imam As dalam keadaan shalat, yang pada akhirnya kedua sahabat Imam ini meneguk syahadat sebagai pengabdiannya terhadap shalat.[12]Shalat ini mempunyai tiga kekhususan: berjamaah, awal waktu, dan secara 'alani (terang-terangan).

    Demikianlah kecintaan beliau kepada shalat sebagai manifestasi dari kecintaan beliau kepada Tuhan. Dan shalat merupakan ungkapan jelas dari kecintaan kepada Tuhan, kendatipun perang di jalan hak itu sendiri juga ungkapan kecintaan kepada Tuhan. Karena itu, perealisasian shalat dalam keadaan perang berkecamuk, merupakan dua keutamaan yang bertajalli pada saat yang bersamaan.

    3. Pengorbanan

    Dalam peristiwa Karbala, terpancar pengorbanan sejati. Pengorbanan harta dan jiwa pada hari-hari Karbala merupakan manifestasi utama dari irfan dan spiritualitas. Imam Husain As adalah pimpinan pengorbanan Karbala bagi agama Hak Swt. Beliau tidak menyisakan sedikit pun bagi dirinya, semua yang berada dalam kuasanya dipersembahkannya bagi keselamatan agama kekasihnya. Oleh karena itu, asas gerakan Imam Husain As dalam menentang penguasa zalim dan kufur, tegak berasaskan pengorbanan untuk menyelamatkan agama Tuhan. Sebab pengorbanan beliau dalam pergerakan Asyura ini demikian terang dan jelas maka kami tidak perlu menyebutkannya. Dan kami cukupkan dengan menyebut dua contoh pengorbanan sejati dari sahabat-sahabat beliau dalam peristiwa hari-hari karbala tersebut:

    Ketika hadhrat Abul fadl As mencapai air sungai Furat dan menciduknya, kendatipun beliau sangat haus, tetapi beliau pantang meminumnya dikarenakan mengingat junjungannya Imam Husain As beserta anak-anaknya berada dalam keadaan haus. Pengorbanan ini adalah pertanda kecintaan kepada sang Imam sebagai manifestasi kecintaan kepada Sang Pemilik Imam. Pengorbanan ini bukan didasari oleh faktor emotif semata, tetapi didasari oleh makrifat dan irfan yang dalam.

    Sebagaimana kami sebutkan sebelumnya, di waktu zuhur Asyura, dua orang sahabat Imam As dengan penuh suka cita berdiri melindungi Imam dari anak-anak panah musuh ketika Imam As tegak menunaikan shalat jamaah pada awal waktu zuhur dihari Asyura tersebut. Dan kedua shabat Imam tersebut pada akhirnya meneguk manisnya syahadat menyusul sahabat-sahabat lainnya yang terlebih dahulu meneguknya. Tidak diragukan, pengorbanan ini pastilah didasari oleh makrifat dan irfan tentang loyalitas serta kecintaan kepada imam sebagai manifestasi kecintaan kepada Sang Penguasa Imam.

    4. Kesabaran

    Dalam pergerakan Asyura, terlukis dengan indah makna kesabaran dan taslim menerima qadha dan ketetapan hukum Tuhan. Sebab Imam Husain As sebagai pimpinan kafilah kebenaran dalam melawan kezaliman, dengan makrifat dan irfan mengetahui akhir dan kesudahan pergerakan tersebut. Dan pada akhir-akhir waktu yang tersisa baginya, beliau dalam munajatnya mengungkapkan, Tuhanku! Aku sabar atas segala qadha-Mu… Tuhanku! Aku sabar atas segala ketetapan hukum-Mu….[13]Beliau tidak hanya mencukupkan kesabaran dalam menghadapi berbagai peristiwa hari-hari Karbala itu untuk dirinya, tetapi beliau juga menasehatkan kepada para keluarga dan sahabatnya untuk bersabar dan taslim dalam menghadapi qadha dan ketetapan Tuhan. Pada hari Asyura beliau berkata kepada anak-anak pamannya dan Ahlulbaitnya, sabar wahai anak-anak pamanku, sabar wahai Ahlulbaitku.[14]Sebagaimana beliau juga berkata kepada sahabat-sahabatnya, sabar wahai bani al-kiram.[15]Yakni, karena kalian semua berasal dari keluarga mulia maka hendaklah bersabar.

    Dan betapa kesabaran dan taslim menerima qadha Tuhan ini memanifestasi secara sempurna dalam jiwa hadhrat Zainab As, dimana setelah beliau menyaksikan peristiwa demi peristiwa dan bencana serta musibah demi musibah di hari-hari Karbala dan Asyura tersebut, beliau dalam majlis ibnu Ziyad berkata,  ما رأیت إلاٌ جمیلاً (tidaklah aku saksikan kecuali keindahan).[16]

    Sangat banyak lagi manifestasi sifat-sifat sempurna insani dan Ilahi yang terlukis dalam peristiwa hari-hari Karbala dan Asyura yang tidak sempat lagi kami isyaratkan, meskipun dalam bentuknya yang global. Yang jelas Imam Husain As beserta keluarga dan para sahabat-sahabatnya telah memperlihatkan kepada kita jalan suluk dan irfani yang cepat menyampaikan kita kepada Tuhan dan syuhud terhadap jalal dan jamal-Nya. Menurut riwayat, jalan dan perahu ruhani Imam Husain As adalah asra' (lebih cepat) dan lebih penuh dari lainnya.[]      


    [1]. Diterjemahkan secara bebas dari do'a Arafah Imam Husain As, Abbas Qummi, Mafâtihul  Jinân, Hal. 476-477.

    [2]. Jawadi Amuly, Hamâseh wa Irfân, Hal. 46.

    [3]. Syekh Muhammad Taqi Tustari, Qâmus ar-Rijâl, Jld. 2, Hal. 223.

    [4]. Ibid, Hal. 219.

    [5]. Diterjemahkan secara bebas dari do'a Arafah, Mafâtih al-Jinân.

    [6]. Allamah Majlisi, Bihârul Anwâr, Jld. 24, Hal. 329.

    [7]. Allamah Majlisi, Bihârul Anwâr, Jld. 41, Hal. 295.

    [8]. Jawadi Amuly, Hamâseh wa Irfan, Hal. 243.

    [9]. Allamah Majlisi, Bihârul Anwâr, Jld. 44, Hal. 196.

    [10]. Allamah Majlisi, Bihârul Anwâr, Jld. 45, Hal. 3.

    [11]. Ibid.

    [12]. Ibid, Hal. 21.

    [13]. Menukil dari Ustad Jawadi Amuli, Hamâseh wa Irfan, Hal. 255.

    [14]. Allamah Majlisi, Bihârul Anwâr, Jld. 45, Hal. 36.

    [15]. Ibid, Jld. 44, Hal. 297.

    [16]. Ibid, Jld. 45, Hal. 116.

    Sumber: www.telagahikmah.or

     
    FirstName :
    LastName :
    E-Mail :
     
    OpinionText :
    AvrRate :
    %0
    CountRate :
    0
    Rating :