ArticleID PicAddress Subject Date
{ArticleID}
{Header}
{Subject}

{Comment}

 {StringDate}
 
 
 
 
 
 
 
ViewArticlePage
 
 
 
  • IMAM MUHAMMAD AL-JAWÂD AS.  
  • Sendtofriend
  •  
  •  
  • IMAM MUHAMMAD AL-JAWÂD AS.

     

     

     

    Imam Muhammad Al-Jawâd as. memiliki seluruh keutamaan yang ada di alam semesta ini. Ia adalah figur ajaib di kalangan umat manusia dengan perbedaan agama dan naluri yang mereka miliki. Ia telah memegang tampuk imâmah pada usia tujuh tahun beberapa bulan. Banyak sekali ilmu pengetahuan telah nampak darinya yang membuat setiap akal takjub dan terheran-heran. Umat manusia senantiasa membicarakan keutamaan dan kejeniusannya di sepanjang masa.
    Para fuqaha dan ulama telah mengelilinginya (untuk menimba ilmu pengetahuan) sedangkan ia masih berusia semuda itu. Mereka bertanya kepadanya tentang masalah-masalah yang paling sulit, dan ia menjawab semua masalah itu bak seorang ‘alim yang sangat mumpuni. Para perawi hadis meriwayatkan bahwa ia pernah ditanya tentang tiga puluh ribu masalah dalam kesempatan dan majelis yang berbeda-beda, dan ia men-jawab seluruh masalah tersebut.
    Sangat gamblang sekali bahwa tidak ada sebab dan faktor lain atas seluruh keajaiban tersebut kecuali keyakinan yang dimiliki oleh mazhab Syi‘ah bahwa Allah swt. telah menganugerahkan pengetahuan, hikmah, dan fashl al-khithâb kepada para imam Ahlul Bait as. Dia telah memberi-kan keutamaan kepada mereka yang tidak pernah diberikan-Nya kepada siapa pun di dunia ini.
    Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sebagian sisi pribadi dan kehidupan imam dan pemimpin yang agung ini.
    Di Bawah Asuhan Sang Ayah
    Imam Al-Jawâd as. hidup di bawah naungan dan lindungan sang ayah dengan penuh kasih sayang dan kecintaan. Imam Ali Ar-Ridhâ as. tidak pernah memanggilnya dengan menyebut namanya. Imam Ar-Ridhâ as. selalu memanggilnya dengan menyebut panggilan nasabnya, Abu Ja‘far. Selama Imam Ar-Ridhâ as. berdomisili di Khurasan, Imam Al-Jawâd as. senantiasa menulis surat kepada sang ayah. Surat-surat ini ditulis dengan gaya sastra yang sangat tinggi.
    Di antara manifestasi keagungan pendidikan Imam Ar-Ridhâ as. terhadap putranya adalah senantiasa memberi semangat kepada sang putra untuk berbuat kebaikan kepada orang-orang fakir miskin. Ketika ia berada di Khurasan, ia menulis surat kepada Imam Al-Jawâd as. yang di antara isinya adalah sebagai berikut:

    Semoga jiwaku menjadi tebusanmu! Aku mendengar bahwa jika engkau menunggangi kuda (untuk keluar rumah), para budak mengeluarkanmu melalui pintu kebun yang kecil itu. Tindakan mereka ini menunjukkan sifat kekikiran mereka supaya tak seorang pun berhasil mendapatkan kebaikanmu. Aku memohon kepadamu demi hak yang kumiliki atasmu, hendaknya keluar masukmu terlaksana melalui pintu rumah yang besar itu. Jika engkau me-nunggangi kuda (untuk keluar rumah)—insya Allah, hendaknya engkau membawa serta kepingan emas dan perak sehingga apabila seseorang memohon bantuan kepadamu, engkau dapat memberi-kan bantuan kepadanya. Jika salah seorang dari paman-pamanmu memohon kebaikanmu, janganlah kamu berikan kepadanya uang lebih sedikit dari lima puluh Dinar, dan jika engkau ingin memberi lebih banyak, itu semua terserah kepadamu. Jika salah seorang dari bibi-bibimu memohon kebaikanmu, janganlah engkau berikan uang kurang dari lima puluh Dinar kepadanya, dan jika engkah ingin memberi lebih banyak, itu semua terserah kepadamu. Jika salah seorang dari bangsa Quraisy memohon kebaikanmu, jangan-lah kamu berikan kepadanya uang kurang dari dua puluh lima Dinar, namun jika engkau ingin memberi uang lebih banyak, itu semua terserah kepadamu. Aku berhadap Allah menganugerahkan taufik kepadamu, maka infakkanlah hartamu dan janganlah kamu khawatirkan kemiskinan dari Dzat Pemilik ‘Arsy.

    Anda perhatikan pendidikan luhur yang penuh dengan kemuliaan dan keagungan ini! Imam Ar-Ridhâ as. telah menanamkan akhlak yang mulia dan karakter yang agung di dalam lubuk hati putranya supaya ia layak untuk menjadi panutan bagi umat kakek ia saw.
    Perhatian Keluarga Nabawi
    Keluarga nabawi memberikan perhatian yang khusus kepada Imam Al-Jawâd as. dan memperlakukannya dengan penuh pengagungan dan pemuliaan, sedangkan ia masih berusia belia pada waktu itu. Coba kita lihat Ali bin Ja‘far, seorang faqih agung dan saudara kandung Imam Mûsâ bin Ja‘far as. Ia adalah salah seorang tonggak Bani Ali as. dalam keu-tamaan dan ketakwaan. Ia sangat menyucikan dan mengagungkan Imam Al-Jawâd as. Ia juga mengakui keutamaan dan kedudukan imâmah-nya, meskipun ia masih berusia belia.
    Muhammad bin Hasan bin ‘Imârah bercerita: “Aku pernah duduk-duduk di rumah Ali bin Ja‘far di Madinah. Aku diam di rumahnya selama dua tahun untuk mencatat seluruh hadis yang telah ia riwayatkan dari saudaranya, yaitu Imam Mûsâ as. Tiba-tiba Abu Ja‘far Muhammad bin Ali Ar-Ridhâ as. masuk masjid Rasulullah saw. Seketika itu juga Ali bin Ja‘far melompat tanpa alas kaki dan jubah, lantas mencium tangannya dan mengagungkannya. Imam Al-Jawâd as. menoleh ke arahnya seraya berkata: ‘Duduklah hai pamanku. Semoga Allah merahmatimu ....’
    Ali bin Ja‘far membungkuk dengan penuh rasa hormat dan takzim seraya berkata: ‘Wahai junjunganku, bagaimana mungkin aku duduk, sedangkan Anda masih berdiri?’
    Imam Al-Jawâd pun lalu pergi dan Ali bin Ja‘far kembali menemui para sahabatnya. Mereka bertanya-tanya: ‘Engkau adalah paman ayahnya, dan engkau memperlakukannya demikian?!’
    Ali menjawab pertanyaan mereka dengan logika iman: ‘Duduklah kamu semua. Jika Allah—sambil memegang jenggotnya—tidak memberi-kan kelayakan kepada jenggot ini—untuk memegang imâmah—dan memilih pemuda ini (untuk itu), serta meletakannya di tempat yang Dia kehendaki, kita harus berlindung kepada Allah dari apa yang telah kamu ucapkan itu. Bahkan, aku adalah hamba baginya ....’”
    Riwayat ini mengindikasikan kedalaman Ali bin Ja‘far. Ia menegas-kan kepada para sahabatnya bahwa imâmah tidak tunduk pada kehendak manusia. Urusan imâmah ini berada di tangan Allah swt. Dialah yang menganugerahkan kedudukan ini kepada hamba yang dikehendaki-Nya tanpa ada perbedaan antara orang yang sudah berusia dewasa dan belia.
    Kezuhudan
    Imam Al-Jawâd as. hidup serbazuhud akan dunia dan germelapnya. Ia tak ubahnya seperti nenek moyangnya yang selalu zuhud terhadap dunia dan memusatkan seluruh konsentrasi hanya kepada Allah swt. dengan sepenuh hati dan wujud mereka.
    Pada waktu itu, Imam Al-Jawâd as. masih berusia muda. Al-Ma’mûn selalu mengucurkan harta yang berlimpah kepadanya, di samping hak-hak syar‘î yang senantiasa datang kepadanya dan harta-harta wakaf yang terdapat di kota Qom. Hanya saja, ia tidak pernah menginfakkan seluruh harta tersebut untuk kepentingan pribadinya. Dengan segala kemurahan hati, Imam as. selalu menginfakkannya kepada orang-orang fakir-miskin dan tertindas.
    Husain Al-Mukârî menceritakan kepada kita pengagungan dan pemuliaan yang didapatkan Imam Al-Jawâd as. di Baghdad. Ia berbisik dalam hatinya untuk tidak kembali pulang ke negerinya. Sebagai gantinya, ia akan berdomisili di Baghdad untuk memanfaatkan seluruh kenikmatan dunia yang sudah tersedia. Imam Al-Jawâd as. mengetahui apa yang ter-bersit di dalam hatinya. Ia menghadap kepadanya sembari berkata: “Hai Husain, roti gandum dan garam kasar di samping haram kakekku, Rasulullah saw. lebih kucintai dari seluruh harta yang kau lihat ini ....”
    Imam Al-Jawâd as. bukanlah sosok pecinta kerajaan dan kekuasaan. Ia tidak pernah berbahagia dengan seluruh harta yang dikucurkan oleh kerajaan kepadanya. Ia meneruskan kehidupannya dengan berzuhud dan berpaling dari harta dunia.
    Kedermawanan
    Imam Al-Jawâd as. adalah figur yang paling santun dan selalu berbuat kebajikan kepada kaum fakir-miskin. Ia diberi gelar Al-Jawâd lantaran kedermawanannya ini. Di antara menifestasi kedermawanannya, kita bisa memperhatikan riwayat-riwayat berikut ini:
    Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hadîd pernah melakukan ibadah haji bersama beberapa orang sahabatnya. Di pertengahan jalan, mereka diserang oleh segerombolan perampok. Gerombolan pencuri itu merampas seluruh harta yang mereka miliki. Ketika tiba di Madinah, Ahmad pergi menemui Imam Al-Jawâd as. dan menceritakan pengalaman buruk rombongannya. Ia memerintahkan supaya mereka diberi pakaian dan uang serta dibagikan kepada rombongannya. Seluruh pakaian dan harta yang telah diberikan Imam as. tersebut senilai dengan harta mereka yang telah dirampas oleh gerombolam perampok tersebut.
    Al-‘Atbî meriwayatkan bahwa seorang keturunan Ali as. mencintai seorang sahaya di Madinah namun ia tidak memiliki harta untuk membelinya. Ia mengadukan hal itu kepada Imam Al-Jawâd as. Imam as. bertanya tentang tuan sahaya tersebut kepadanya, dan ia memberitahukan siapa tuannya. Imam as. bangkit dan membeli seluruh tanah, bangunan, kebun, dan sahaya tersebut dari tuannya.
    Pada suatu hari, orang itu keluar rumah untuk menanyakan tentang sahaya itu. Ia diberi tahu bahwa sahaya itu telah dijual dan mereka tidak tahu siapa yang telah membelinya secara diam-diam. Ia bergegas menemui Imam Al-Jawâd seraya menjerit: “Sahaya itu telah dijual.”
    Imam Al-Jawâd as. menyambutnya dengan senyuman penuh bahagia seraya bertanya: “Tahukah kamu siapa yang telah membeli-nya?”
    “Tidak,” jawabnya pendek.
    Imam Al-Jawâd as. pergi membawanya menuju kebun dan bangunan mewah yang ditempati oleh sahaya itu. Ia menyuruhnya untuk masuk ke dalam. Ia menolak karena tidak tahu siapa pemilik-nya. Imam as. memaksanya dan akhirnya ia bersedia masuk. Ketika berada di dalam rumah, ia mendapatkan sahaya itu. Imam Al-Jawâd as. bertanya kepadanya: “Apakah kamu kenal dia?”
    Ia menjawab: “Ya.” Ia baru tahu bahwa Imam Al-Jawâdlah yang telah membelinya. Imam as. berkata kepadanya: “Sahaya, rumah, tanah, kebun, dan seluruh harta yang terdapat di dalamnya adalah untukmu.” Alangkah bahagianya keturunan Ali as. itu. Ia pun  sangat berterima kasih kepada Imam as.
    Dua kisah ini adalah segelintir dari kedermawanan Imam Al-Jawâd as.
    Keluasan Ilmu
    Meskipun masih berusia muda, Imam Al-Jawâd as. adalah figur yang paling ‘alim pada masanya. Ia sering melakukan perdebatan-perdebatan filosofis, teologis, dan fiqih dengan para ulama kenamaan, dan ia selalu keluar sebagai pemenang. Mereka mengakui keutamaan dan keunggulan ia atas diri mereka.
    Para fuqaha dan ulama berkumpul mengelilingi Imam Al-Jawâd as. (untuk menimba ilmu pengetahuan) sedangkan ia masih berusia tujuh tahun. Mereka menimba banyak ilmu pengetahuan darinya sehingga keutamaannya dikenal oleh masyarakat umum dan majelis-majelis ilmiah senantiasa membicarakan hal itu.
    Imam Al-Jawâd as. adalah keajaiban dunia dalam kejeniusannya. Ketika Al-Ma’mûn ingin menikahkan Imam as. dengan anak perempuan-nya, Bani Abbâsiyah khawatir dan memohon kepadanya untuk diizinkan menguji keilmuannya. Al-Ma’mûn memberi izin. Mereka memilih Yahyâ bin Aktsam, Hakim Agung Baghdad, untuk melakukan ujian atas Imam Al-Jawâd. Mereka menjanjikan harta melimpah kepadanya jika ia mampu menguji Imam Al-Jawâd as. dan ia tidak mampu menjawab.
    Dalam sebuah pertemuan yang dipenuhi oleh para menteri kerajaan, komandan militer, dan tokoh masyarakat, Yahyâ maju ke depan untuk mendekat kepada Imam Al-Jawâd as. seraya bertanya: “Semoga aku dija-dikan tebusan Anda! Apakah Anda mengizinkanku untuk bertanya tentang suatu masalah?”
    Imam Al-Jawâd as. menyambutnya dengan senyuman seraya berkata: “Tanyakanlah apa yang kau inginkan!”
    Ia bertanya: “Bagaimana pendapat Anda—semoga Allah menjadi-kanku sebagai tebusan Anda—tentang seseorang yang sedang melakukan ihram dan membunuh seekor binatang buruan?”
    Imam Al-Jawâd as. menjabarkan pertanyaan itu ke dalam beberapa masalah lagi dan memecahnya menjadi beberapa masalah cabang. Ia bertanya kepada Yahyâ cabang masalah manakah yang ingin ia tanyakan. Ia berkata: “Ia membunuh binatang tersebut di daerah halal (baca: di luar daerah Mekah dan Madinah) atau di daerah haram? Ia mengetahui hukum atau tidak? Ia sengaja atau tidak? Ia adalah seorang budak atau merdeka? Ia masih kecil atau sudah besar? Ia membunuh untuk pertama kalinya atau sudah yang ke berapa kali? Binatang buruan tersebut berasal dari jenis unggas atau selainnya? Jenis unggas yang kecil atau yang besar? Ia menyesal atas tindakannya itu atau tidak? Ia membunuhnya pada malam hari di sarangnya atau di siang hari dan di khalayak ramai? Apakah ia melakukan ihram untuk ibadah haji atau umrah?”
    Yahyâ tercengang dan tak berkutik lantaran ia tidak membayangkan seluruh masalah cabang yang dapat dijabarkan dari pertanyaannya itu. Ruangan pertemuan itu dipenuhi dengan gemuruh gema takbir dan tahlil. Gamblang bagi seluruh hadirin bahwa Allah swt. telah menganugerahkan hikmah dan ilmu kepada para imam Ahlul Bait as., sebagaimana Dia telah menganugerahkannya kepada para nabi dan rasul-Nya.
    Imam Al-Jawâd as. telah mengurai masalah tersebut menjadi bebe-rapa masalah cabang, meskipun sebagian masalah itu tidak memiliki perbedaan hukum dengan yang lainnya. Seperti, membunuh binatang buruan di siang atau malam hari. Hukum tentang masalah ini adalah satu. Akan tetapi, ia menyebutkan keduanya demi membungkam mulut lawan bicara dan membuktikan kelemahannya lantaran ia datang hanya untuk menguji.
    Akhirnya, Al-Ma’mûn menoleh kepada seluruh Bani Abbâsiyah yang hadir seraya berkata kepada mereka: “Segala puji bagi Allah atas nikmat ini. Dan terbukti bahwa pendapatku adalah benar. Apakah kamu semua sudah tahu sekarang apa yang selama ini kamu ingkari?”
    Setelah di hadapan seluruh keluarga Bani Abbâsiyah terbukti keu-tamaan dan keluasan ilmu pengetahuan Imam Al-Jawâd as., padahal ia masih belia, Al-Ma’mûn berdiri dan menikahkannya dengan anak perem-puannya.
    Dari Kedalaman Iman
    Imam Al-Jawâd as. memiliki banyak nasihat yang sangat bermutu dan mengajak kita untuk beriman kepada Allah dan pasrah diri kepada-Nya. Di antara nasihat-nasihat itu adalah sebagai berikut:
    a. Percaya Penuh kepada Allah
    Imam Al-Jawâd as. berkata: “Barang siapa percaya penuh kepada Allah, niscaya Dia akan menampakkan kepadanya kebahagiaan dan barang siapa berpasrah diri kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan baginya segala urusan. Percaya penuh kepada Allah adalah sebuah benteng yang tidak bertahan di dalamnya kecuali seorang mukmin, dan pasrah diri (tawakal) kepada Allah adalah keselamatan dari segala keburukan dan tameng terhadap setiap musuh ....”
    Kalimat-kalimat emas ini terisi penuh wejangan indah yang diperlu-kan oleh seluruh umat manusia dalam kehidupan mereka. Yaitu, percaya penuh kepada Allah, Pencipta semesta dan Penganugerah kehidupan. Barang siapa percaya penuh kepada-Nya niscaya Dia akan menampakkan kepadanya kebahagiaan dan barang siapa berpasrah diri kepada-Nya, niscaya Dia akan mencukupkan baginya segala urusan.
    b. Merasa Kaya dan Cukup Hanya dengan Berpegang Teguh kepada Allah
    Imam Al-Jawâd as. mengajak umat manusia untuk merasa cukup hanya dengan berpegang teguh kepada Allah swt. dan menaruh harapan hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.
    Imam Al-Jawâd as. pernah berpesan: “Barang siapa merasa kaya dan cukup hanya dengan berpegang teguh kepada Allah, niscaya masyarakat akan membutuhkannya dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya masyarakat akan mencintainya.”
    Sesungguhnya barang siapa telah merasa kaya dan cukup dengan berpegang teguh kepada Allah, ia tidak akan merasa membutuhkan orang lain dan—sebaliknya—orang lainlah yang akan merasa butuh kepadanya. Karena, ia akan menjadi sumber anugerah baginya.
    c. Memfokuskan Seluruh Wujud dan Perhatian Hanya kepada Allah
    Imam Al-Jawâd as. mendorong umat manusia untuk memfokuskan seluruh wujud dan perhatian mereka hanya kepada Allah swt. yang anugerah dan kasih sayang-Nya tak pernah terputus. Orang yang memfokuskan seluruh wujud dan perhatiannya kepada selain Allah telah mengalami kerugian besar. Ia berpesan: “Barang siapa yang menfokuskan seluruh wujudnya (inqitha‘) kepada selain Allah, niscaya Dia akan menyerahkannya kepada selain tersebut ....”
    Akhlak yang Mulia
    Imam Al-Jawâd as. mengajak kita semua agar memiliki akhlak yang mulia dan karakter yang bagus. Dalam sebagian wasiatnya, Imam as. berkata: “Termasuk salah satu akhlak seseorang yang mulia adalah mencegah diri untuk mengganggu orang lain, termasuk salah satu kedermawanannya adalah berbuat kebaikan kepada orang yang dicintai, termasuk salah satu kesabarannya adalah sedikit mengadu, termasuk salah satu nasihatnya adalah mencegah apa yang tidak diridai oleh dirinya, termasuk salah satu kelembutan hatinya terhadap saudaranya adalah tidak mencelanya di hadapan orang yang membencinya, termasuk salah satu kejujurannya dalam menjalin persahabatan adalah menanggung biaya hidup sahabat-nya, dan termasuk alamat kecintaan dalam dirinya adalah banyak sepakat dan sedikit menentang.”
    Dengan ungkapan-ungkapan yang menawan itu, Imam Al-Jawâd as. telah meletakkan pondasi akhlak yang mulia dan tindakan yang terpuji, serta mengajak kita untuk menjalin suatu persahabatan berdasarkan logika dan kesantunan.
    Kesantunan Perilaku
    Imam Al-Jawâd as. telah mencetuskan program-program yang jitu untuk membangun tata krama dan sopan santun yang terpuji dalam berperilaku di hadapan masyarakat luas. Di antara wejangan-wejangannya berkenaan dengan masalah ini adalah berikut ini:
    “Ada tiga hal yang dapat mendatangkan kecintaan: tahu diri dalam bergaul, tenggang rasa dalam kesulitan, dan memiliki kalbu yang suci.”
    “Jika seseorang memiliki tiga hal, maka ia tidak akan menyesal: meninggalkan ketergesaan, musyawarah, dan pasrah diri (tawakal) kepada Allah swt. ketika telah mengambil sebuah keputusan. Barang siapa menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi ia telah menghiasinya, dan barang siapa menasihatinya secara terang-terangan (baca: di hadapan khalayak) ia telah mencoreng mukanya ....”
    “Tanda buku catatan amal seorang mukmin adalah kemuliaan akhlaknya, dan tanda buku catatan amal seorang yang berbahagia adalah pujian yang baik untuknya. Bersyukur adalah hiasan sebuah penjelasan, kerendahan hati adalah hiasan ilmu, tata krama yang mulia adalah hiasan akal, keindahan terbersit di mulut, dan kesempurnaan tersembunyi di dalam akal ....”
    Ucapan-ucapan ini mengandung prinsip hikmah, kaidah akhlak, dan tata krama. Jika tidak ada suatu hal lain selain ucapan-ucapan ini, niscaya seluruh ucapan ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang imam. Hal itu lantaran bagaimana mungkin ia dalam usianya yang masih belia itu dapat mencetuskan hikmah-hikmah kekal abadi yang tidak dapat dicetuskan oleh para ulama kenamaan seperti ini?
    Nasihat
    Banyak nasihat yang telah diriwayatkan dari Imam Al-Jawâd as. Di antaranya adalah berikut ini:
    “Menunda-nunda tobat adalah sebuah kesombongan, memper-panjang penangguhan adalah sebuah kebingungan, mencari-cari alasan terhadap Allah adalah sebuah kebinasaan, dan mengulangi perbuatan dosa adalah merasa aman diri dari makar Allah. ‘Tidak merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang merugi.’” (QS. Al-A‘râf [7]:99)
    Seseorang pernah berkata kepadanya: “Berwasiatlah kepadaku.” Imam Al-Jawâd as. berwasiat kepadanya dengan wasiat yang berharga seraya berkata: “Milikilah kesabaran, rangkullah kefakiran, enyahkanlah syahwat, tentanglah hawa nafsu, dan ketahuilah bahwa engkau tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah. Maka, lihatlah mau jadi apa engkau!”
    Imam Al-Jawâd as. pernah menulis sepucuk surat yang berisi nasihat yang sangat berharga kepada sebagian pengikut setianya. Di antara isi surat demikian: “Kita semua hanya akan mengambil seceduk air dari dunia ini. Akan tetapi, barang siapa yang ke-hendaknya mengikuti kehendak sahabatnya dan meniti jalan yang dititi olehnya, ia akan selalu bersamanya di mana pun ia berada. Dan akhirat adalah rumah keabadian.”
    Ini adalah sebagian nasihat Imam Al-Jawâd as. yang memuat ajakan untuk mengamalkan segala sesuatu yang dapat mendekatkan seseorang kepada Tuhannya dan menjauhkannya dari siksa-Nya. Nasihat-nasihat itu juga berisi larangan dari mengikuti sifat-sifat buruk yang terpendam dalam diri manusia, sebab sifat-sifat itu dapat mendorong kita terjungkal ke dalam jurang kebinasaan dan menjerumuskan kita ke dalam jurang kehinaan dan perbuatan dosa.
    Imam Al-Jawâd as. telah memberikan perhatian yang besar dalam menasihati dan memberikan petunjuk kepada masyarakat, sebagaimana hal ini juga pernah dilakukan oleh leluhurnyanya. Ini adalah salah satu realita paling cerlang yang dapat kita baca dalam sejarah hidup mereka.
    Al-Ma’mûn Memohon kepada Imam as.
    Al-Ma’mûn pernah memohon kepada Imam Al-Jawâd as. untuk menje-laskan masalah yang telah ditanyakan oleh Yahyâ bin Aktsam di atas. Ia mengabulkan permohonan tersebut seraya menjelaskan:

    “Jika orang yang berihram membunuh seekor binatang buruan di daerah halal dan binatang buruan itu termasuk jenis unggas yang besar, maka ia harus membayar satu kambing.
    Jika membunuhnya di daerah haram, ia harus membayar kafarah dua kali lipat.
    Jika membunuh anak burung di daerah halal, ia harus membayar kibasy yang sudah disapih dan tidak harus membayar harga anak burung itu, karena pembunuhan itu tidak terjadi di daerah haram.
    Jika membunuhnya di daerah haram, ia harus membayar kibasy dan harga anak burung itu.
    Jika binatang buruan itu termasuk bangsa binatang liar, maka ia harus membayar sapi apabila binatang yang telah dibunuh itu adalah keledai liar, dan jika binatang yang telah dibunuhnya itu adalah burung unta, maka ia harus membayar unta yang gemuk (badanah). Jika tidak mampu, ia harus memberi makan enam puluh orang miskin. Dan jika masih tidak mampu juga, ia harus berpuasa selama delapan belas hari.
     Jika binatang yang dibunuh itu adalah seekor sapi, ia harus membayar seekor sapi. Jika tidak mampu, ia harus memberi makan tiga puluh orang miskin. Dan jika tidak mampu juga, ia harus berpuasa selama sembilan hari.
    Jika binatang yang dibunuh itu adalah kijang, maka ia haru membayar seekor kambing. Jika ia tidak mampu, maka ia harus memberi makan sepuluh orang miskin, dan jika ia tidak mampu juga, maka ia harua berpuasa selama tiga hari.
    Jika ia membunuh binatang liar itu di daerah haram, ia harus membayar kafarah sebanyak dua kali lipat. ‘Sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka‘bah.’ Ia harus menyembelih binatang kafarah itu di Mina—di mana para jamaah yang lain menyembelih binatang kurban—jika membunuhnya ketika sedang melaksana-kan haji, dan jika ia membunuhnya pada saat melaksanakan umrah, ia harus menyembelihnya di Mekah di halaman Ka‘bah dan bersedekah seharga satu kambing.
    Jika ia membunuh seekor burung dara yang hidup di daerah haram, ia harus membayar 1 dirham lalu menyedekahkannya dan 1 dirham lagi untuk dibelikan makanan burung-burung dara haram tersebut. Jika membunuh anak burung dara, ia harus membayar setengah dirham, dan jika memecahkan telurnya, ia harus membayar seperempat dirham.
    Setiap tindakan (baca: kesalahan) yang dilakukan oleh orang yang sedang melaksanakan ihram karena ia tidak tahu hukum atau keliru, maka ia tidak wajib membayar kafarah apa pun, kecuali memburu binatang. Memburu binatang mewajibkan kafarah, baik hal itu dilakukan karena ia tidak tahu hukum atau tahu, karena keliru atau sengaja.
    Setiap kesalahan yang dilakukan oleh seorang budak, kafa-rahnya ditanggung oleh tuannya, dan kafarahnya sama dengan kafarah yang harus dibayar oleh tuannya.
    Jika seseorang menunjukkan keberadaan seekor binatang buruan sedangkan ia sedang melaksanakan ihram dan binatang buruan itu dibunuh, maka ia harus membayar kafarah.
    Orang yang mengulangi membunuh binatang buruan akan mendapatkan siksa di akhirat di samping kafarah yang harus ia bayar. Orang yang menyesali perbuatannya tidak akan memiliki tanggungan apa pun di akhirat setelah membayar kafarahnya.
    Jika ia membunuh binatang di malam hari karena keliru ketika binatang itu berada di sarangnya, ia tidak punya kewa-jiban apa pun, kecuali bila ia memburunya. Jika ia memburunya, baik di siang hari maupun di malam hari, ia harus membayar kafarah. Orang yang melakukan ihram untuk ibadah haji harus menyembelih binatang kafarahnya di Mekah ....

    Al-Ma’mûn mengeluarkan perintah supaya masalah ini ditulis. Setelah itu, ia menoleh ke arah Bani Abbâsiyah yang hadir seraya berkata: “Apakah ada di antara kalian semua yang bisa memberikan jawaban seperti ini?”
    Mereka menjawab: “Tidak, demi Allah. Dan tidak juga sang hakim.”
    Sebagian yang lain menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, Anda lebih tahu tentang masalah ini daripada kami.”
    Al-Ma’mûn menimpali: “Apakah kamu semua tidak tahu bahwa penghuni rumah ini tidak seperti makhluk yang lain? Sesungguhnya Rasulullah saw. telah membaiat Hasan dan Husain sedangkan mereka berdua masih kecil, dan ia tidak pernah membaiat selain mereka ketika ia masih kecil. Apakah kamu semua tidak tahu bahwa ayah mereka, Ali telah beriman kepada Rasulullah saw. sedangkan ia baru berusia sembilan tahun, lalu Allah dan Rasul-Nya menerima imannya, sedangkan ia tidak pernah menerima keimanan anak kecil selainnya dan tidak juga pernah memanggil anak kecil selainnya? Apakah kamu semua tidak tahu bahwa mereka adalah sebuah keturunan yang sebagian mereka berasal dari sebagian yang lain, dan akan mengalir kepada orang terakhir dari mereka apa yang pernah mengalir kepada orang pertama mereka?”
    Al-Ma’mûn percaya bahwa para imam Ahlul Bait as. memiliki posisi dan kedudukan tertinggi dalam agama Islam, serta yang masih kecil dan yang sudah besar dari mereka mempunyai keutamaan yang sama.
    Perlu kita ingat bersama bahwa ketika Imam Al-Jawâd as. berada di Baghdad, para ulama dan perawi selalu mengitarinya. Ia menyampaikan kuliah-kuliah yang sangat berharga kepada mereka dalam bidang Fiqih, Teologi, Filsafat, Tafsir Al-Qur’an, Ushul Fiqih, dan lain sebagainya. Pertemuan dan majelis ilmiah selalu heboh membicarakan kedalaman ilmu Imam as. yang pada saat itu masih muda. Para pengikut mazhab Syi‘ah meyakini bahwa Allah swt. telah menganugerahkan ilmu, hikmah, dan fashl al-khithâb kepada para imam Ahlul Bait as., dan memberikan keutamaan kepada mereka yang belum pernah diberikan kepada orang lain di dunia ini.
    Kami telah memaparkan keluasan ilmu pengetahuan, hikmah, dan tata krama Imam Al-Jawâd as. yang sampai kepada kita dalam buku kami yang berjudul Hayâh Al-Imam Muhammad Al-Jawâd as.
    Imam as. Dibunuh
    Imam Muhammad Al-Jawâd as. tidak meninggal dunia secara alamiah. Ia dibunuh dengan racun oleh Mu‘tashim Al-Abbâsî yang hatinya telah dipenuhi kebencian dan kedengkian kepadanya. Mu‘tashim marah besar ketika mendengar keutamaan dan ketinggian derajat Imam Al-Jawâd as. di dalam kalbu Muslimin. Kedengkian ini telah mendorong dirinya melakukan dosa besar itu.
    Ada faktor lain yang mendorong Mu‘tashim membunuh Imam Al-Jawâd as. ialah fitnah dan hasutan yang dilontarkan oleh Abu Dâwûd As-Sijistânî lantaran Mu‘tashim menyetujui pendapat Imam Al-Jawâd as. dan tidak menggubris pendapat para fuqaha yang lain dalam memecahkan sebuah masalah fiqih. Kejadiannya adalah sebagai berikut:
    Ada seorang pencuri yang mengaku telah mencuri sebuah barang. Mu‘tashim memerintahkan supaya ia disucikan dengan menjalankan had atasnya. Ia mengumpulkan seluruh fuqaha dan juga menghadirkan Imam Al-Jawâd as. Ia memaparkan masalah pencurian tersebut kepada mereka. Abu Dâwûd As-Sijistânî mengajukan pendapat dan berkata: “Tangannya harus dipotong dari bagian pergelangan tangan. Allah swt. Berfirman: ‘Maka, usaplah sebagian wajah dan tanganmu.’” (QS. An-Nisâ’ [4]:43)
    Sementara itu, sebagian fuqaha yang lain melontarkan pendapat dan mengatakan: “Tangannya harus dipotong dari bagian siku-siku. Dalilnya adalah firman Allah swt.: ‘... dan tanganmu hingga siku-siku.’” (QS. Al-Mâ’idah [5]:6)
    Mu‘tashim menoleh ke arah Imam Al-Jawâd as. seraya bertanya: “Hai Abu Ja‘far, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?”
    Imam Al-Jawâd as. menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, mereka telah melontarkan pendapat masing-masing tentang masalah ini.”
    Mu‘tashim menimpali: “Janganlah kau hiraukan pendapat mereka dalam masalah ini. Aku bersumpah demi Allah, katakanlah pendapatmu tentang masalah ini.”
    Imam Al-Jawâd as. menjawab: “Karena engkau telah bersumpah demi Allah, maka harus kukatakan bahwa mereka semua telah menen-tang sunah. Pemotongan tangan harus dimulai dari pangkal jari-jari dan telapak tangan harus disisakan.”
    “Mengapa harus demikian?” tanya Mu‘tashim pendek.
    Imam Al-Jawâd as. menjawab: “Karena sabda Rasulullah saw. yang menegaskan: ‘Sujud harus terlaksana dengan tujuh anggota: wajah, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua kaki.’ Oleh karena itu, jika tangan pencuri harus dipotong dari bagian pergelangan tangan atau siku-siku, maka ia tidak memiliki tangan yang dapat digunakan untuk bersujud. Dan Allah swt. Berfirman: ‘Sesungguhnya tempat-tempat sujud itu adalah milik Allah.’ (QS. Al-Jinn [72]:18) Yaitu, ketujuh anggota sujud yang harus digunakan untuk melaksanakan sujud. Dan segala sesuatu yang hanya dimiliki oleh Allah tidak boleh dipotong.”
    Mu‘tashim terheran-heran takjub atas fatwa dan argumentasi Imam Al-Jawâd as. ini. Lantas ia memerintahkan supaya tangan pencuri itu dipotong dari pangkal jari-jarinya, bukan pergelangan tangannya, dan tidak menggubris fatwa para fuqaha tersebut.
    Abu Dâwûd marah besar. Setelah tiga hari berlalu, ia beranjak untuk menjumpai Mu‘tashim. Ia berkata kepada Mu‘tashim: “Amirul Mukminin wajib memberikan nasihat kepadaku, sedangkan aku melontarkan sebuah ucapan yang dapat menjerumuskanku ke dalam api neraka ....”
    Mu‘tashim dengan sigap bertanya: “Ada apa ini?”
    Ia menjawab: “Amirul Mukminin telah mengumpulkan fuqaha rakyat dan ulama mereka untuk memutuskan sebuah perkara agama yang telah terjadi, dan menanyakan hukum perkara tersebut kepada mereka. Mereka pun telah mengeluarkan hukum perkara tersebut, sedangkan majelis pertemuan itu dihadiri oleh keluarga Amirul Mukminin, para petinggi negara, para menteri, dan para sekretaris Anda, serta rakyat juga mendengarkan itu semua dari balik pintu rumah Anda. Setelah itu, Anda tidak menggubris fatwa mereka gara-gara fatwa satu orang yang diyakini oleh segelintir masyarakat sebagai imam dan pemimpin, serta mereka mendakwa bahwa ia adalah orang yang lebih utama berkenaan dengan masalah ini. Kemudian, Amirul Mukminin menjalankan hukumnya dan meninggalkan hukum yang telah ditentukan oleh para fuqaha.”
    Warna kulit Mu‘tashim berubah seketika dan memahami ucapannya. Ia berkata kepadanya: “Semoga Allah membalas kebaikan bagimu atas nasihat ini.”
    Sang faqih yang merupakan salah seorang orator penasihat kerajaan ini mendorong Mu‘tashim untuk membunuh Imam Al-Jawâd as. Celakalah dia karena dosa besar yang telah dilakukannya ini. Dengan tindakannya itu, ia telah memiliki andil dalam membunuh salah seorang imam Ahlul Bait as. yang ketaatan kepada mereka telah diwajibkan oleh Allah swt. atas setiap Muslim.
    Para ahli sejarah berbeda pendapat berkenaan dengan orang yang diserahi tugas oleh Mu‘tashim untuk membunuh Imam Al-Jawâd as. Sebagian mereka berpendapat bahwa Mu‘tashim menyuruh sebagian sekretaris menterinya untuk melakukan tindakan ini. Sekretaris itu me-ngundang Imam as. untuk datang ke rumahnya demi memohon berkah atas kedatangannya ini. Imam as. menolak untuk datang. Akan tetapi, sang sekretaris tidak putus asa. Ia memohon sambil memelas-melas seraya berkata: “Salah seorang menteri ingin berjumpa dengan Anda di rumahnya.” Imam Al-Jawâd as. tidak memiliki alasan lagi untuk menolak permohonannya. Ia datang ke rumahnya. Ketika menyantap hidangan, ia merasakan dirinya teracuni. Ia meminta binatang tunggangannya dan keluar dari rumah menteri itu.
    Akan tetapi, ahli sejarah yang lain menegaskan bahwa Mu‘tashim mengiming-imingi uang melimpah kepada kemenakan perempuannya, istri Imam Al-Jawâd as. yang bernama Ummul Fadhl untuk membunuh-nya, dan ia pun sudi meracuninya.
    Ala kulli hal, racun itu bereaksi dalam tubuh Imam Al-Jawâd as. sehingga ia mengalami rasa sakit yang luar biasa. Racun itu memutus usus dan lambungnya. Penguasa dinasti Abbâsiyah memerintahkan Ahmad bin Isa untuk menjenguknya di waktu sahar demi mencari tahu tentang berita sakitnya itu. Kematian telah mendekati Imam Al-Jawâd dengan cepat, sedangkan ia masih berusia muda belia. Ketika merasa ajal telah dekat, ia mulai membaca beberapa surah Al-Qur’an hingga ia meng-hembuskan napas terakhir. Dengan kepergiannya ini, sebuah pelita imâmah dan kepemimpinan spiritual dunia Islam juga padam. Dengan kepergiannya ini, sebuah lembaran risalah Islami yang telah berhasil menerangi alam pemikiran dan mengangkat bendera ilmu pengetahun dan keutamaan di atas bumi pun sirna.
    Upacara Pemakaman
    Tubuh suci Imam Al-Jawâd as. telah dipersiapkan untuk dimakamkan. Sang putra; Imam Ali Al-Hâdî as. memandikan, mengafani, dan menya-latinya. Setelah itu, tubuh agung itu dipikul dengan arakan yang maha dahsyat untuk dibawa menuju pekuburan kaum Quraisy. Masyarakat luas ikut mengantarkan jenazahnya dan di barisan depan berjalan para menteri, sekretaris kerajaan, dan seluruh keluarga besar Bani Abbâsiyah, serta tak ketinggalan pula keturunan Ali as. dengan mengenang kerugian besar yang telah menimpa dunia Islam dengan penuh kesedihan.
    Tubuh suci Imam Al-Jawâd as. itu dibawa ke pekuburan kaum Qu-raisy dan dimakamkan di dekat makam kakeknya, Imam Mûsâ bin Ja‘far as. Dengan ini pula mereka telah menguburkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan suri teladan yang agung.
    Usia Imam Al-Jawâd
    Imam Al-Jawâd as. hanya berusia dua puluh lima tahun. Ia adalah imam Ahlul Bait as. yang paling muda. Dalam usianya yang pendek ini, ia telah berhasil menyebarkan ilmu pengetahuan, keutamaan, dan keimanan di tengah masyarakat luas.[]