ArticleID PicAddress Subject Date
{ArticleID}
{Header}
{Subject}

{Comment}

 {StringDate}
 
 
 
 
 
 
 
ViewArticlePage
 
 
 
  • Kepeloporan Syi’ahdalam Ilmu Ma’ani, Bayan, Fashahah dan Balaghah  
  • Sendtofriend
  •  
  •  
  • Kepeloporan Syi’ah
    dalam Ilmu Ma’ani, Bayan, Fashahah dan Balaghah

     

    Pasal Pertama
    Tentang Orang Pertama yang Meletakkan
    Ilmu Ma’ani dan Bayan 
    Ia adalah Imam Al-Marzabani Abu Abdillah Muhammad ibn ‘Imran ibn Musa ibn Said ibn Abdullah Al-Marzabani Al-Khurasani Al-Baghdadi. Ia mengarang sebuah kitab yang berjudul Al-Mufashshal fi Ilmil Bayan wal Fashahah. Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest mengatakan: “Kitab itu setebal kurang lebih 300 halaman.” Al-Jahidz As-Suyuthi berkata: “Orang pertama yang mengarang kitab di bidang ilmu Bayan dan Fashahah ialah Abul Qohir Al-Jurjani.”
    Namun, seperti yang telah Anda ketahui, bahwa Abu Abdillah Al-Marzabani wafat pada tahun 378 H., sedangkan tahun wafat Al-Jurjani jatuh pada 444 H. Dan Al-Yafi’ie  telah mencatat dalam Ta’rikh-nya, yaitu tatkala dia membawakan riwayat hidup Al-Marzabani, bahwa dia belajar ilmu-ilmu sastra Arab pada Ibnu Duraid dan Ibnu Al-Anbari. Al-Yafi’ie berkata: “Abu Abdillah Al-Mazandarani mengarang banyak kitab yang masyhur, ensiklopedia yang langka dan periwa-yatan sastra Arab. Ia juga termasuk perawi hadis yang tsiqoh, bermazhab Syiah, syairnya sedikit tapi indah.” Lalu, Al-Yafi’ie menukil beberapa fragmen syair Al-Marzabani.
    Di samping itu, Ibnu Khalkan juga mengulas ihwal Al-Marzabani yang mirip dengan apa yang dicatat oleh Al-Yafi’ie. Ia bahkan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya, dan menghormatinya dengan gelar ‘Al-‘Allamah’ di dalam Kasyful Dzunun, yaitu tatkala ia menyinggung transkripsi Al-Marzabani atas teori-teori para mutakallim. Dan saya telah membawakan riwayat hidupnya secara detail dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam. Di sana, saya mendata semua daftar karya-karyanya. Saya juga menulis hari kelahirannya jatuh pada bulan Jumadil Akhir 297 H., dan wafat pada hari Jumat, 2 Syawal 384 atau 387 H. di bagian timur Baghdad. Jenazahnya dishalati oleh Syeikh Abu Bakar Al-Kharazmi ra.
    Bahkan, terdapat sejumlah pakar bahasa lain dari Syi’ah yang mendahului Abdul Qohir dalam penyusunan ilmu Bayan. Di antara mereka ialah Muhammad ibn Ahmad Al-Wazir ibn Muhammad Al-Wazir Abu Sa’id Al-‘Amidi yang wafat pada tahun 423 H. Ia mengarang Tanqihul Balaghah seperti yang tercatat dalam Kasyfu Dzunun.
    Begitu pula, Muntajabuddin Ibnu Babaweih menyebutkan ihwal dirinya dalam kitab Asma’ Mushannifin minal Syi’ah Imamiyyah. Yaqut berkata: “Muhammad adalah seorang pakar Nahwu, sastrawan dan menulis banyak karya. Ia tinggal di Mesir dan mengetuai majelis seni karang, lalu dipecat, lalu mengelola kembali majelis tersebut dan menulis kitab Tanqihul Balaghah, kitab Al-‘Arudh wal Qowafie dan lain-lain. Ia wafat pada hari Jumat, 5 Jumadil Akhir 433 H.” Yang tepat, tahun wafatnya adalah apa yang telah saya sebutkan.

    Pasal Kedua
    Tentang Sebagian Karya yang Disusun
    oleh Kaum Syiah Berkenaan dengan Ilmu Ma’anie
    dan Bayan Setelah Peletakkannya
    Seperti kitab Tajridul Balaghah karya Al-Muhaqqiq Al-Bahrani Maytsam ibn Ali ibn Maytsam yang hidup sejaman dengan As-Sakkaki pengarang kitab Al-Miftah. Nama ini telah saya bahas pada topik kaum mutakalim Syi’ah.
    Lalu kitab syarah atas Tajridul Balaghah yang berjudul Tajwidul Bara’ah fi sarh Tajridul Balaghah. Kitab ini dikarang oleh Al-Fadhil As-Sayuri Al-Miqdad ibn Abdullah. Ia adalah seorang ulama besar Syi’ah.
    Lalu syarah atas Al-Miftah, karya Syeikh Hussamuddin Al-Muadzdzini. Ia menuntaskan penulisan syarah tersebut pada tahun 742 H. di kota Jurjan (Khorazm-Iran). Kitab ini telah disebutkan dalam Kashfudz Dzunun, tetapi tidak dijelaskan masa penulisannya, karena riwayat hidup penulisnya tidak diuraikan kecuali dalam kitab-kitab ulama Syi’ah.
    Lalu, kitab Syarah Al-Miftah karya Syeikh ‘Imaduddin Yahya ibn Ahmad Al-Kasyi. Dalam Riyadhul ‘Ulama’ dikatakan: “’Imaduddin adalah ulama Syi’ah yang menghimpun pelbagai cabang ilmu. dirinya juga disinggung oleh sebagian murid Syeikh Ali Al-Karaki dalam risalahnya yang terkenal itu, yaitu tatkala ia membahas nama guru-guru besar Syi’ah. Namun, aku tidak tahu pasti riwayat hidupnya.” Pengarang Tadzkirotul Mujtahidin memberikan kesaksiannya atas kesyi’ahan ‘Imaduddin. Kendati menyinggung Syarah Al-Miftah itu, tetapi pengarang ini tidak mengulas hidupnya. Demikian juga yang dilakukan oleh penulis Kasyful Dzunun.
    Lalu, kitab Syarah Al-Miftah karya Syeikh Imam Allamah, Malikul Ulama wal Muhaqqiqin, Quthbul Millah wal al-Din, Muhammad ibn Muhammad Ar-Razi Abu Ja’far Al-Buweihi; salah seorang anak Ibnu Babaweih Al-Qummi, sebagaimana dalam keterangan Riyadhul ‘Ulama’, dan ditegaskan kitab syarah ini di dalam Amalul Amil. Saya telah membawakan riwayat hidupnya secara lengkap di dalam  Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam. Muhammad Ar-Razi Al-Buweihi wafat pada tahun 766 H.

    Pasal Ketiga
    Seputar Ilmu Badi’e
    Ketahuilah bahwa orang pertama yang membuka pintu ilmu ini ialah Ibnu Heram Ibrahim ibn Ali ibn Salmah ibn Mermah; seorang penyair Ahlul Bait a.s. Di dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah membawakan riwayat hidupnya.
    Selain itu, orang pertama yang mengarang kitab tentang ilmu Badi’e ialah dua tokoh besar yang hidup sezaman, yaitu Qudamah ibn Ja’far Al-Katib dan Abdullah ibn Al-Mu’tazz. Sejauh ini, tidak dijumpai orang lain yang mendahului upaya kepeloporan mereka berdua di bidang ini.
    Dalam pengantar atas syarah Al-Badi’iyyah, Shofiyyuddin Al-Hilli mengatakan: “Di antara semua yang disusun oleh Al-Mu’tazz terdapat tujuh belas bab. Tokoh semasanya ialah seorang sekretaris bernama Qudamah ibn Ja’far. Qudamah berhasil menyusun dua puluh bab; tujuh bab di antaranya sama dengan yang disusun oleh Al-Mu’tazz. Oleh karena itu, pertambahan beberapa bab yang berbeda di antara mereka mencapai tiga belas bab. Jadi, secara total, semua bab yang disusun oleh mereka berdua berjumlah tiga puluh. Setelah itu, tokoh-tokoh yang lain mengikuti mereka dalam upaya penyusunan kitab Al-Badi’e.”
    Qudamah ibn Ja’far adalah seorang syi’ah. Ia memiliki sebuah karya berjudul Naqdusy Syi’r, yang lebih dikenal juga dengan nama Naqd Qudamah. Adapun mengenai karangan Al-Mu’tazz, saya belum meneliti selain keawalannya dalam meletakkan nama Al-Badi’e atas ilmu ini. Saya juga telah memeriksa tulisannya di pengantar kitabnya, bahwa tidak seorang pun sebelumku (Al-Mu’tazz) yang menghimpun cabang-cabang ilmu sastra Arab, tidak pula seorang pun selainku yang mengarang di bidang ilmu Badi’e. Namun sejauh yang diperintahkan oleh Allah swt. untuk memeriksa setiap data dan berita, saya tidak melihat tanda kebenaran pada berita ini.[]

     


    Bab Kedua Belas

    Kepeloporan Syi’ah dalam
    Ilmu ‘Arudh

     


    Pasal Pertama
    Tentang Orang Pertama yang Meletakkan
    Ilmu ‘Arudh
    Ia adalah Al-Khalil ibn Ahmad yang telah dibahas sebelum ini pada bab ilmu bahasa Arab. Tidak ada seorang pun yang mendebat bahwa Al-Khalil adalah orang pertama yang menyimpulkan ‘Arudh dan meletakkan syair-syair Arab ke dalam kerangkanya, sehingga ia dikenal dengan nama ‘Arudhie. Seandainya kita hendak membawakan kesaksian tokoh-tokoh atas fakta ini, tentu akan menyita banyak waktu kita di pasal ini. Di dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah menukil sekelumit kesaksian tersebut.
    Di dalam Ash-Shahibi, Ibnu Faris secara tegas mengklaim bahwa sesungguhnya ilmu ‘Arudh telah ada sejak dahulu, hanya saja waktu datang silih berganti sehingga menjadi langka dan asing di tengah orang Arab. Ketika itulah Al-Khalil hadir dan memperbaharui ilmu tersebut. Ibnu Faris mendasarkan keterangannya ini pada perkataan Al-Walid ibn Al-Mughirah tentang Al-Quran: “Aku telah membacakan apa yang dibaca oleh Muhammad untuk dibandingkan dan dinilai segenap segi-seginya dengan komposisi-komposisi syair Arab, namun aku tidak mendapatkan sesuatu pun yang menyamainya. Bahkan, tidak ada ucapan dari tradisi Arab terdahulu yang mendukungnya, tidak pula laporan sejarah atau kesimpulan yang benar.”
    Keterangan Ibnu Faris di atas ini hanyalah dugaan dan perkiraan yang hanya dia yang mengatakannya. Maka itu, ia tidak ada nilai validitasnya bagi para ahli sejarah dan tradisi. Adapun Al-Walid adalah orang yang―berdasarkan karakter dan talenta puitiknya―hanya dikenal sebagai ahli rima syair Arab. Sebagaimana ia juga mengetahui bahasa secara baik. Namun, ini tidaklah sama dengan bagian dan macam yang dirumuskan oleh Al-Khalil Al-Farahidi ke dalam lima balok dan menguraikannya hingga lima belas matra.
    Hamzah ibn Al-Hasan Al-Ishfahani di dalam At-Tanbih mengatakan: “Dengan demikian, sesungguhnya negeri Islam tidak melahirkan orang yang lebih awal menciptakan cabang-cabang ilmu yang sebelumnya tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh Arab kecuali Al-Khalil. Tidak ada pula dalil  yang lebih kuat dan lebih jelas atas hal ini selain keberadaan ‘Arudh; ilmu yang oleh Al-Khalil tidak dirumuskan dari seorang bijak pun dan tidak dikembangkan dari sebuah gagasan yang sudah ada sebelumnya.”
    Kesaksian di atas ini juga telah saya nukil dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam.
    Abul Faraj Muhammad ibn Ishaq ibn Abu Ya’qub An-Nadim, tatkala membahas nama Al-Khalil, mengatakan: “Ia adalah orang pertama yang membidani ilmu ‘Arudh dan meletakkan batasan-batasan kaidah pada syair-syair Arab.” Begitu pula Ibnu Qutaibah menuturkan: “Al-Khalil adalah pencipta ilmu ‘Arudh.”
    Abu Bakar Az-Zubaidi dalam pembukaan kitab Istidrokul Ghalath berkata: “Al-Khalil ibn Ahmad adalah tokoh utama di jamannya dan pemecah sejarah, pemuka umat, guru besar para ahli, tidak dijumpai tandingannya, tidak dikenal padanannya di dunia. Ia mengarang kitab tentang sesuatu yang benar-benar baru, yaitu kitab Al-Farsy wal Mitsal fil ‘Arudh. Di dalamnya, ia merumuskan semua matra-matra syair dan membentuknya ke dalam kerangka rumusan layaknya sebuah kitab, lalu melengkapinya dengan model dan bentuk yang melumpuhkan daya pikir, membekukan daya kreasi, dan menggetarkan jantung.”
    Abdul Wahid dalam Maratib An-Nahwiyyin mengatakan: “Al-Khalil menggagas Badi’e; sebuah disiplin ilmu belum dijumpai sebelumnya. Ia juga menciptakan ilmu ‘Arudh dan menurunkan ke dunia sastra Arab sejumlah model syair yang bukan dari model matra-matra syair Arab.”
    Tatkala membawakan riwayat hidupnya, Ibnu Khalkan membubuhkan: “Dialah yang membongkar ilmu ‘Arudh dan mengangkatnya ke permukaan dunia.” Begitu pula Allamah Jamaluddin Al-Hasan ibn Yusuf ibn Al-Muthahhar Al-Hilli dalam Al-Khulashoh menyatakan: “Al-Khalil ibn Ahmad orang paling disegani di dunia sastra. Statemennya adalah bukti. Dialah pencipta ilmu ‘Arudh. Kepandaiannya mengungguli popularitasnya. Al-Khalil adalah mazhab Syi’ah Imamiyah.”
    Seandainya saya berminat untuk menukil pernyataan dan kesaksian atas kedudukan tinggi Al-Khalil ibn Ahmad dari tokoh-tokoh besar sastra Arab, sudah barang tentu akan memakan banyak waktu dan lembaran kitab ini. Saya kita  apa yang telah saya bawakan di atas tadi cukup memadai kapasitas pembahasan di pasal ini.

    Pasal Kedua
    Tentang Orang Pertama yang Mengarang
    Kitab di Bidang ‘Arudh Pasca Al-Khalil
    Ketahuilah bahwasanya dia adalah Abu Utsman Al-Mazani Bakr ibn Habib; seorang tokoh besar Nahwu yang wafat pada 248 H. Abu Utsman adalah  salah satu budak Ismail ibn Maytsam; imam kaum mutakallim Syi’ah sebagaimana yang dilaporkan oleh Abul Abbas Al-Mubarrad. Di dalam Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah, Abul Abbas An-Najasyi berkata: “Abu Utsman Al-Mazani adalah tokoh utama di atas para ahli Nahwu, bahasa dan sastra Arab di kota Basrah. Ihwal kepeloporannya di cabang-cabang ilmu ini sudah sangat masyhur.”
    Hal senada juga disampaikan oleh Jamaluddin ibn Al-Muthahhar Al-Hilli dalam Al-Khulashoh, dan ia menegaskan bahwa Abu Utsman Al-Mazani bermazhab Syi’ah Imamiyah. As-Suyuthi dalam kitab Ath-Thabaqot mengatakan: “Ia adalah imam dalam bahasa Arab, berwawasan luas dalam riwayat hadis. Ia percaya pada mazhab Murji’ah dan tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali ia taklukkan lantaran kekuatannya dalam berbicara. Suatu hari, ia pernah berdebat dengan Al-Afkhasy dan membuatnya terdesak hingga tak lagi berkutik.” Abul Abbas Al-Mubarrad berkata: “Setelah Sibaweih, tidak ada orang yang lebih pandai dalam ilmu Nahwu dari Abu Utsman Al-Mazani.”
    Abu Utsman Al-Mazani menulis beberapa kitab, seperti Fil Quran, ‘Ilal An-Nahw, Tafasir Kitab Sibaweih, Ma Yalhanu Fihil ‘Ammah, Al-Alif wa Al-Lam, At-Tashrif, Al-‘Arudh, Al-Qowafie, dan Ad-Dibaj. Semua judul kitab-kitab ini dibenarkan oleh Ibnu Nadim, As-Suyuthi, Al-Himawi dan tokoh-tokoh lainnya. Kitab terakhir ini, yakni Ad-Dibaj, adalah kitab besar Abu Utsman, sebagaimana yang juga dicatat oleh pengarang kitab Kasyful Dzunun.
    Pasal Ketiga
    Tentang Kitab ‘Arudh yang Dikarang oleh Kaum Syi’ah
    Terdapat karya-karya selain judul-judul di atas tadi yang dikarang oleh orang-orang Syi’ah. Di antaranya kitab Al-Iqna’e fil ‘Arudh; karya Kafil Kufat Ash-Shohib ibn ‘Imad yang telah kita bahas sebelum ini.
    Lalu, kitab Shan’atusy Syi’r fil ‘Arudh wal Qowafie; karya Al-Husein ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad ibn Al-Husein Ar-Rafi’ie yang terkenal dengan julukan Al-Khali’e (Sang Pemecat). Ia wafat pada pertengahan abad keempat. Di dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, riwayat hidupnya dibawakan secara terinci. Di sini, dapat dipastikan bahwa Al-Husein ibn Muhammad Ar-Rafi’ie adalah seorang penganut Syi’ah Imamiyah.
    Lalu, kitab ‘Ayarusy Syi’r, kitab Tahdzibuth Thab’e, kitab Al-‘Arudh. Semua kitab ini karya Syarif Abul Hasan Muham-mad ibn Ahmad Ath-Thabathabai Al-Ishfahani sebagaimana yang dinyatakan dalam Nasamatus Sahar pada tema “Orang yang Bermazhab Syi’ah dan Bersyair.” Ia lahir pada tahun 322 H. Pengarang kitab Ma’ahid At-Tanshish menyebutkan data ini lalu memujinya. Ia menyebutkan judul kitab terakhir Syarif Abul Hasan itu, Al-‘Arudh, dan mengenangnya: “Itulah kitab yang tidak ditemukan padanannya.” Syarif Abul Hasan juga pencipta beberapa bait syair yang masyhur itu:
    Duhai dia yang melukiskan
    Bagai embun begitu lembut
    Sedang hatinya keras selaksa batu
    Ah! Andai nasibku busana pada tubuhmu
    Wahai satu dari bangsa manusia
    Akankah kalian dikejutkan
    Orang yang melepas baju tidur
    Saat ia tlah kaitkan
    Butir-butir kancingnya pada rembulan
    Lalu, kitab Al-‘Arudh wal Qowafie; karangan Muhammad ibn Ahmad Al-Wazir sebagaima telah dibahas sebelum ini.
    Lalu, kitab Al-Kafie fi Ilmil ‘Arudh wal Qowafie dan kitab Nadzmul ‘Arudh; karangan Sayyid Abu Ridha  Fadhlullah Ar-Rawandi ra. yang hidup pada tahun 548 H. Riwayat hidupnya dibawakan secara indah di dalam Ad-Darojat Ar-Rofi’ah fith Tabaqot Asy-Syi’ah.
    Lalu, sebuah risalah Ar-‘Arudh wal-Qowafie; karangan Al-Hakim Al-Anwari, seorang penyair yang wafat pada masa-masa keruntuhan dinasti Abbasiyah.
    Lalu, kitab Al-‘Arudh; karya Raja Para Tokoh Nahwu. Ia juga pengarang Al-‘Umdah fin Nahw sebagaimana disebutkan dalam Kasyful Dzunun. Masih dalam kitab ini, ia dinyatakan sebagai orang syi’ah. Akan tiba keterangan lebih rinci ihwal dirinya pada pembahasan ‘Tokoh-tokoh Besar Ilmu Nahwu’, Insyaallah!
    Lalu, kitab Al-Iklil At-Tajie fil ‘Arudh, Qurratu ‘Ainul Khalil fi syarh An-Nadzm Al-Jalil li ibn Hajib, dan kitab Syarh Qoshidah Shadruddin As-Sawi fil ‘Arudh. Semua kitab ini karya Syeikh Taqiyyuddin Al-Hasan ibn Ali ibn Dawud Al-Hilli, penulis kitab Ar-Rijal. Ia terkenal dengan nama Ibnu Dawud, murid Sayyid Ibnu Thawus yang telah diulas dalam pembahasan  mengenai ulama-ulama ilmu “Al-Jarh wat Ta’dil”.[]

     


    Bab Ketiga Belas

    Kepeloporan Syi'ah dalam
    Bidang-bidang Seni Puisi
    di Dunia Islam

     


    Ketahuilah! Sesungguhnya merekalah orang-orang pertama yang bersinggungan dengan pelbagai subjek yang kemudian disambut dan dianut oleh para penyair. Maka, orang pertama di antara mereka yang bersemi di dada-dada kaum Muslimin adalah Al-Farazdaq. Al-Jarir mengatakan: “Sumber inspirasi syair berasal dari lisannya.” Yakni, dialah penyair terpandai di dunia Islam. Namun, orang Syi'ah yang men-dahuluui Al-Farazdaq ialah Al-Ja'die yang menggubah peristiwa perang Shiffin demikian indahnya:
    Sungguh tlah mengenal dua kota dan Irak
    Bahwa Ali-lah pahlawan utama dan pembebas
    Lebih mulia dari pengelana dunia
    Mereka menghampirimu tanpa sadar
    Mereka melesat dan kau pun melesat
    Kau tlah menempuh jalan kebenaran
    Mereka tempuh tanah yang tak berakar
    Selain Al-Ja'die adalah Ka'ab ibn Zuhair, penyair bait yang terkenal dengan nama Banat Su'adu, di antaranya:
    Menantu Nabi adalah sebaik-baiknya manusia
    Setiap orang bangga dengan membanggakannya
    Dialah pertama yang shalat bersama Nabi yang ummi
    Sebelum hamba-hamba dan Tuhan manusia dikafirkan
    Lalu, Lubaid ibn Rabi'ah Al-'Amirie, sebagaimana tersebut di dalam Riyadhul 'Ulama' fi Syu'ara Syi'ah, dan Abu Thufail 'Amir ibn Wailah, seorang sahabat Nabi saw. dan penyair ternama. Abul Faraj Ishfahani berkata: “Abu Thufail adalah salah satu tokoh Syi'ah.”
    Termasuk di antara mereka ialah Abul Aswad Ad-Duali. Ibnu Bethriq dalam Al-'Umdah mengatakan: “Ia adalah salah seorang alim yang amat fasih bertutur bahasa dari generasi pertama penyair Syi'ah. Abul Aswad adalah pengikut setia Ali ibn Abi Thalib a.s.”
    Namun, tidak ada nama yang lebih tersohor pada abad kedua dari Al-Hasan Abu Nawas lalu Abu Tamam Habib dan Al-Buhturi. Pada masa itu, dua orang terakhir ini telah  menaklukkan lima ratus penyair hebat, sebagaimana dicatat dalam Al-'Umdah karya Ibnu Rasyiq. Sampai-sampai seorang penyair berkata:
    Bila kau penunggang kuda
    Jadilah sehebat Ali
    Bila kau penyair
    Jadilah sepandai Ibnu Hani
    Dan orang pertama yang syairnya dikenal dengan nama silsilah dzahab (untaian emas) ialah Al-Buhturi. Lalu, orang pertama yang syairnya dikenal dengan nama shaiqolul ma'ani (sepuhan mutiara makna) ialah Abu Tamam. Ia pula yang menyusun perbab-bab kumpulan pilihan dari bait-bait syair bangsa Arab hingga mencapai delapan bab. Bab pertama adalah hamasah (kepahlawanan). Popularitas mereka berdua diikuti oleh Ibnu Rumi. Alhasil, mereka semua adalah orang-orang Syi'ah. Riwayat hidup mereka terdapat dalam Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam.
    Dan di antara para penyair termasyhur dari Syiah yang seangkatan dengan Abu Nawas ialah Abu Syaish, Al-Hasan ibn Dhahhak Al-Khali'e, Da'bal Al-Khuza'ie, dan penyair yang lain. Adapun penyair Syi'ah yang seangkatan dengan Habib dan Al-Buhturi ialah Diek Al-Jinn. Ia penyair dari warga Syam. Suatu saat, rumahnya pernah dihampiri oleh Da'bal Al-Khuza'ie. Maka, ia pun menghindar dan menyembunyikan diri lantaran takut dari isyaratnya yang tajam dan sindiran yang mengigit. Segera Da'bal berkata: “Gerangan apakah Diek bersembunyi sedangkan ia lebih cakap bersyair dari bangsa jin dan manusia. Bukankah dia sendiri yang pernah mengatakan:
    “Berkatnya tak kan menderita pulihkanlah keledainya
    Sandingkan daranya dengan petang kerentaan
    Dan bencilah konvoi begitu besar jikalau kusebut
    Kan gemetar dua penjaga neraka dari baranya”
    Segera Diek pun muncul ke hadapannya seraya memohon maaf Da'bal dan menyambut kedatangannya dengan sebaik-baiknya pelayanan.
    Perlu diketahui bahwa Diek dan Da’bal termasuk penyair yang tidak memanfaatkan talenta puitisnya untuk berusaha mendekati satu pun dari khalifah, penguasa, atau siapapun saja. Sungguh mereka berdua telah meraih kemuliaan diri di antara para penyair sekelasnya.
    Semua nama penyair yang baru saja disebutkan di atas ini adalah orang-orang Muslim pertama yang menggagas dan merumuskan ilmu Ma'ani. Ibnu Rasyiq berkata: “Gagasan dan rumusan yang paling banyak membentuk ilmu Ma'ani ialah bait-bait syair indah yang dirangkai oleh sang brilian Abu Tammam dan Ibnu Rumi.”
    Perlu saya tegaskan bahwa Abu Tammam adalah sang penyepuh ilmu Ma'ani, sementara Ibnu Rumi adalah ilmu Ma'ani itu sendiri yang belum didahului oleh selainnya; menyelami kedalaman makna-makna lembut yang langka, menggali dan mengeluarkannya dari muatan khazanahnya lalu mengemasnya ke dalam bentuk yang begitu indah. Ibnu Rumi tidak pernah meninggalkan sebuah makna sampai ia mencermatinya secara seksama dan teliti. Maka itu, dalam seni Ma'ani, ia tidak lagi menyisihkan popularitas untuk selainnya, yakni dalam menempatkan makna sebuah kata dan kalimat. Ibnu Rumi lahir di Baghdad pada tahun 221 H. dan wafat pada 283 H.
    Selain mereka adalah Kumait ibn Ziyad Al-Mudhirri Al-Asadi. Ibnu Ikrimah Adh-Dhobiy mengatakan: “Seandainya tidak ada syair Kumait, sungguh tak ada penjabar bagi ilmu tata bahasa, dan tak akan ada lisan bagi ilmu Bayan.” Tatkala Abu Muslim ditanya ihwal Kumait, mengatakan: “Ia paling pandai di antara para penyair yang terdahulu dan yang akan datang.” Pada hemat saya, dalam kitab Al-'Ayan yang baru saja dicetak di Mesir, terdapat banyak nukilan-nukilan yang melampaui penilaian-penilaian semacam ini.
    Adapun orang yang memperpanjang syair sanjungan banyak sekali. Ibnu Rasyiq berkata: “Ibnu Abi Ishaq, pakar pendahulu yang masyhur, ulama yang jeli dan teliti itu, mengatakan bahwa begitu banyaknya penyair pandai di era Jahiliyyah dan di antara kaum Muslimin.”  Lalu Ibnu Rasyiq menambahkan: “Pendapat ini berlebihan dalam menyatakan yang sebenarnya. Namun demikian, mereka semua sepakat bahwa Ibnu Abi Ishaqlah orang pertama yang memperpan-jang syair sanjungan.” Saya katakan bahwa dengan keterangan di atas, jelaslah keterdahuluan Syi'ah dalam hal ini.
    Adapun orang pertama yang memperbanyak syair dalam satu makna ialah Sayyid Al-Humairi. Ibnu Mu'tazz di dalam At-Tadzkirah mengatakan: “Sayyid Mu'tazz memiliki empat anak perempuan. Setiap dari mereka menghafal empat ratus bait qosidah ayah mereka. Ia sendiri mengarang frasa-frasa acapkali mendengar keutamaan Ali a.s., persis dengan frasa sebuah hadis, dan setiap qosidahnya dirangkai secara terurai panjang. Sayyid Mu’tazz adalah seorang yang secara terbuka menunjukkan kesyi’ahannya, padahal kedua orang tuanya bukan penganut Syi'ah. Mereka berasal dari daerah Humair-Syam. Ia pernah mengatakan: ‘Rahmat ilahi telah tercurah-kan ke atasku sehingga aku menjadi seolah mukmin keluarga Fir'aun.” Sayyid Mu'tazz wafat pada tahun 173, atau 193, atau 199 H.
    Perlu dicatat bahwa mereka yang telah merangkum syair ke dalam satu makna yang mengandung pujian kepada Ahlul Bait a.s. dan menyusun bait-bait keutamaan mereka adalah sekelompok kaum Syi'ah dari para penyair dan ahli hadis terdahulu. Nama-nama mereka telah kami bawakan dalam Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam. Di antaranya adalah seorang yang fenomenal di masanya dalam menciptakan seni puisi komedik, seperti Ibnul Hajjaj Al-Husein ibn Ahmad Al-Katib dari warga Baghdad. Tidak ada seorang pun yang mendahuluinya dalam mengagas seni ini dengan segenap keindahan kata dan keutuhan syairnya dari pemaksaan. Kumpulan syairnya sebanyak sepuluh jilid, lalu Sayyid Syarif Radhi menarik beberapa pilihan darinya ke dalam sebuah kitab yang berjudul Al-Hasan min Syi'ril Husein, kemudian disusun secara apik oleh penyair tersohor Badi’ul Usthurlabi Hibatullah ibn Hasan menjadi 141 bab, lalu setiap babnya diletakkan sebagai satu seni syair. Ia menamainya dengan judul Durratut Taj fi Syi'ri Ibnul Hajjaj. Ibnu Hajjaj wafat pada tahun 391 H. dan dimakamkan di sekitar pusara Imam Musa Al-Kadzim a.s. sedangkan Badi’ul Usthurlabi wafat pada tahun 434 H.
    Dan orang pertama yang mencipta seni puisi terzarima ialah penyair ternama Shofiyyuddin Al-Hilli yang wafat pada 750 H. Belum ada penyair sebelumnya yang melakukan ini. Ia telah menghimpun syair-syairnya ke dalam tiga jilid yang semuanya terhitung sempurna dan indah.
    Dan orang pertama yang begitu produktif dan kreatif dalam merangkai syair ialah Syarif Ar-Radhi; saudara Al-Murtadha. Dia orang pertama yang dijuluki sebagai penyair terulung dari Quraisy dan penyair terpandai dari Bani Thalib. Tidak satu pun dari nama penyair terdahulu atau terakhir yang disandingkan dengan namanya.
    Salah satu murid terbaik Syarif Ar-Radhi ialah budaknya yang bernama Mehyar Ad-Dailami. Ia termasuk penyair yang langka di jamannya. Kumpulan syairnya setebal empat jilid, berisikan bait-bait yang indah dan tiada taranya. Mehyar mempunyai seorang anak laki-laki yang setingkat dengan kepandaiannya. Riwayat hidupnya diulas dalam Dimyatul Qoshr. Anak Mehyar ini dikenal sebagai pemilik bait-bait Al-Haiyyah, di antaranya:
    Hai desir angin pagi dari Kadzimiyah
    Alangkah keras mengecam udara dan siksa
    Nama lengkap anak Mehyar ialah Abu Abdillah Al-Husein ibn Mehyar ibn Marzaweih Al-Kisrawi. Sang ayah, Mehyar, wafat pada tahun 428 H.
    Di antara mereka semua terdapat penyair yang mendapat kesaksian Al-Mutanabbi atas kepeloporan dan kehebatannya, dimana Al-Mutanabbi sering memihaknya dan segan untuk tampil menantangnya dan beradu syair dengannya. Dialah Abu Nawas Al-Harts ibn Hamdan. Tidak satu nama pun dari penyair akan disejajarkan dengan nama Abu Nawas kecuali Abu Thayyib seorang. Dan telah dibawakan kesaksian Abu Thayyib atas kepandaian Abu Nawas, sebagaimana yang dicatat oleh Ats-Tsa'alibi dalam kitab Al-Yatimah, di mana ia meriwayatkan dari Ash-Shohib ibn 'Ibad yang mengatakan: “Pembuka syair dengan kerajaan dan penutup syair juga dengan kerajaan adalah Amrul Qois dan Abu Nawas yang wafat pada 320 H.”
    Dan di antara mereka ialah penyair dari Maroko yang disegani oleh semua ulama secara mutlak. Ia bernama Abul Qosim Muhammad ibn Hani Al-Andalusi Al-Maghribi, dari  mazhab Syi'ah Imamiyah yang wafat pada tahun 362 H. Ibnu Khalkan mengatakan: “Tidak satu pun dari penyair Maroko terdahulu dan terakhir yang setinggi kelasnya. Dialah penyair terpandai secara mutlak di antara mereka. Bagi orang Barat, ia seperti Al-Mutanabbi di dunia Timur. Kedua-duanya hidup pada satu masa.”
    Di antara mereka ialah penyair yang berjuluk Kusyajim; diserap dari empat kata seorang sekretaris, penyair, teolog, astrolog, sang handal di pelbagai bidang ilmu, sebagaimana ia pun mulia dari pelbagai sifat dan perangai, tak ada duanya di masanya. Dia bernama Abul Fath/Abul Futuh, Mahmud/Mu-hammad ibn Al-Hasan/Al-Husein ibn As-Sundi ibn Syahik/q, pengarang kitab Al-Mashoid wal Mathorid minal Syi'ah. Rasyi-duddin di dalam Ma'alimul 'Ulama' memasukkan Kusyajim ke dalam daftar penyair Ahlul Bait a.s. Dialah sosok nyata dari firman Allah swt.: "Mengeluarkan yang hidup dari yang mati", sebab As-Sundi (sang kakek) adalah pelaku langsung dalam meracuni Imam Musa ibn Ja'far Al-Kadzim a.s., yaitu ketika beliau berada dalam tahanannya. Kusyajim wafat pada tahun 350 H.
    Dan orang pertama yang menadaptkan gelar An-Nasyi' (sang pencipta) dari kaum Syi'ah ialah Ali ibn Abdullah ibn Washif. As-Sam'ani berkata: "Nasyi’ adalah sebuah kata yang digunakan pada orang yang menggagas sebuah cabang seni syair dan ia menjadi populer dengan nama ini. Dan orang yang akrab dikenal dengan nama ini ialah Ali ibn Abdullah; sang penyair tersohor. Ia hidup di masa kekuasaan Khalifah Al-Muqtadir, Al-Qodir, Ar-Radhi dan khalifah-khalifah yang lain. Ali ibn Abdullah berasal dari Baghdad dan menetap di Mesir.” Demikian ini dinyatakan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tarikh-nya seraya menegaskan bahwa ia seorang mutakallim Syi'ah.
    Begitu pula Ibnu Nadim menilainya sebagai mutakallim Syi'ah Imamiyah. Ibnu Khalkan berkata: "Ali ibn Abdullah adalah salah seorang tokoh Syi'ah, sebagaimana dilaporkan dalam Nasamatus Sahar. Ia memiliki keunggulan di atas Al-Mutanabbi; di mana yang kedua ini belajar seni syair dari yang pertama. Hanya saja, kekuatan syair An-Nasyi' serta kedu-dukannya sebagai tokoh pendahulu telah merendahkan derajat Al-Mutannabi.”
    Saya katakan bahwa Ibnu Khalkan telah membawakan sebuah qosidah dan mengatakan bahwa Al-Mutanabbi telah menukil beberapa bait dari qosidah itu dalam menyanjung Khalifah Saifuddaulah. Qosidah itu diawali oleh bait-bait berikut ini:
    Berkat Keluarga Muhammad, kebenaran tampak
    Di rumah-rumah mereka wahyu diturunkan
    Merekalah bukti-bukti Tuhan atas manusia
    Karena mereka dan datuk mereka tak ada keraguan
    Terutama Abul Hasan Ali
    Padanya martabat kemuliaan berwibawa
    Sasaran panahnya adalah jantung musibah
    Baginya titisan darah peringatan menjadi arak
    Seakan mata busurnya yang layu adalah hati
    Maka tak kan ada hilang dari hati
    Ketegasannya bak menawar bintang
    Posisinya laksana pengawas bagi makhluk
    Dialah tangisan di mihrab malam
    Dialah periang bila perang memuncak
    Dialah Berita Besar dan bahtera Nuh
    Pintu Allah maka tertutuplah dialog
    An-Nasyi' lahir pada 271 H. dan wafat pada 366 H., yakni pada usia 95 tahun.
    Dan orang pertama yang mendapatkan kebanggaan di semua bidang seni syair sehingga dijuluki sebagai Az-Zahi (Sang Pembangga) ialah Ali ibn Ishaq ibn Khalaf; penyair dari Baghdad yang sulit ditemukan orang sepertinya. Riwayat hidupnya diulas oleh Al-Khathib dan Abu Sa'id ibn Abdur-rahman dalam Thabaqotusy Syu'ara', Ibnu Khalkan di dalam Al-Wafiyyat, Al-Qodhi di dalam Thabaqotusy Syi'ah dan Ibnu Syahrasyub dalam Ma'alimul 'Ulama', lalu mengatakan: “Ali ibn Ishaq termasuk penyair yang secara terbuka melantunkan syair pujian atas Ahlul Bait a.s.” 
    Ali ibn Ishaq lahir pada tahun 318 H. dan wafat pada 352 H. Ia dimakamkan terletak di sekitar pusara Imam Musa ibn Ja'far Al-Kadzim a.s., tepatnya di pemakaman Quraisy.
    Dan orang buta huruf pertama yang dikaruniai talenta mukjizat dalam syair ialah Nashr ibn Ahmad Al-Khabzaruzi Abul Qosim; seorang penyair yang masyhur dengan ghazal; puisi cinta yang menduniakan popularitasnya. Riwayat hidup Nashr dibawakan di pelbagai kitab autobiografi dan sejarah. Pengarang Al-Yatimah juga mengulas ihwal kehidu-pannya dan beberapa bait dari syairnya, lalu mengatakan: “Ia seorang syi'ah”. Ibnu Khalkan memastikan tahun wafatnya jatuh pada tahun 317 H. 
    Buta huruf lainnya adalah seorang penyair yang terkenal dengan panggilan ‘Si Tukang Roti Negeri’. Nama lengkapnya ialah Abu Bakar Muhammad ibn Ahmad ibn Hamdan. Sungguh ia penyair yang tersohor. Di dalam Al-Yatimah, Ats-Tsa'alibi mengangkatnya sebagai simbol perhiasan dunia dan mengatakan: “Yang lebih menakjubkan lagi, ia seorang buta huruf sementara syair-syairnya sebegitu renyah, sedap, mengalir dan menghibur. Fragmen syairnya sarat dengan makna lembut dan mutiara hikmah yang berkembang luas. Ia juga penghafal Al-Quran dan tidak sekali memetik ayat-ayatnya untuk disisipkan ke dalam syairnya.”
    Ats-Tsa'alibi melanjutkan: “Abu Bakar adalah penganut Syi'ah dan menunjukkan kesetiaannya pada mazhab ini di dalam syairnya, sebagaimana yang tampak pada beberapa baitnya secara gamblang.” 
    Dan orang pertama yang meletakkan seni tauriyah (paronomasia) dan menggunakannya secara natural dan harmonik ialah ‘Alauddin Al-Wida'ie Al-Kindi Ali ibn Al-Mudzaffar ibn Ibrahim ibn Umar ibn Zaid, penulis kitab At-Tadzkirah yang lebih dikenal pula dengan judul At-Tadzkirah Al-Kindiyah setebal lima puluh jilid yang mencakup pelbagai macam seni sastra. Seperti juga dicatat dalam Nasamatus Sahar, ‘Alauddin adalah penganut Syi'ah dan penyair yang pandai.
    Di samping itu, penulis Nasamatus Sahar juga menukil sejumlah keterangan Syeikh Taqiyuddin ibn Hujjah di dalam Kasyful Liam mengenai tauriyah dan istikhdam, termasuk syair yang dipelajari oleh Ibnu Nabatah dari Syeikh 'Alauddin Al-Wida'ie tersebut. Masih dalam kitab tersebut dikatakan: "Dan sejumlah keistimewaan Syeikh 'Alauddin terkandung dalam kitab berjilid-jilid. Singkatnya, Ibnu Nabatah yang tersohor itu bahkan berhutang budi padanya.”
    Riwayat hidup Syeikh 'Alauddin dicatat secara menarik dalam kitab Fawatul Wafiyyat. Saya pun telah menukilnya  dalam Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam. Dalam riwayat hidup tersebut, dinyatakan kesyi'ahannya secara tegas, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi. Syeikh 'Alauddin wafat tahun pada 716 H.
    Adapun orang yang selama dua abad sebelumnya tidak ditemukan seorang pun yang menandingi keunggulannya ―berdasarkan kesaksian Ibnu Khalkan―ialah cucunda Ibnu Ta'awidzi; sang penyair masyhur yang bernama Abul Faraj Muhammad ibn Ubaidillah Abdullah Al-Katib. Ibnu Khalkan berkata: “Ia adalah penyair di jamannya. Syairnya mengolah dua unsur kefasihan bahasa, keindahan kata, kecermatan dan kelembutan makna.”
    Sementara, saya percaya bahwa pada jaman Abul Faraj, benar-benar tidak ditemukan seorang pun yang menandingi keunggulannya. Penulis Nasamatus Sahar menuturkan: “Saya telah menjumpai sebuah kitab kumpulan syairnya; sungguh patut pendapat sanjungan dari Ibnu Khalkan.” Ia adalah salah satu tokoh Syi'ah. As-Sam'ani berkata: “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Khalkan tentang kelahirannya, ia menjawab: ‘Abul Faraj lahir pada tahun 476 H. di Karkh dan wafat pada bulan Jumadil Tsani 553 H.”
    Terdapat penyair yang sepadan dengan Abul Faraj, yaitu Syarif Abul Hasan Ali Al-Hammani dari warga Kufah, putra seorang penyair yang bernama Syarif Muhammad ibn Ja'far penyair ibn Muhammad ibn Zaid ibn Ali ibn Al-Husein ibn Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang disebutkan secara terhormat dalam Nasamatus Sahar. Yaqut mengatakan: “Al-Hammani di lingkungan keluarga Ali ibn Abi Thalib terkenal sebagai penyair, sastrawan dan berakhlak mulia. Dia mirip dengan Abdullah ibn Al-Mu'tazz di lingkungan keluarga Abbasiyah. Ia pernah mengatakan: ‘Akulah penyair, ayahku penyair, juga kakek-kakekku sampai Abu Thalib, mereka semua adalah penyair.”
    Saya katakan bahwa Al-Hammani adalah penyair paling pandai di antara para penyair di masa khalifah Abbasiyah Al-Mutawakkil. Ini berdasarkan kesaksian Imam Abul Hasan Al-Hadi ibn Ar-Ridha a.s. dalam sebuah hadis yang diriwa-yatkan oleh Al-Baihaqi di bab Mahasin Iftikhar bin Nabi wa Alihi dari kitab Al-Mahasin wal Masawi. Ini juga telah saya bawakan  dalam kitab Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam. Di sana, saya mencuplik sebuah fragmen dari syairnya. Ia termasuk salah satu penyair yang dihormati dalam dua kitab; Al-Yatimah dan Al-Aghani. Sementara itu, Abu Tammam memasukkannya ke dalam kelompok penyair hamasah, sebagaimana dicatat oleh Sayyid Al-Murtadha dalam Al-Musyfi dan menukil beberapa bait syairnya.
    Termasuk penyair Bani Hasyim seorang penyair bernama Al-Fadhl ibn Abbas ibn 'Utbah ibn Abu Lahab. Sebagaimana disebutkan Sayyid Al-Madani dalam Ad-Darajat Ar-Rafi'ah fi Thabaqotusy Syi'ah dan Nasamatus Sahar, bahwa Al-Fadhl ibn Abbas adalah penyair Syi'ah. Abul Faraj telah membawakan riwayat hidupnya secara mengesankan.
    Dan di antara penyair Quraisy yang syi'ah, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Hushun Al-Mani'ah, ialah Abu Dahbal Al-Jamhi Wahab ibn Rabi'ah. Ini juga didukung oleh Ibnu Qutaibah di dalam Asy-Syi'r wasy Syu'ara', dan Sayyid Al-Murtadha di dalam kitab Al-Amali. Az-Zubair ibn Bakkar menyatakan bahwa Abu Dahbal termasuk penyair yang dipilih oleh Abu Tammam di dalam kumpulan syair hamasah. Dalam kitab Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam, saya telah menukil sebagian bait syairnya mengenai ratapan atas kesyahidan Abu Abdillah Husein ibn Ali a.s.
    Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi kelompok dari penyair Syi'ah. Saya telah cantumkan riwayat-riwayat hidup mereka di dalam Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam.[]

     

    Bab Keempat Belas

    Kepeloporan Syi'ah dalam
    Ilmu Sharaf

     

    Pasal Pertama
    Tentang Peletak Pertama Ilmu Sharaf dalam Islam
    Ketahuilah bahwasanya orang pertama yang meletakkan ilmu Sharaf adalah Muslim Ma'adz Al-Harra’ ibn Muslim ibn Abu Sarah dari Kufah, budak Al-Anshar yang masyhur sebagai pakar Nahwu. Ini ditegaskan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Mazhar, juz kedua, dan dalam Bughyatul Wu'at, yaitu tatkala dia membawakan riwayat hidup Abu Muslim Al-Harra' dan mengatakan bahwa ia adalah guru sastra Abdul Malik ibn Marwan, bahkan dia menyatakan bahwa Abu Muslim adalah seorang penganut Syi'ah. Dalam  Al-Wasail wal Awail, dikatakan bahwa orang pertama yang meletakkan ilmu Tashrif (Sharaf) ialah Ma'adz Al-Harra’.
    Allamah Al-Bahrani dalam Al-Bulghah mengatakan: “Ma'adz Al-Harra' adalah pencipta ilmu Sharaf sebagaimana ditegaskan oleh kesaksian sekelompok ahli sastra Arab seperti Khalid Al-Azhari.”
    Saya katakan bahwa Al-Kisaie dan ulama lainnya telah belajar Sharaf pada Abu Muslim. Ia juga mengarang kitab berkenaan dengan Nahwu dan Hadis.
    Dalam kitab-kitab bibliografi karya ulama-ulama Syi'ah, terdapat riwayat hidupnya yang panjang. Ibnu Khalkan juga membawakan riwayat hidupnya, bahkan perjumpaannya dengan Kumait ibn Zaid yang menunjukkan persahabatan iman mereka.
    Tak syak lagi, Abu Muslim adalah seorang Syi'ah dan sahabat besar Imam Ja'far ibn Muhammad Ash-Shadiq a.s., sebagaimana dikukuhkan oleh Syeikh Mufid dalam Al-Irsyad dan oleh ulama-ulama besar lainnya. Abu Muslim meninggal dunia pada tahun 187 H. Lantaran usianya yang panjang, ia melapisi giginya dengan emas.

    Pasal Kedua
    Tentang Orang Pertama yang Mengarang
    di Bidang Ilmu Sharaf
    Ketahuilah, bahwasanya orang pertama yang mengarang di bidang ilmu ini ialah Abu Utsman Al-Mazani ra. Ini yang bisa dipahami dari kesaksian Abul Khair, bahwa orang pertama yang membukukan ilmu Sharaf ialah Abu Utsman Al-Mazani. Berdasarkan penukilan Kasyful Dzunun, bahwa sebelum ini, ilmu Sharaf disusun di dalam ilmu Nahwu.
    Dalam Fehrest Asma' Mushannifisy Syi'ah, Abul Abbas An-Najasyi berkata: “Abu Utsman Al-Mazani Bakar ibn Muhammad ibn Habib ibn Baqiyah Al-Mazani, dari Bani Mazan, dari keturunan Syaiban ibn Dzahal ibn Tsa'labah ibn 'Ukamah ibn Mus'ab ibn Ali ibn Bakar ibn Wail. Ia adalah pemuka para pakar Nahwu dan sastra Arab di Basrah. Kekepolorannya dalam ilmu Sharaf sudah masyhur.” Begitu pula, Abul Abbas Muhammad ibn Yazid Al-Mubarrad, seorang ulama Syi'ah Imamiyah, mengatakan: “Abu Utsman Bakar ibn Muhammad adalah salah satu pelayan Ismail ibn Maitsam; tokoh besar mutakallim Syi'ah.”
    Saya katakan bahwa Allamah Jamaluddin ibn Mutha-hhar Al-Hilli juga telah mengulas pribadinya dalam Al-Khulashah dalam bentuk yang mirip dibawakan oleh An-Najasyi tentang dirinya. Ismail mempunyai banyak karya yang sebelum ini telah saya ketengahkan.

    Pasal Ketiga
    Tentang Kitab-kitab Sharaf yang Ditulis
    oleh Orang Syi'ah untuk Pertama Kalinya
    Yaitu kitab Al-Isytiqoq karya Ibnu Khalaweih, At-Tashrif karya Ath-Thabari, Ilmil Sharf karya Wazir Al-Maghribi, At-Tibyan fil Tashrif karya Ahmad ibn Ali Al-Mahabadi, Al-Muqtashid fit Tashrif karya Malik Muhat, Syarah Asy-Syafiyah fil Sharf karya Najmul Aimmah Muhammad ibn Hasan Al-Istarbadi, Syarah Asy-Syafiyah fi Ilmil Sharf karya Sayyid Jamaluddin Abdullah Al-'Ajmi Naqreh Kour yang dinyatakan oleh Muha-qqiq Al-Karaki di dalam Hasyiyah Adz-Dzikra', bahwa ia adalah salah seorang ulama Syi'ah. Syarah kitab Sayyid Jamaluddin ini dilakukan oleh Syeikh An-Nasaie Kamalu-ddin Muhammad ibn Mu'inuddin; sebuah kitab syarah yang sungguh lengkap sehingga sulit ditemukan padanannya di bidang ini.
    Selain kitab-kitab di atas, masih banyak lagi kitab-kitab masyhur yang telah saya bawakan dalam kitab Fehrest Asma' Mushannifisy Syi'ah.[]

     


    Bab Kelima Belas

    Kepeloporan Syi'ah
    dalam Ilmu Nahwu

     


    Pasal Pertama
    Tentang Peletak Pertama Ilmu Nahwu
    untuk Bangsa Arab
    Ketahuilah, bahwasanya orang pertama yang menciptakan, mengembangkan ilmu ini dan mendiktekan rumus-rumus dan kaidah-kaidahnya ialah Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Kesepakatan bulat atas fakta ini dibawakan oleh Kamaluddin Ali ibn Yusuf Al-Qifthi dalam kitabnya; Ta'rikh An-Nuhat dan Al-Marzabani dalam AL-Muqtabas. Ibnu Juney  dalam Al-Khashoish, bab Shidqun Naqlah mengatakan: “Pertama yang perlu diketahui ialah bahwa Amiril Mukminin Ali a.s. adalah peletak, perumus, pengembang dan pengurai pertama ilmu Nahwu.” Begitu juga, Abdul Hamid ibn Abil Hadid mengatakan: “Hal ini telah diakui oleh semua orang.”
    Saya katakan bahwa semua pakar Nahwu bahkan telah menisbahkan kenyataan ini secara langsung tanpa melalui sanad. Dalam kitab Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam, saya telah mencantumkan semua kesaksian mereka yang menegaskan kebenaran klaim atas kesepakatan bulat tersebut.
    Maka itu, jelaslah kelemahan pendapat yang mengklaim bahwa orang pertama yang meletakkan ilmu Nahwu ialah Abudurrahman ibn Hurmuz, sebab Abdurrahman ini belajar Nahwu pada Abul Aswad Ad-Duali atau―menurut sebagian ahli―pada Maimun Al-Aqran yang pada gilirannya ia pun belajar pada Abul Aswad. Karena, semua riwayat mengenai hal ini berakhir pada Abul Aswad yang ia sendiri menimba ilmu ini pada Ali ibn Ali Thalib a.s. Masih di dalam Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam, saya telah membawakan riwayat Abul Aswad berkenaan dengan fakta ini dari pelbagai jalur yang mutawatir, sebagaimana Anda akan menyimak seba-giannya pada lembaran-lembaran berikut ini.

    Pasal Kedua
    Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Nahwu
    Ketahuilah, bahwasanya orang pertama yang menyusun ilmu tersebut ialah Abul Aswad Ad-Duali atau Ad-Dili; bernisbah kepada Ad-Dual atau Ad-Dil ibn Bakar ibn Abdi Manaf ibn Kinanah. Abu Ali Al-Ghiyaie dalam kitab Al-Qori'e berkata: “Al-Ashma’ie, Sibaweih, Al-Akhfasy, Ibnu Sikkit, Abu Hatim, Al-'Adawi dan yang lain pengatakan bahwa kepanjangan Abul Aswad adalah Ad-Duili, namun dibaca fathah menjadi Ad-Duali lantaran nama keluarga, sebagaimana nama An-Namari yang huruf mim-nya dibaca fathah juga nama As-Sulami yang huruf lam-nya juga dibaca fathah.”
    Al-Ashma'ie berkata: “Nama itu pernah dibaca kasrah (menjadi Ad-Dili) oleh Isa ibn ‘Amr dalam ilmu Nasab lantaran sesuai dengan asal katanya.” Ini juga dinukil oleh Munus dan selainnya dan mengatakan bahwa penyesuaian nama tersebut dengan asal katanya adalah fenomena yang tidak lumrah (syadzdz) dalam penyesuaian.
    Abu Ali berkata: “Al-Kisa'ie, Abu Ubaidah, Muhammad ibn Habib meyakini bahwa Abul Aswad bernisbah kepada Ad-Dil. Nama aslinya ialah Dzalim ibn Dzalim atau Dzulaim ibn Dzulaim. Ada yang mengatakan, ‘Amr ibn Utsman ibn ‘Amr. Ada yang mengatakan, Dzalim ibn Umar ibn Dzalim, dan ada pula yang mengatakan, Ibnu Sufyan ibn “Amr ibn Khulais ibn Nafaah ibn ‘Adiy ibn Ad-Duil ibn Bakar ibn Kinanah.”
    Namun, yang lebih tepat ialah Duali lantaran nisbahnya kepada Duil dan berubah menjadi Dual karena konsekuensi perubahan pada teknik penisbahan sebuah nama sebagai nama marga. Dan menurut pendapat orang banyak yang paling masyhur, nama Asli Abul Aswad Ad-Duali ialah Dzalim ibn ‘Amr Ad-Duali yang bernisbah kepada Ad-Dual ibn Bakar ibn Abdi Manaf ibn Kinanah; salah seorang tokoh tabi'in dan sahabat setia Imam Ali ibn Abi Thalib a.s.
    Abu Thayyib Abdul Wahid ibn Ali, seorang ahli bahasa Arab yang wafat pada 351 H., di dalam kitabnya Maratibun Nahwiyyin mengatakan: “Sesungguhnya orang pertama yang merumuskan Nahwu ialah Abul Aswad Ad-Duali, di mana ia sendiri telah mempelajarinya dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.” Begitu pula, Ibnu Qutaibah di dalam Al-Ma'arif mengatakan: “Nama lengkap Abul Aswad Ad-Duali adalah Dzalim ibn ‘Amr ibn Jandal ibn Sufyan ibn Kinanah. Ibunya berasal dari Bani Abduddar ibn Qushoy. Ia adalah seorang yang cerdas, tegas dan bakhil. Ia juga orang pertama yang meletakkan tata bahasa Arab, dan termasuk penyair kelas atas. Dalam kitab Asy-Syi'r wasy Syu'ara’, Abul Aswad digolongkan dalam jajaran para penyair, tabi'in, ahli hadis, bakhil, lumpuh, pincang. Ia seorang ahli Nahwu, karena dia orang pertama yang mengarang kitab tentang Nahwu pasca Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia menjadi pembantu Ibnu Abbas di Basrah dan wafat di sana dalam usianya yang begitu lanjut.”
    Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah sekaitan dengan riwayat hidup Abul Aswad mengatakan: “Abu Ali Al-Qoli berkata bahwasanya Abu Ishaq Az-Zujaj berkata bahwa Abul Abbas Al-Mubarrad berkata, bahwa dialah orang pertama yang meletakkan sastra dan tata bahasa Arab, dia pula yang meletakkan titik-titik pada huruf-huruf Al-Quran. Tatkala Abul Aswad ditanya orang tentang guru yang mengajarinya metode tersebut, ia mengatakan: ‘Aku telah menerimanya dari Ali ibn Abi Thalib a.s.’ Abu Ali Al-Qoli melanjutkan: ‘Dan ‘Amr ibn Syubbah dengan sanadnya meriwayatkan dari ‘Ashim ibn Bahdalah, bahwa peletak pertama Nahwu ialah Abul Aswad.’”
    Dan dinukil dari Al-Jahidz bahwa ia mengatakan bahwa Abul Aswad termasuk golongan Tabi'in, fuqoha, ahli hadis, penyair, terpandang, pandai menunggang kuda, cerdik, ahli Nahwu, tangkas menjawab, penganut mazhab Syi'ah, bakhil, botak, dan bernafas bau.
    Demikian ini juga dituturkan oleh Al-Jahidz Abul Faraj  dalam Al-Aghani dan As-Suyuthi di dalam Bughyatul Wu'at. Ar-Raghib di dalam Al-Muhadharat dalam rangka membahas ihwal Abul Aswad mengatakan: “Dialah orang pertama yang meletakkan titik-titik pada huruf-huruf Al-Quran dan merumuskan kaidah-kaidah dasar ilmu Nahwu di bawah asuhan Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga termasuk lelaki yang tajam pendapat dan pikirannya. Abul Aswad adalah seorang syi'ah, penyair, tangkas menjawab, perawi tsiqoh dalam hadis...”
    Al-Yafi'ie dalam Miratul Jinan berkata: “Dzalim ibn ‘Amr Abul Aswad Al-Bashri adalah salah satu tokoh terkemuka tabi'in dan sahabat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia turut terjun bersama beliau dalam perang Shiffin. Ia salah seorang yang sempurna pandangan dan akalnya. Dia pula yang pertama kali menyusun ilmu Nahwu di bawah arahan Ali a.s.”
    Imam Baihaqi dalam Al-Mahasin wal Masawi mengatakan: “Yunus ibn Habib, seorang pakar Nahwu berkata: ‘Orang pertama yang merumuskan tata bahasa Arab dan menyusun bab-babnya serta menerangkan metodologinya ialah Abul Aswad Ad-Duali. Nama lengkapnya ialah Dzalim ibn 'Amr.”
    Abul Barakat Abdurrahman ibn Muhammad Anbari di pembukaan kitab Nazhatul Auliya' menulis: “Abu Ubaidah Mu'ammar ibn Al-Mutsanna' dan tokoh lainnya mengatakan bahwa Abul Aswad Ad-Duali telah belajar Nahwu pada Ali ibn Abi Thalib a.s.”
    Abu Hatim As-Sajastani mengatakan bahwa Abul Aswad lahir di jaman Jahiliyah dan belajar Nahwu pada Ali ibn Abi Thalib a.s. Sementara itu Abu Salamah Musa ibn Ismail meriwayatkan dari ayahnya bahwa Abul Aswad adalah orang pertama yang meletakkan ilmu Nahwu di Basrah. 
    Lalu Ibnu Anbari mengatakan bahwa orang pertama yang meletakkan tata  bahasa Arab, merumuskan kaidah-kaidah dan mendefinisikan tema-tema ialah Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s., adapun Abul Aswad belajar dari beliau. Di dalam Al-Khoshoish pada bab Shidqun Naqlah, Ibnu Juney berkata: “Hal pertama yang perlu dikatahui ialah bahwa Ali ibn Abi Thalib adalah peletak, perumus, pengembang dan pengurai pertama ilmu Nahwu, kemudian diikuti oleh Ibnu Abbas. Adapun Ali a.s. sendiri mengajarkan ilmu tersebut kepada Abul Aswad.”
    Dan Abu Hilal Hasan ibn Abdullah Al-'Askari dalam Al-Awail mengatakan bahwa orang pertama yang meletakkan ilmu Nahwu ialah Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang dibawakan oleh Az-Zujaji dalam Al-Amali dari Al-Mubarrad. Abu Ubaidah mengatakan: “Peletak pertama tata bahasa Arab ialah Abul Aswad lalu Maimun Al-Aqran lalu ‘Anbasah Al-Fil lalu Abdullah ibn Ishaq.”
    Saya tegaskan bahwa urutan ini tentu setelah Abul Aswad mempelajari ilmu itu dari Ali a.s., sebagaimana kesaksian Abu Ubaidah sendiri atas hal tersebut. Ini juga dikuatkan oleh nukilan Ibnu Anbari dari Abu Ubaidah. Ibnu Abil Hadid  dalam Syarah Nahjul Balaghah berkata: “Ali ibn Abi Thalib a.s. adalah pencipta Nahwu lalu mendiktekan kaidah-kaidah dan rumus-rumusnya kepada Abul Aswad.” Begitu juga, Abul Fadhl ibn Abul Ghanaim dalam Syarah Al-Mufashshal berkata: “Telah diriwayatkan bahwa Abul Aswad belajar Nahwu pada Ali a.s. Beliau menyuruhnya untuk meletakkannya dalam ilmu Kalam.”
    Abdul Qodir Al-Baghdadi dalam Khazanatul Adab pada saat membahas Abul Aswad mengatakan: “Dia peletak ilmu Nahwu berkat pengajaran Imam Ali a.s.” Hal senada juga disampaikan oleh Ad-Dumairi di dalam Hayatul Hayawan fi Dual, bahwa dialah orang pertama yang meletakkan ilmu Nahwu di bawah arahan Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. Ibnu Nadim dalam Al-Fehrest mengatakan: “Abu Ja'far ibn Rustam Ath-Thabari berkata: ‘Ilmu Nahwu itu disebut nahwu karena Abul Aswad Ad-Duali menyatakan kepada Ali a.s. bahwa ia telah menerima beberapa kaidah Nahwu lalu berkata: ‘Lalu aku memohon izin kepada beliau agar aku merumuskan nahw (semacam) apa yang telah beliau letakkan’. Oleh karena itu, rumusan Abul Aswad dinamai Nahwu.’”
    Ibnu Nadim berkata: “Saya telah menemukan data yang menunjukkan bahwa ilmu Nahwu berasal dari Abul Aswad. Pada mulanya, ilmu ini tersusun dalam empat lembaran buatan Cina. Di dalamnya terdapat tema ‘Tentang Fa'il dan Maf'ul’ dari Abul Aswad dengan tulisan tangan Yahya ibn Ya'mur, dan di bawah tulisan itu terdapat tulisan tangan yang tampak tua dari Nadhr ibn Syumail.”
    Ibnu Khalkan dan Ibnu Al-Anbari menuturkan dari Abu Harb ibn Abul Aswad Ad-Duali, bahwa bab pertama yang disusun ayahku adalah bab ‘Ta'ajjub’. Ibnu Al-Anbari berkata: “Abu Harb telah menulis kitab Al-Mukhtashar yang dinis-bahkan kepada Abul Aswad setelah ia meletakkan titik-titik pada huruf Arab di masa Ziyad”. Ibnu Al-Anbari dalam An-Nuzh menambahkan: "Peletak pertama ilmu Nahwu ialah Ali ibn Abi Thalib a.s., sebab semua riwayat yang datang berakhir pada Abul Aswad yang ia sendiri menisbatkan ilmu tersebut kepada Ali a.s.”
    Ibnu Al-Anbari membawakan sebuah riwayat dari Abul Aswad, bahwa ia ditanya: “Dari siapakah engkau menerima ilmu Nahwu?” Ia menjawab: “Aku telah menerima kaidah-kaidahnya dari Ali bin Abi Thalib a.s.”
    Imam Fakhrurrazi dalam Manaqib Asy-Syafi'ie berkata: “Al-Khalil ibn Ahmad telah belajar pada Isa ibn Umar yang belajar pada Abu ‘Amr ibn Al-‘Ala’ yang belajar pada Abdu-llah ibn Ishaq Al-Hadhrami yang belajar pada Abu Abdillah Maimun Al-Aqran yang belajar pada ‘Anbasah Al-Fil yang ia sendiri belajar pada Abul Aswad Ad-Duali yang akhirnya ia belajar pada Ali ibn Abi Thalib a.s.”
    Rasyiduddun ibn Syahrasyub Al-Mazandarani dalam kitab Al-Manaqib mengatakan bahwa Al-Khalil ibn Ahmad meriwayatkan ilmu Nahwu dari Isa ibn ‘Amr Ats-Tsaqofi yang belajar pada Abdullah ibn Ishaq Al-Hadhrami yang belajar pada tokoh besar Nahwu Abu ‘Amr Al-‘Ala’ yang belajar pada Maimun Al-Aqran yang belajar pada 'Anbasah Al-Fil yang belajar pada Abul Aswad yang akhirnya ia belajar pada Imam Ali a.s. Hal serupa juga ditegaskan Al-Azhari dalam Tahdzibul Lughah, Ibnu Mukarram dalam Lisanul Arab, Ibnu Sayyidah dalam Al-Muhkam, Ibnu Khalkan dalam Al-Wafiyyat, begitu juga sekelompok tokoh Nahwu lainnya.
    Ruknuddin Ali ibn Abu Bakar Al-Haditsi dalam Ar-Rukni mengatakan: “Sesungguhnya peletak pertama ilmu Nahwu ialah Abul Aswad Ad-Duali; guru Imam Hasan dan Imam Husein a.s., yang ia sendiri belajar pada Ali a.s.” Ruknu-ddin menambahkan: “Dari Abul Aswad, lima tokoh besar telah belajar Nahwu, yaitu kedua putranya ‘Atha’ dan Abul Harits, ‘Anbasah, Maimun dan Yahya ibn Nu'man. Pada merekalah belajar Abu Ishaq Al-Hadhrami, Isa Ats-Tsaqofi dan Abu ‘Amr ibn Al-‘Ala’. Sedangkan Al-Khalil belajar pada Isa Ats-Tsaqofi. Lalu Sibaweih belajar pada Al-Khalil dan menjadi guru Al-Afkhasy. Sejak itu, barulah para tokoh sastra Arab terpecah kepada dua mazhab utama; mazhab Kufah dan mazhab Basrah.”
    Al-Kaf'ami, salah seorang ulama besar Syi'ah Imamiyah, di dalam Mukhtashor Nuzhatu Ibn Anbari mengatakan: “Abul Aswad Ad-Duali adalah peletak pertama tata bahasa Arab. Ia mempelajari ilmu ini pada Ali a.s.”
    Saya katakan bahwa data-data di atas ini cukup memadai bagi siapa saya yang berminat melakukan pemeriksaan fakta yang sesungguhnya.
    Dan saya menambahkan di sini, bahwa Ibnu Faris  dalam  Ash-Shohibi yang dikenal pula dengan judul Fiqhul Lughah mengatakan: “Jika seseorang mengklaim bahwa telah dinukil secara mutawatir bahwa Abul Aswad adalah orang pertama yang meletakkan tata bahasa Arab, dan bahwa Al-Khalil adalah orang pertama yang membahas ilmu 'Arudh, maka dapat dikatakan kepadanya bahwa kita tidak mengingkari semua ini, hanya saja kedua ilmu ini telah ada sejak dahulu, namun dengan berlalunya masa menjadi langka dan asing di tengah masyarakat Arab sampai kemudian muncul dua tokoh tersebut dan bekerja dalam memperbaharui dua ilmu itu.”
    Saya katakan bahwa secara dzahir, pendapat ini tak beda dengan ucapan orang Afrika. Jelas bahwa Arab Jahiliyah tidak perlu pada ilmu Nahwu lantaran mereka dilahirkan dengan kodrat bahasa Arab sehingga mereka tidak dapat berbicara sesuatu yang menyalahi ilmu tersebut lalu perlu mempelajari ilmu yang menjadi bawaan bahasa mereka. Di samping itu, terdapat pelbagai riwayat yang telah dinyata-kan kualitas kemutawatirannya. Di antaranya ialah riwayat-riwayat yang menerangkan sebab upaya Imam Ali a.s. dalam meletakkan ilmu Nahwu, dan alasan usaha Abul Aswad yang searah dengannya (nahw).
    Poin riwayat-riwayat tersebut ialah rusaknya bahasa dan dialek generasi muda bangsa Arab yang lahir dari darah campuran dan dari budak-budak di era kenabian dan pasca kenabian, sehingga mereka menguatirkan pengaruh negatif terhadap keutuhan bahasa Arab. Oleh karena itulah mereka merumuskan ilmu Nahwu demi memelihara apa yang pada awalnya terbina secara utuh dan lurus menurut kodrat dasar bahasa Arab.
    Singkatnya, data sejarah dan argumentasi membuktikan kelemahan pendapat Ibnu Faris di atas. Dan secara umum, pendapat ini tampak ganjil; hanya ia yang membawakannya. Anda bisa mencermati catatan-catatan saya yang melawan argumentasinya. Entah alasan apa yang membuatnya hingga mengungkapkan pendapat itu. dengan ini, kita hanya akan menerima laporan fakta yang diriwayatkan dan melepaskan dugaan yang ia bawakan.
    Adapun kekeliruan pandangan Ibnu Faris mengenai pelopor di bidang ilmu 'Arudh, saya telah memaparkan tanggapan kritis terhadapnya yang saya kiranya tidak perlu lagi diulang di sini.

     


    Pasal Ketiga 
    Penyelidikan atas Sebab yang Mendorong Amiril Mukminin Hingga Meletakkan Kaidah-kaidah  Nahwu dan Membatasi Cakupannya, dan Penyelidikan atas Sebab yang Membuat Abul Aswad Menyusun Ilmu Nahwu
    Sesungguhnya para ulama berselisih pendapat mengenai dua sebab ini. Mengenai sebab pertama, sebagian menyebutkan penafsiran-penafsiran, di antaranya apa yang dibawakan oleh Ibnu Al-Anbari dalam pembukaan Syarah Kitab Sibaweih dan mengatakan: "Sesungguhnya Rasulullah saw. pada suatu hari telah mendengar seseorang membaca ayat; Innallaha bariun minal musyrikina wa rosulahu, yakni dengan mengkasroh huruf lam pada rosulahu sehingga dibaca rosulihi. Seketika itu, Rasul saw. marah dan memberi isyarat kepada Ali ibn Abi Thalib a.s. agar meletakkan sebuah An-Nahw (cara) dan merumuskan kaidah sehingga dapat mencegah kekeliruan demikian itu. Maka, Amiril Mukminin Ali a.s. meminta Abul Aswad Ad-Duali dan mengajarinya segala macam kata dan bentuk 'amil dan rabith, dan menjelaskan definisi akan ucapan orang Arab, macam-macam i'rob dan bina'.
    “Abul Aswad adalah lelaki yang cerdas dan pandai. Lalu ia menyusun pelajaran tersebut. Jika menemukan kesulitan, ia menanyakannya kepada Amiril Mukminin Ali a.s. sehingga ia dapat menuntaskan penyusunan dan pengembangan ilmu itu. Barulah ia menemui Amiril Mukminin dan menyerah-kan hasil usahanya kepada beliau yang disambut pujian sang guru. Ali a.s. berkata: ‘Inilah sebaik-baiknya yang telah kau nahwu-kan (maksudkan). Maka, demi mendapatkan berkah dari pujian Ali a.s. ini, dinamailah ilmu ini dengan Nahwu.’”
    Tak syak lagi, bahwa kata nahwu, sejauh yang dikandung dalam konteks kisah di atas, telah diucapkan untuk pertama kalinya dari lisan Nabi saw., bukan dari perkataan Ali a.s., sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Al-Anbari sendiri. Namun, yang diakui secara luas oleh para tokoh mengenai sebab penamaan ilmu Nahwu adalah apa yang dinyatakan oleh Ibnu Al-Anbari itu, bukan apa yang terdapat dalam kisah ini; kisah yang mirip dengan kisah-kisah tukang dongeng. Dan para ahli sejarah pun tidak melaporkan kejadian nyata dari kisah ini di jaman Nabi saw. Dan hanya Ibnu Al-Anbari yang menukil kisah ini sejauh yang saya ketahui, sebab saya sendiri tidak menemukan satu orang pun sebelumnya yang menceritakan kisah ini. Betul, bahwa sebagian tokoh terakhir telah membawakan kisah ini dan saya telah mendaftar nama-nama mereka dalam Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam.
    Sebab kedua ialah yang disebutkan oleh Rasyiduddin Ali ibn Syahrasyub Al-Mazandarani dalam Al-Manaqib, bahwa sebab atau alasan yang membuat Amiril Mukminin Ali a.s. untuk meletakkan ilmu Nahwu, yaitu tatkala orang-orang Quraisy mulai terbiasa menikah dengan bangsa Mesir, lalu lahirlah generasi muda yang telah rusak bahasa dan dialek mereka. Sampai-sampai anak perempuan Khuwailid Al-Asadi menikah di sana dan berkata salah: "Inna abuya mata wa taroka 'alayya malan katsiro." Ketika Amiril Mukminin Ali a.s. mendapatkan rusaknya bahasa dan dialek mereka, segera ia meletakkan ilmu Nahwu.
    Dan dalam kitab Ar-Rukni karya Ruknuddin Ali ibn Abu Bakar Al-Haditsi diceritakan, “bahwa seorang perempuan menjumpai Muawiyah di masa Khalifah Utsman dan berkata: “Abuya mata wa taroka malan.” Mendengar itu, Muawiyah pun memperoloknya. Kejadian ini terdengar oleh Ali a.s. Tak pelak lagi, beliau segera menuliskan sebuah rumusan di atas sebuah lembaran tentang kaidah-kaidah ilmu Nahwu dan memberikannya kepada Abul Aswad...”
    Saya katakan bahwa di antara dua riwayat (kisah) ini, tidak ada pertentangan.
    Sebab ketiga disebutkan bahwa ada seorang baduwi Arab yang mendengar seorang pedagang di pasar membaca ayat; Innallaha bariun minal musyrikina wa rosulihi. Seketika itu pula ia terperanjat dan gundah lalu mengadukannya kepada Ali ibn Abi Thalib a.s. Di hadapan beliau, si peda-gang itu berkata: “Dalam bacaannya, dia telah kafir kepada Allah.” Namun, Ali a.s. menjawab: “Sesungguhnya dia tidak sengaja membaca demikian.” Selekas itu, beliau meletakkan dasar-dasar ilmu Nahwu di atas sebuah lembaran dan mem-berikannya kepada Abul Aswad. Riwayat ini dibawakan oleh Rasyiduddin.
    Syamsuddin Muhammad ibn Sayyid Syarif Jurjani  dalam kitabnya yang masyhur; Ar-Rasyad fi Syarah Al-Irsyad, sebuah syarah atas karya Allamah Taftazani, dalam menerangkan sebab penamaan ilmu Nahwu mengatakan: “Suatu ketika, Abul Aswad mendengar seseorang membaca ayat Innallaha bariun minal musyrikina wa rosulihi, padahal kata terakhir ayat ini semestinya dibaca rosuluhu atau rosulahu. Segera saja ia menceritakan pengalamannya itu kepada Amiril Mukminin Ali a.s. Beliau berkomentar: ‘Itu lantaran perkawinan dengan orang Ajam (non-Arab)’. Lalu beliau berkata: ‘Ada tiga macam kata; isim, fi'il dan harf’. Lantas beliau memberikan penjela-san sampai akhir lembaran.’”
    Imam Maytsam Al-Bahrani dalam Bidayatul Amr berkata: “Abul Aswad pernah mendengar seorang lelaki membaca ayat Innallaha bariun minal musyrikina wa rosulihi. Maka, ia terkejut dan memperingatkannya: “Aku berlindung kepada Allah swt. dari khur ba'dal kur”, yakni dari kekurangan iman setelah kelebihannya.
    “Lalu ia bergegas menemui Amiril Mukminin Ali a.s. dan mengadukan kejadian tersebut. Beliau berkata: ‘Aku telah ber-nahwu (bermaksud) untuk meletakkan sebuah alat ukur yang dengannya orang-orang dapat berbicara secara benar.’ Kemudian Ali a.s. mengatakan kepadanya, bahwa kata itu tiga macam; isim, fi'il dan harf. Adapun isim... Demikian hingga akhir lembaran. Baliau juga menyuruh: ‘Arahkanlah dia, wahai Abul Aswad, nahwa-hu (ke arah alat ukur itu) dan tuntunlah dia tentang cara peletakkan itu, lalu ajarilah dia!”
    Saya katakan bahwa riwayat ini juga tidaklah berbeda dengan yang sebelumnya, kecuali perbedaan pada identitas orang yang mendengar ayat Innallaha bariun minal musyrikina wa rosulihi.
    Sebab keempat ialah apa yang dibawakan oleh Ibrahim ibn Ali Al-Kaf'ami Asy-Syami. Ia mengatakan: “Dan telah diriwayatkan bahwa sebab diletakkannya ilmu Nahwu oleh Ali a.s. ialah lantaran beliau mendengar seorang lelaki membaca sebuah ayat menjadi; Alla ya'kuluhu illal khoti-in.”
    Sebab kelima ialah apa yang ditulis oleh Rasyiduddin, bahwa sebab peletakkan tersebut ialah saat Abul Aswad berjalan di belakang jenazah. Tiba-tiba seorang lelaki berkata kepadanya: “Manil Mutawaffi.” “Allah!”, demikian jawab Abul Aswad. Lalu ia menceritakan hal itu kepada Ali a.s. Maka, beliau merumuskan ilmu Nahwu kemudian memberikannya kepada Abul Aswad dalam ukuran sehelai lembar sambil mengatakan: “Alangkah indahnya nahwu (model) ini! Aku akan menuntaskan tema-temanya.” Oleh sebab itu, dinamailah ilmu ini dengan nama nahwu.  
    Sebab keenam ialah riwayat yang dibawakan oleh Sayyid Al-Murtadha 'Alamul Huda Ali ibn Al-Husein Al-Musawi  dalam kitab Al-Fushulul Mukhtarah dari kitab Al-'Uyun wal Mahasin karya Syeikh Abu Abdillah Al-Mufid Muhammad ibn Muhammad ibn An-Nu'man yang masyhur dengan gelar Ibnul Mu'allim (putra guru besar). Ia mengatakan bahwa telah memberitahukanku Syeikh Abu Abdillah dari Muhammad ibn Salam Al-Jamhi bahwa suatu ketika, Abul Aswad Ad-Duali menemui Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Tiba-tiba beliau menyodorkan sehelai lembar yang di dalamnya tercantum; ‘Bismillahirrahmanirrahim. Ucapan terdiri dari tiga macam; isim, fi'il dan harf. Isim ialah kata yang menunjukkan sesuatu, dan fi'il ialah kata yang menunjukkan gerak sesuatu, sedangkan harf ialah kata yang mewujudkan makna pada kata selainnya’.
    Abul Aswad berkata: “Hai Amiril Mukminin! Catatan ini sungguh bagus sekali. Maka, apa yang engkau perintahkan kepadaku agar aku mengerjakannya akan aku kembangkan dengan cara menekuninya.”
    Amiril Mukminin Ali a.s. berkata: “Aku telah mendengar kesalahan bahasa yang begitu parah di negerimu ini sehingga membulatkan keinginanku untuk menulis sebuah kitab; orang yang merujuk kepadanya dapat membedakan mana ucapan orang Arab dan mana ucapan mereka (non-Arab). Maka itu, mantapkanlah niatmu!”
    Abul Aswad menjawab: "Semoga Allah mengaruniakan  taufiq keberhasilan kepadaku berkat jasamu ini, wahai Amiril Mukminin!".
    Rasyiduddin menuturkan bahwa Ibnu Salam Al-Jamhi berkata: "Setelah diserahkan dan disalin catatan-catatan Ali ibn Abi Thalib, mereka merasa tidak mempu melanjutkan. Mereka berkata: ‘Abu Thalib adalah sebuah nama kunyah (panggilan nasab), dan nama ini adalah komposisi (dua kata) seperti darahina dan Hadhramaut’. Az-Zamakhsyari di dalam Al-Faiq mengatakan bahwa nama itu telah dibiarkan dalam keadaan jarr, meski secara lafadh dibaca rofa’, karena ini yang lebih masyhur dan dikenal secara luas lalu menjadi pribahasa yang tidak lagi mengalami perubahan.  
    Abul Qosim Az-Zujaj dalam Al-Amali mengatakan dari Abu Ja'far Ath-Thabari dari Abu Al-Hatim As-Sajastani dari Ya'qub ibn Ishaq Al-Hadhrami dari Sa'id ibn Al-Muslim Al-Bahili dari ayahnya dari datuknya lalu dari Abul Aswad Ad-Duali, bahwa ia mengatakan: “Suatu saat, aku menjumpai Ali ibn Abi Thalib a.s. dan aku mendapatkannya dalam keadaan merenung dengan kepala tertunduk.
    “Aku bertanya kepadanya: ‘Amiril Mukminin! Apakah yang tengah kau pikirkan?’ Beliau menjawab: “Sungguh Aku telah mendengar di negeri ini sebuah kesalahan bicara, maka aku bermaksud untuk menulis sebuah kitab tentang dasar-dasar bahasa Arab”. Aku berkata: ‘Jika engkau lakukan ini, sungguh engkau pun telah menghidupkan dan mengabadi-kan kami dengan bahasa ini.’
    “Selang tiga hari kemudian, aku menemuinya lagi. Tiba-tiba beliau menyodorkan sebuah kitab kepadaku; di dalamnya termaktub demikian: ‘Bismillahirrahmanirrahim. Kalam (ucapan) ―apapun itu―adalah isim, fi’il dan harf. Isim ialah kata yang menunjukkan sesuatu, dan fi’il ialah kata yang menunjuk-kan gerak sesuatu, sedangkan harf adalah kata yang menun-jukkan makna yang bukan isim juga bukan fi’il.’
    “Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Kembangkan dan tambahkan dengan apa yang kau temukan! Ketahuilah wahai Abul Aswad! Sesuatu itu tiga macam; dzahir, mudhmar, dan sesuatu yang bukan dzahir juga bukan mudhmar.”
    Abul Aswad melanjutkan: “Segera aku pun menghimpun pelbagai cara pengembangan dari pelajaran dasar beliau lalu mengajukannya kepada beliau. Di antara pengembangan itu ialah kata-kata harf nashib, seperti anna, an, laita, la’alla, dan  kata ka-anna. Namun, aku tidak mencantumkan kata lakin. Maka, Amiril Mukminin segera menegurku: ‘Mengapa kau tidak mencantumkan harf ini?’
    “Menurutku lakin tidak termasuk harf nashib.” Demikian jawabku.
    “Beliau menegaskan: ‘Justru kata ini termasuk dalam harf. Maka itu, bubuhkanlah!’” Sekian riwayat yang dinukil dalam kitab Al-Amali karya Az-Zujaj.
    Saya katakan bahwa berkat penguraian yang masih global kepada tema-tema rinci dan jelas, dan penjelasan atas yang umum atau yang mutlak melalui isyarat dan catatan kait yang melingkupinya, tampaklah konklusi dari riwayat di atas ini; bahwa kekeliruan dan kerusakan yang terdengar oleh Amiril Mukminin Ali a.s. sekaitan dengan keutuhan lisan dan bahasa orang-orang Arab lantaran pergaulan mereka dengan orang-orang Ajam telah mendesak beliau untuk meletakkan kaidah-kaidah dasar itu, lalu memerintahkan Abul Aswad dan murid-muridnya agar menelusuri nahwa-hu (arahnya). Semua data-data ini juga secara tegas membantah pendapat Ibnu Faris di akhir pasal ketiga dari bab ini.
    Adapun riwayat-riwayat yang menerangkan sebab yang mendorong Abul Aswad sampai menyusun ilmu Nahwu juga tidak terdapat pertentangan di antara semua riwayat tersebut. Abu Said pernah bercerita tentang perjumpaan Sa’ad dengan Abul Aswad. Sa’ad adalah lelaki asal Persia (Iran) dari suku Zand Khan. Suatu saat, ia datang ke kota Basrah bersama sekelompok dari sukunya. Lalu mereka langsung menemui Qudamah ibn Madznun dan mereka mengaku telah masuk Islam di bawah tangannya, karena itulah mereka termasuk murid Qudamah.
    Dalam pada itu, Sa’ad yang sedang menuntun kudanya berpapasan dengan Abul Aswad. Abul Aswad menyapanya: “Hai Sa’d, gerangan apakah sehingga kau tidak menunggangi kudamu?”: “Inna Farosi Dholi’an aroda dholi’un”, demikian jawab Sa’ad. Mendengar bahasa Arab Sa’ad itu, karuan saja  orang-orang yang berada di sekelilingnya menertawakannya. Kepada mereka Abul Aswad berkata: “Sesungguhnya Sa’ad  adalah dari mereka yang berminat dan baru saja masuk Islam itu. Jadi, mereka adalah saudara-saudara kita, dan alangkah baiknya bila kita mengajarkan tata bahasa yang benar kepada mereka.” Kemudian, ia meletakkan bab ‘Fâ’il wal Maf’ul’.
    Dalam riwayat lain diceritakan bahwa seorang wanita menjumpai Muawiyah di masa Khalifah Utsman dan berkata: “Abuya mâta wa taroka mâlan.” Tak ayal lagi, Muawiyah pun memperolok tutur bahasanya. Kejadian ini terdengar oleh Ali a.s. Maka, beliau menulis sesuatu untuk Abul Aswad yang dengannya ia meletakkan―pertama-tama―bab ‘Al-Yâ’ wal Idzâfah’.
    Tak lama setelah itu, Abul Aswad mendengar seseorang membaca ayat; Innallâha bariun minal Musyrikina warosulihi, maka ia menyusun bab ‘‘Al-‘Athaf wan Na’et’.
    Pengalaman ini disusul dengan apa yang dia dengar dari perkataan anak perempuannya pada suatu saat: “Yâ abati, mâ ahsanu al-samâ’!” (Hai ayahku! Betapa indahnya langit itu!). Lantaran kata ahsan dibaca dommah/rofa’ (menjadi ahsanu), Abul Aswad mengira ucapan ini sebuah kalimat istifham (interogatif yang artinya; manakah benda yang terindah di langit itu?). Maka, ia pun segera menyahutnya: “Nujumuha” (bintang-bintangnya).
    “Aku ini sedang terkangum-kagum dengan penciptaan  langit itu, ayah!”, begitu tukas sang anak. Abul Aswad cepat menegurnya: “Kalau begitu, katakan: ‘Ma ahsana al-sama’, yakni ucapkan akhir kata ahsan dalam keadaan fathah/nashb (menjadi ahsana)!”. Selekas itu, Abul Aswad menyusun bab ‘Ta’ajjub wal Istifhâm’.
    Tentu kita semua tahu bahwa tidak ada pertentangan di antara riwayat-riwayat di atas, karena semua itu menjelaskan satu sebab dan alasan di balik upaya Abul Aswad dalam menyusun beberapa tema Nahwu. 
    Namun, ada tanggapan atas apa yang dibawakan oleh Ibnu Nadim dalam kitab Al-Fehrest dan Syeikh Abul Hasan Sulamah ibn ‘Ayan ibn Ahmad, seorang pakar Nahwu dari Syam, di awal kitab Al-Mishbah fin Nahw yang mengatakan: “Para tokoh telah berselisih pendapat tentang sebab yang mendorong Abul Aswad untuk menyusun ilmu Nahwu.”
    Sebagai contoh, Abu Ubaidah berpendapat bahwa Abul Aswad belajar ilmu Nahwu pada Ali ibn Abi Thalib a.s. Sesungguhnya ia merumuskan suatu kaidah baru yang dipelajarinya dari Ali a.s. dan diajarkannya kepada seseorang, sampai-sampai Ziyad berpesan kepadanya agar mengerja-kan sesuatu yang kelak menjadi pedoman bagi masyarakat luas dan sebagai alat untuk membaca dan memahami Al-Quran. Namun ia tidak menyanggupinya. Sampai pada suatu hari, ia mendengar seseorang membaca ayat; Innallâha bariun minal Musyrikina warosulihi. Dalam batinnya, Abul Aswad berkata: “Aku tak mengira kekeliruan orang-orang ini sampai sebegini parahnya!” Karena itu, ia pun kembali menemui Ziyad dan menyatakan: “Aku akan mengerjakan apa yang telah kau pesankan itu. Untuk itu, siapkan seorang sekretaris yang akan menuliskan apa-apa yang aku katakan!”
    Sejak itu, Abul Aswad dibantu oleh seorang sekretaris dari Bani Abdul Qois, namun ia tidak puas dengan cara kerjanya sehingga digantikan oleh sekretaris yang lain. Abul Abbas Al-Mubarrad berpendapat bahwa sekretaris ini juga masih dari Bani Abdul Qois. Abul Aswad berkata kepadanya: “Jika kau melihat aku membuka (fatahtu) mulutku dengan bunyi sebuah huruf, maka buatlah titik di atas huruf itu, jika aku membulatkan (dhomamtu) mulutku dengan bunyi suatu huruf, maka buatlah titik di depan huruf itu, dan jika aku menarik keluar (kasartu) mulutku dengan bunyi suatu huruf, maka buatlah titik di bawah huruf itu!’ Demikianlah titik-titik yang dibuat oleh Abul Aswad.’”
    Pada hemat saya, kisah ini tidak ada kaitannya dengan subjek yang sedang kita bahas di sini. Pembahasan kita kali ini ialah berkenaan dengan sebab penyusunan ilmu Nahwu, bukan penyusunan kitab. Anehnya, kedua pakar ini malah membawakan kisah di atas ini untuk menerangkan sebab penyusunan ilmu Nahwu. Coba perhatikan secara baik!
    * * *
    Penutup
    Yaitu tentang arti dari nama nahwu dan bahasa Arab secara lingustik. Arti perkataan Imam Ali ibn Abi Thalib a.s.: “Unhu nahwahu!”, adalah ‘Tempuhlah jalannya!’. Al-Baihaqi berkata: “Nahwu ialah istiqomah (jalan yang lurus). Maka itu, Nahwu adalah sebuah metode yang meluruskan tutur bahasa bangsa Arab.” Sekelompok pakar berpendapat bahwa kata ‘nahwu’  berarti nahiyah (arah). Abu Utsman Al-Mazani berkata: “An-Nahw adalah arah pembicaraan.” Nahwu juga berarti contoh, seperti pada saat Anda mengatakan: “Hadza ‘ala nahwihi”, (ini sesuai dengan contohnya).
    Al-Khalil berkata: “Nahwu yaitu tujuan. Arti ini muncul ketika Ali a.s. mendengar seseorang berbicara keliru, dan menyuruh Abul Aswad Ad-Duali: ‘Buatlah sebuah pedoman untuk bahasa Arab! Sungguh telah ditemui banyak penda-tang dan keturunan dari pernikahan dengan orang-orang non-Arab.’ Tatkala Abul Aswad telah meletakkan pedoman itu, Amiril Mukminin Ali a.s. mengatakan: ‘Sungguh indah nahwu yang kau kembangkan di dalamnya!’ Maksud beliau dari kata ‘nahwu’ di sini ialah arah dan cara. Kemudian beliau memerintahkan kepada anak-anak keturunan Arab: ‘Unhu nahwahu!”, yakni ikutilah arahnya dan jalanilah caranya!’”
    Saya katakan bahwa arti kata ‘nahwu’ ialah arah yang dituju. Misalnya, Anda mengatakan: “Naha nahwahu”, yakni dia telah menuju ke arahnya. Adapun arti dari ucapan Imam Ali a.s., bahwa tujulah arah orang Arab dan Arabiyyah, yaitu nama bahasa Arab. Dikatakan bahwa Arabiyyah yaitu bahasa Arab yang yang baik, benar, fasih dan jelas. Dan seorang Arab itu disebut sebagai orang Arab lantaran ia arobul alfadz, yakni orang yang berbicara jelas.
    Al-Ashma’ie mengisahkan: “Seorang bapak menasihati  anak laki-lakinya: ‘Anakku! Perbaiki tata dan tutur bahasamu! Karena lelaki yang diwakili oleh seorang perempuan harus pandai berdandan dan merias wajah, lalu ia bisa meminjam pakaian dari ayah atau saudaranya, akan tetapi dia tidak menemukan seorang pun yang akan meminjamkan lisannya.’”

    Pasal Keempat
    Tentang Orang Pertama
    yang Belajar Nahwu pada Abul Aswad
    Ketahuilah, bahwa orang pertama yang belajar Nahwu pada Abul Aswad Ad-Duali ialah putranya sendiri yang bernama ‘Atha’ ibn Abul Aswad lalu Yahya ibn Ya’mur Al-‘Udwani, sebagaimana yang ditegaskan oleh Abu Hatim As-Sajastani dan Abu Thayyib, seorang tokoh bahasa Arab, dalam kitab Marotib An-Nahwiyyin. Dua nama ini adalah imam dalam ilmu Nahwu pasca Abul Aswad. Ibnu Qutaibah dalam kitab Al-Ma’arif mengatakan: “Abul Aswad memiliki dua anak laki-laki, yaitu ‘Atha dan Abu Harb. Bersama Yahya ibn Ya’mur Al-‘Udwani, ‘Atha’ menekuni tata bahasa Arab setelah Abul Aswad. ‘Atha tidak mempunyai keturunan. Sedangkan Abu Harb ibn Abul Aswad adalah anak yang cerdas dan penyair yang mahir.”
    Yang masih menjadi perdebatan ialah bahwa ‘Atha’ dan Abu Harb adalah dua nama untuk dua orang. Dalam Fehrest Asma’ Mushannifisy Syi’ah; karya Abul Abbas An-Najasyi, nama panggilan nasab ‘Ahta’ adalah Abu Harb. Maka, nama lengkapnya ialah Abu Harb ‘Atha ibn Abul Aswad Ad-Duali. Ia adalah guru Al-Ashma’ie dan Abu Ubaidah. Ibnu Hajar dalam At-Taqrib mengatakan: “Abu Harb ibn Abul Aswad Ad-Duali Al-Bashri adalah seorang perawi yang terpercaya. Menurut sebagian pendapat, nama aslinya ialah Muhjan, sebagian lain mengatakan, ‘Atha’. Ia meninggal pada 108 H.” Sementara itu, Ruknuddin Ali ibn Abu Bakar di dalam Ar-Rukni fin Nahw menyatakan: “Ada lima orang yang belajar Nahwu pada Abul Aswad, di antara mereka adalah kedua putranya yang bernama ‘Atha’ dan Abul Harits.”

    Pasal Kelima
    Tentang Orang Pertama di Kota Basrah dan Kufah yang Mengembangkan Ilmu Nahwu  dan Mengurai Rincian Tema-temanya serta Memperkaya Argumentasinya
    Orang pertama dari Basrah ialah tokoh besar, bukti sastra dan lisan bangsa Arab, Abu Shofa Al-Khalil ibn Ahmad. Dialah yang menyusun dan menata ilmu Nahwu setertib dan seapik mungkin hingga mencapai titik inti kesempur-naannya dan berakhir di puncak tertinggi dari sebuah ilmu. Dia pula yang memberi inspirasi-inspirasi inovatif kepada Sibaweih berupa ketelitian dan kecermatan teorinya dan buah-buah pikirannya dan kelembutan mutiara-mutiara kihmahnya. Semua itu dikoleksi oleh Sibaweih dalam Al-Kitab-nya; yakni sebuah kitab yang sekaligus dapat menunjukkan kelemahan orang-orang sebelum Al-Khalil, sebagaimana juga dapat meluluh-leburkan tekad orang-orang yang datang setelahnya dalam berkreasi dan melakukan terobosan baru.
    Dari sebagian kesaksian para pakar, dapat disimpulkan bahwa Al-Khalil tidaklah mengarang kitab mengenai ilmu Nahwu. Namun, Ibnu Khalkan dan sebagian pakar yang lain menisbahkan kitab Al-‘Awamil kepadanya. Sementara itu, As-Suyuthi meyakini kitab Al-jumal wal Syawahid sebagai salah satu karyanya. Mereka semua menyatakan bahwa Sibaweih telah meriwayatkan ilmu Nahwu dari Al-Khalil ibn Ahmad sebanyak seribu lembar, sebagaimana yang dilaporkan oleh As-Suyuthi dalam kitab Ath-Thabaqot.
    Adapun orang pertama dari kota Kufah ialah Syiekh Abu Ja’far Ar-Rawasi; tokoh utama dan bapak mazhab nahwu Kufah. Nama lengkapnya ialah Muhammad ibn Al-Hasan ibn Abu Sarah Al-Kufi. Jalaluddin As-Suyuthi―tatkala mengulas riwayat hidupnya dalam kitab Ath-Thabaqot―mengatakan: “Ar-Rawasi adalah orang pertama dari mazhab Kufah yang mengarang kitab di bidang Nahwu. Ia juga guru Al-Kisaie dan Al-Farra’. Kepadanya Al-Khalil pernah mengirim utusan dan meminta karangannya. Ar-Rawasi pun memenuhinya dan mengirimkan karyanya kepada imam mazhab Basrah itu. Al-Khalil membacanya dan mendapatkannnya bahwa semuanya sama dengan apa yang tercantum dalam kitab Al-Kitab Sibaweih. Dan tatkala dibicarakan pendapat mazhab Kufah, maksudnya adalah Ar-Rawasi ini.” Kitabnya dikenal dengan judul Al-Faishal, sebagaimana telah ditegaskan oleh pengarang Al-Mazhar.
    Syeikh Abu Ja’far Ar-Rawasi adalah salah seorang ulama Syi’ah. Riwayat hidup dan judul karya-karyanya terdapat  dalam kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah. Ia adalah salah satu sahabat Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir a.s. dan Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq a.s. Dan dia adalah bintang ilmu dan sastra. Riwayat hidupnya telah dibawakan secara terinci dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.

    Pasal Keenam
    Tentang Tokoh-tokoh Besar Ilmu Nahwu
    dari Kaum Syi’ah
    Di antara mereka ialah ‘Atha’ ibn Abul Aswad. Nama ini telah kami singgung secara memadai di pasal keempat.
    Di antara mereka ialah Yahya ibn Ya’mur Al-‘Udwani Al-Wasaqi Al-Mudhorri dari warga Basrah dari kabilah ‘Adnan ibn Qois ibn Ghilan ibn Mudhor, mirip dengan seseorang dari kabilah Bani Laits ibn Kinanah. Yahya adalah salah satu imam qiroah (bacaan Al-Quran) dari Basrah, dan padanya Abdullah ibn Ishaq belajar ilmu Qiroah. Ibnu Khalkan mengatakan: “Ia seorang alim yang menguasai Al-Quran, Nahwu dan pelbagai bahasa. Ia belajar Nahwu pada Abul Aswad Ad-Duali. Dan ia termasuk Syi’ah generasi pertama yang meyakini keutamaan Ahlul Bait a.s. tanpa menjatuh-kan keutamaan selain mereka.”
    Saya katakan bahwa data serupa juga dilaporkan oleh Al-Hakim dalam kitab Ta’rikh Naysabur. Di sana, ia memuji dan mengagungkan Yahya sedemikian tingginya. Sebagian pujian atas Al-Hakim telah saya nukil dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam. Di dalamnya juga saya telah membawakan apa yang tercatat dalam Ar-Raudh Az-Zahir, yaitu diskusinya dengan Hajjaj ibn Yusuf. Di hadapannya, ia membuktikan bahwa Hasan dan Husein adalah dua putra Rasulullah saw. yang tersinggung dalam firman; “Wa wahabna lahu Ishaqo wa Ya’quba”, sampai firman; “Wa Isa wa Ilyas” (QS.6:84-85).
    Yahya ibn Ya’mur berkata kepada Hajjaj: “Dalam ayat ini, siapakah ayah Nabi Isa, sedangkan setelah namanya, Allah swt. membawakan keturunan Nabi Ibrahim, dan di antara Nabi Isa dan Nabi Ibrahim tidak lebih banyak dari di antara Hasan, Husein dan Nabi Muhammad saw.?”
    Hajjaj menjawab: “Sungguh aku tidak mendapatkanmu selain telah menarik suatu kesimpulan dan membawakan ayat itu sebagai bukti yang kuat dan argumentasi yang jelas.”
    As-Suyuthi dalam Bughyatul Wu’at menyatakan bahwa Yahya ibn Ya’mur wafat pada tahun 129 H. Sementara di dalam At-Taqrib, ia mengatakan tahun wafatnya jatuh pada tahun sebelum masuk abad kedua, dan sebagian pendapat mengatakan setelah masuk abad kedua. 
    Di antara mereka ialah Muhammad ibn Al-Hasan ibn Abu Sarah Abu Ja’far, tokoh kaum Anshar. Ia terkenal dengan nama Ar-Rawasi Al-Kufi, imam mazhab nahwu dan bahasa di Kufah. Di antara tokoh mazhab Kufah, Ar-Rawasi adalah orang pertama yang menulis tentang Nahwu, sebagaimana yang baru saja dibahas di pasal kelima. Ia wafat pada tahun setelah setarus Hijriyah. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mencatat riwayat hidup dan karya-karyanya secara lengkap.
    Di antara mereka ialah Al-Farra’, nama besar dan disegani di dunia Nahwu. Nama lengkapnya adalah Yahya ibn Ziyad yang bertangan buntung dari warga Kufah. Tangan sang ayah ditebas dalam peristiwa Fakh. Ziyad ibn Abdullah  berada di barisan Husein ibn Ali ibn Hasan Ketiga ibn Hasan Kedua ibn Hasan cucunda Rasul saw. Dalam kitab Riyadhul ‘Ulama’ dikatakan: “Catatan As-Suyuthi mengenai kecenderungan Al-Farra’ kepada mazhab Mu’tazilah mungkin berawal dari kekeliruannya dalam memilah dasar-dasar mazhab Syi’ah dan mazhab Mu’tazilah. Sebab, sejatinya ia adalah seorang penganut Syi’ah Imamiyah, sebagaimana telah ditegaskan di atas tadi.”
    Dinukil dari Abul Abbas Taghlab: “Seandainya Al-Farra’ tidak ada, bahasa Arab pun tidak akan pernah ada. Karena, dialah yang memurnikan dan mencatatnya sebegitu cermat.” Abul Abbas melanjutkan: “Seandainya Al-Farra’ tidak ada, bisa dipastikan bahasa Arab akan punah, sebab bahasa ini selalu menjadi pusat perselisihan dan persaingan klaim oleh setiap orang yang ingin bicara. Mereka membicarakan bahasa ini begitu gampang dengan pelbagai kadar pikiran dan cita rasa mereka, lalu kita pun membuat mazhab baru.”
    Saya katakan bahwa di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mencatat riwayat hidup dan bebarapa karya Al-Farra’, dan bahwa ia wafat pada tahun 207 H., yaitu dalam perjalanan menuju Mekkah pada usia 63 tahun. 
    Di antara mereka ialah Abu Utsman Bakar ibn Muham-mad ibn Habib ibn Baqiyyah Al-Mazani dari Bani Mazan dari keturunan Syaiban ibn Dzahal ibn Tsa’labah ibn ‘Ukabah ibn Sha’b ibn Ali Bakr ibn Wail, pemuka para tokoh Nahwu dan bahasa Arab di Basrah. Kepeloporannya di bidang ini sudah sangat masyhur. Abu Utsman adalah seorang ulama Syi’ah Imamiyah. Saya telah mengulas nama ini pada pembahasan ilmu Sharaf. Menurut pendapat yang paling kuat, ia wafat pada tahun 248 H.
    Di antara mereka ialah Imam Ibnu Hamdun, sekretaris dan penasehat dekat khalifah yang tersohor akan nahwunya. Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Ibrahim ibn Ismail ibn Dawud ibn Hamdun. Yaqut berkata: “Abu Ja’far Al-‘Alawi di dalam Mushonnifil Imamiyah telah membahas nama ini dan menyatakan bahwa ia adalah guru besar para pakar bahasa Arab. Ibnu Hamdun juga adalah guru Abul Abbas Taghlab. Sebelum Ibnu ‘A’rabi, Abul Abbas telah lebih dahulu belajar padanya dan keluar sebagai murid unggul di kelasnya.”
    Saya katakan bahwa data ini juga terdapat dalam Fehrest Mushannifisy Syi’ah, karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan Fehrest Asma’ Mushonnifisy minal Imamiyah, karya An-Najasyi, sebagaimana dilaporkan oleh Yaqut. Saya juga telah mem-bawakannya dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam dengan beberapa tambahan.
    Di antara mereka ialah Abul Abbas Al-Mubarrad. Nama lengkapnya ialah Muhammad ibn Yazid ibn Abdul Akbar ibn ‘Umair Ats-Tsumali Al-Azdi, seorang warga Basrah, tokoh bahasa dan nahwu yang masyhur. Di jamannya, ia adalah imam bahasa Arab. Al-Mubarrad belajar ilmu-ilmu bahasa Arab pada Imam Abu Utsman Al-Mazani hingga lulus di bawah asuhannya. ihwal kesyi’ahan Al-Mubarrad, saya telah membawakan kesaksian dan sejarah hidupnya.
    Di antara mereka ialah Tsa’labah ibn Maimun; Abu Ishaq; sesepuh kabilah Bani Asad lalu menjadi tokoh di kabilah Bani Salamah. Ketika itu, ia adalah imam bahasa Arab di Kufah. Berdasarkan catatan dari kitab Fehrest Asma’ Mushannifisy karya An-Najasyi, Tsa’labah berperangai mulia, serbazuhud dan ahli ibadah. Kemudian, An-Najasyi mence-ritakan satu dari sekian kisah-kisahnya, yaitu ketika penguasa Abbasiyah; Harun ibn Muhammad Ar-Rasyid memasuki kota Kufah. Ia juga telah meriwayatkan dari Imam Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq dan Imam Musa Al-Kadzim a.s., sampai ia menulis kitab di bidang hadis. Saya telah memaparkan semua ini di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
    Di antara mereka ialah Abul Qosim Al-Jurji; seorang warga Kufah dan tokoh Nahwu ternama. Nama lengkapnya adalah Sa’id ibn Muhammad ibn Sa’id Al-Jurji. As-Sam’ani dalam kitab Al-Ansab mengatakan: “Ia adalah salah satu imam ilmu nahwu, dan dikenal kejujurannya. Al-Jurji juga begitu fanatik dan berlebihan dalam kesyi’ahannya.”
    Di antara mereka ialah Ya’qub ibn Sufyan, salah satu tonggak sastra, mujtahid dalam setiap bidang ilmu-ilmu keislaman, khususnya ilmu-ilmu bahasa Arab. Ibnu Atsir di dalam Al-Kamil mengatakan: “Ia termasuk ulama dan tokoh Syi’ah”. Ya’qub wafat pada 277 H.
    Di antara mereka ialah Qutaibah An-Nahwi Al-Ja’fi dari warga Kufah dan salah satu imam ilmu Nahwu dan bahasa. An-Najasyi dalam kitabnya; Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah menggambarkan dirinya sebagai seorang niktalopik (rabun malam) dan beradab tinggi. Panggilan nasabnya adalah Abu Muhammad Al-Maqorri, tokoh di negeri Azd, sebagaimana yang disebutkan oleh As-Suyuthi di dalam Ath-Thabaqot.
    Berdasarkan data Az-Zubaidi, As-Suyuthi memasukkan Qutaibah Al-Ja’fi ke dalam daftar imam para pakar Nahwu dari mazhab Kufah, dan mengatakan: “Ketika salah seorang sekretaris Khalifah Al-Mahdi menjumpai nama dusun-dusun Arab, ia menambahkan tanda baca  tanwin pada akhir nama setiap dusun, namun Syubaib ibn Syaibah memprotesnya. Maka, sekretaris itu menanyakan hal ini kepada Qutaibah. “Jika yang dimaksudkan adalah dusun-dusun Hijaz, maka nama-nama itu tidak bisa di-tanwin, sebab semua itu berstatus ghairu munshorif. Adapun nama dusun-dusun Sudan, bisa di-tanwin, karena mereka berstatus munshorif”, demikian jawab Qutaibah.
    Di antara mereka ialah As-Sayyari. Nama aslinya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Sayyar, Abu Abdillah; seorang sekretaris, tokoh Nahwu, bahasa, syair dan sastrawan dari mazhab Basrah. An-Najasyi mengatakan: “Ia adalah salah satu sekretaris Khalifah Ath-Thahir di jaman Imam Abu Muhammad Hasan Al-Askari a.s.” As-Sayyari mempunyai banyak karangan yang semuanya telah saya sebutkan dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
    Di antara mereka ialah Abu Bakar Ash-Shouli. Ia belajar pada Al-Mubarrad. Pribadi ini telah dibahas pada bab-bab sebelum ini.
    Di antara mereka adalah Abu Ja’far. Nama lengkapnya ialah Muhammad ibn Salamah ibn Nabil Al-Yasykari, tokoh Nahwu dan disegani di kalangan ulama Syi’ah dari mazhab Kufah. Ia juga seorang faqih yang handal dan ahli bahasa. Abu Ja’far Al-Yasykari seringkali keluar ke perkampungan baduwi. Ia bergaul dan belajar banyak dari orang-orang Arab di sana. Padanyalah Ya’qub ibn Sikkit dan Muhammad ibn Abduh An-Naib belajar.
    An-Najasyi menuturkan: “Dan rumah Al-Yasykari adalah rumah yang kaya akan ilmu dan keutamaan. Di dalamnya lahir penulis-penulis sampai jaman sekarang ini.” Lalu, An-Najasyi mendaftar judul karya-karyanya, dan saya sendiri telah membawakan semua itu dalam kitab Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.  
    Di antara mereka ialah Abu Ja’far, seorang tokoh Nahwu yang terkenal dengan panggilan Abu ‘Ashidah. Nama aslinya adalah Ahmad ibn Ubaid ibn Nashih ibn Balanjar, tokoh Bani Hasyim, berasal dari daerah Dailam-Kufah. Ia adalah salah satu imam bahasa Arab dan guru sastra Khalifah Al-Mu’tazz ibn Al-Mutawakkil. Abu ‘Ashidah belajar pada Al-Ashma’ie hingga sejajar dengan kelasnya. Ia juga meriwa-yatkan hadis dari Al-Waqidi dan menurunkannya kepada Al-Qosim Anbari. Bahkan melaluinya, sekelompok perawi meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait  a.s. dari Al-Waqidi dan yang lain. Dikisahkan bahwa Abu ‘Ashidah pernah mendapatkan kesempatan bersama Al-Mu’tazz untuk membunuh Khalifah Al-Mutawakkil. Kisah ini dinukil oleh Nurullah Al-Mar’asyi dalam Thabaqotusy Syi’ah, pada tema riwayat Abu ‘Ashidah.
    Di antara mereka ialah guru besar sastra; Abu Ali Al-Farisi. Nama aslinya adalah Al-Hasan ibn Ali ibn Ahmad ibn Abdul Ghaffar ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Aban Al-Qoswi. Dialah imam Nahwu di jamannya. Malah dikatakan bahwa Nahwu dirintis oleh orang Persia (Iran), dan oleh orang Persia pula ilmu Nahwu dituntaskan secara sempurna. Yakni dirintis oleh Sibaweih dan dituntaskan oleh Abu Ali Al-Farisi. Ia pernah menjumpai Saifuddaulah di Halab pada tahun 331 H. dan menetap di selama beberapa waktu, lalu melanjutkan perjalanan hingga menemui ‘Adhduddaulah ibn Baweih di negeri Persia. Di sana, dia disambut dan dilayani secara terhormat.
    Berdasarkan data dari Riyadhul ‘Ulama’ dan kitab-kitab lainnya, Abu Ali Al-Farisi adalah seorang penganut Syi’ah Imamiyah. Sungguh keliru anggapan sebagian peneliti yang menisbahkannya kepada mazhab Mu’tazilah. Dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah bawakan riwayat hidupnya secara lengkap, termasuk karya-karyanya. Tahun kelahiran Abu Ali Al-Farisi jatuh pada 288 H. dan wafat pada hari Ahad, 17 Rabiul Tsani, 377 H.
    Di antara mereka ialah Al-Arjani Faris ibn Sulaiman; Abu Syuja’ Al-Arjani. An-Najasyi mengatakan: “Ia adalah salah satu guru besar para ulama Syi’ah, kaya akan khazanah sastra dan hadis. Ia pernah bersahabat dengan Yahya ibn Zakaria At-Termosyiri dan Muhammad ibn Bahar Ar-Rahbi. Pada kedua orang ini Al-Arjani belajar. Ia mengarang kitab musnad Abu Nawas, Hajar, Asy’ab, Buhlul dan Ja’faran.”
    Di antara mereka ialah Ibnu Kufi Ali ibn Muhammad ibn Ubaid Az-Zubair, berasal dari Bani Asad, dan bermazhab Syi’ah Imamiyah. Ia termasuk tokoh-tokoh besar dari sahabat Abul Abbas Taghlab, dan pemuka dalam bidang bahasa dari mazhab Kufah.
    An-Najasyi dalam kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah menyebutkan nama Ibnu Kufi dan memujinya. Begitu pula Sayyid Bahrul ‘Ulum di dalam Al-Fawaid Ar-Rijaliyah, sementara Yaqut dalam Al-Mu’jam dan As-Suyuthi dalam Ath-Thabaqot menerangkan riwayat hidupnya. Dan saya telah menukil beberapa statemen Ibnu Kufi dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam. Ibnu Kufi mengarang Al-Faroid wal Qolaidfil Lughah, Ma’anisy Syi’r dan kitab Al-Hamz. Ia lahir pada tahun 254 H. dan wafat pada Dzul Qo’dah, 348 H.
    Di antara mereka ialah Al-Akhfasy Pertama. Dia wafat pada 250 H. Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Imran ibn Salamah Al-Ilhani. Nama panggilan nasabnya adalah Abu Abdillah. Setelah menuliskan riwayat hidup Akhfasy, Yaqut mengatakan: “Dan dia mempunyai banyak syair mengenai Ahlul Bait a.s. Di antaranya:
    “Sungguh keturunan Fatimah yang berkah
    Manusia-manusia suci dari titisan nun mulia
    Musim semi kita di tahun terkutuk
    Mereka semua bak mahligai surga”
    Di dalam kitab Ar-Rijal, syair ini juga dinukil oleh Sayyid Bahrul ‘Ulum Ath-Thabathabai. Di sana ia menegaskan bahwa Al-Akhfasy termasuk penyair Ahlul Bait. Ketulusan cintanya pada keluarga suci Nabi saw. tidak diragukan lagi. Ia berasal dari Syam, namun berhijrah ke Irak guna menuntut ilmu, lalu bergerak menuju Mesir, kemudian menuju Thabariyah. Al-Akhfasy sempat berteman dengan Ishaq ibn Abdus. Dia mengajarkan sastra kepada anaknya di Thabariyah.
    Di antara mereka ialah Marzakkeh. Nama aslinya adalah Zaid. Ia berasal dari Mushil. Marzakkeh adalah salah seorang imam dalam ilmu Nahwu dari kaum Syi’ah. Demikian ini juga dinyatakan oleh As-Suyuthi di dalam Thabaqotun Nuhat. Ash-Shofadi mengatakan: “Ia adalah seorang tokoh Nahwu, penyair, sastrawan rafidhi. Adapun Ibnu Nadim mengenalkan Marzakkeh sebagai penyair dan mutakallim Syi’ah.”
    Di antara mereka ialah Ibnu Abu Azhari; seorang tokoh Nahwu ternama dari ulama besar Syi’ah. Di dalam kitab-kitab autobiografi pengarang-pengarang Syi’ah, riwayat hidup dan karya-karyanya diterangkan. Ini juga dibawakan oleh para ahli sejarah, termasuk oleh Al-Khatib dalam Ta’rikh Al-Baghdadi dan selainnya. Ibnu Abu Azhari wafat pada 325 H. pada usia sambilan puluh lebih.
    Di antara mereka ialah Abu Abdillah Muhammad ibn Abdullah, seorang menulis bermazhab Basrah, tokoh Nahwu dan penyair yang terkenal dengan Al-Mufji’e, sebagaimana telah dibahas sebelum ini. Yaqut mengatakan: “Ia salah satu tokoh besar Nahwu, penyair cemerlang dari kaum Syi’ah.” An-Najasyi menuturkan: “Ia dihormati oleh kalangan tokoh bahasa, sastra dan hadis.”
    Saya katakan bahwa Abu Abdillah mempunyai riwayat hidup yang panjang sebagaimana tersebut dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
    Di antara mereka ialah Ibnu Kholaweih; seorang imam bahasa dan sastra serta cabang-cabang ilmu sastra lainnya. Nama ini telah dipaparkan sebelum ini. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, terdapat riwayat hidup dan daftar judul karya-karyanya yang dicatat secara cermat. Ibnu Kholaweih wafat di Halab pada tahun 370 H.
    Di antara mereka ialah Al-Kholi’e; seorang pakar Nahwu. Nama lengkapnya ialah Husein ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad ibn Al-Husein Ar-Rofi’ie. Ash-Shofadi ber-kata: “Ia adalah tokoh besar para ahli Nahwu. Ia belajar pada Al-Farisi dan As-Sirofi, sebagaimana disebutkan oleh An-Najasyi dalam kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah. Di dalamnya, An-Najasyi juga mendata karya-karyanya, seperti kitab Sha’atusy Syi’r, Ad-Darojat, Amtsalul ‘Ammah, Takhayyulat Al-‘Arab, Syarah Syi’r Abi Tammam, dan kitab Al-Adwiyah wal Jibal wal Ar-Rummal. Husein ibn Muhammad Ar-Rofi’ie hidup pada sekitar tahun 380-an H.”
    Di antara mereka ialah Al-Marzebani Muhammad ibn Imran, seorang penulis dari Baghdad sebagaimana yang telah dibahas sebelum ini. Ia termasuk tokoh besar dalam pelbagai ilmu sastra Arab, belajar pada Ibnu Duraid dan Ibnu Anbari. Dan kepadanyalah Abu Abdillah Ash-Shoimari, Abul Qosim At-Tanukhi, Abu Muhammad Al-Jauhari dan pakar bahasa lainnya. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah membawakan daftar judul karya-karyanya secara lengkap.
    Di antara mereka ialah Abul Fatah Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad Al-Hamadani Al-Muraghi An-Nahwi. Yaqut mengatakan: “Ia penghafal kuat Al-Quran, tokoh Nahwu dan sastrawan kelas tinggi.” Begitu pula At-Tauhidi menuturkan: “Di masanya, Abul Fatah merupakan model unggul dalam ilmu Nahwu dan sastra meskipun usianya masih amat muda. Selama ini aku tidak menemukan orang sepertinya.”
    Dalam kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah, An-Najasyi mengatakan: “Abul Fatah adalah imam besar ilmu Nahwu dan bahasa Arab dari Baghdad, kuat hafalan, perawi sthiqoh riwayat-riwayat yang shahih. Abu dan ia amat meminati analisis kalimat.” Ia wafat pada tahun 371 H. Saya telah telah memaparkan karya-karyanya dalam kitab Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
    Di antara mereka ialah Al-Husein ibn Muhammad ibn Ali Al-Azdi Abu Abdillah, seorang tokoh Nahwu dari Kufah. An-Najasyi mengatakan: “Ia adalah seorang perawi tepercaya dari ulama Syi’ah. Ilmu-ilmu yang tampak lebih dikuasai-nya ialah Siroh, Sastra dan  Syair. Di antara karya-karya Al-Husein ibn Muhammad Al-Azdi ialah kitab Al-Wufud ‘ala An-Nabi saw. dan  kitab Akhbaru Ibn Abi ‘Aqob wa Syi’ruhu.” Ia wafat di akhir abad ketiga Hijriyah.
    Di antara mereka ialah Ahmad ibn Ismail ibn Abdullah Abu Ali Al-Bajali, seorang pemuka bahasa Arab yang lebih dikenal dengan nama Samkah Al-Qummi. Dia guru Ibnu Al-‘Amid; salah seorang tokoh utama sastra Arab dan Nahwu. Ahmad Al-Bajali belajar sastra pada Ahmad ibn Abu Abdillah Al-Barqi dan selainnya. An-Najasyi mengatakan bahwa dia menulis kitab-kitab yang tidak ditemukan padanannya. Kemudian, An-Najasyi menyebutkan judulnya satu persatu, sebagaimana saya juga menukilnya dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
    Di antara mereka ialah Abul Hasan As-Simsathi. Pada masa itu, ia adalah tokoh utama di setiap bidang sastra dan bahasa Arab. Hampir di setiap bidang ilmu, ia mempunyai karangan ilmiah. Saya telah membawakan daftar seluruh karyanya dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam. An-Najasyi mengatakan: “Dialah guru besar kami di Jazirah Arab, ulama terkemuka di masanya dan sastrawan tersohor.” Kemudian An-Najasyi menyebutkan judul karya-karyanya.
    Saya katakan bahwa As-Simsathi juga menulis surat-surat untuk Saifuddaulah. Tepatnya, ia berada sekelas dengan Al-Kulaini.
    Di antara mereka ialah Syeikh Ibnu ‘Abdun yang pada masanya terkenal dengan nama; Ibnul Hasyir. Nama aslinya adalah Ahmad ibn Abdul Wahid ibn Ahmad Al-Bazzaz. Adapun nama panggilan nasabnya yaitu Abu Abdillah. Ibnul Hasyir merupakan tokoh besar di bidang sastra, fiqih dan hadis. Ia banyak mengoleksi kisah dan riwayat.
    An-Najasyi mengatakan: “Guru besar kami yang masyhur dengan nama Ibnu ‘Abdun adalah pakar besar dalam sastra. Ia telah mempelajari kitab-kitab sastra pada guru-guru besar di jamannya. Ia juga pernah berjumpa dengan Abul Hasan Ali ibn Muhammad Al-Qurasyi yang terkenal dengan pang-gilan nasab Ibnu Zubair. Pada saat yang sama, Ibnul Hasyir adalah penganut kepercayaan akan kekhalifahan Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang banyak kitab, seperti Akhbaru As-Sayyid ibn Muhammad, At-Ta’rikh, Tafsir Khutbah Fathimah a.s., Al-Jumu’ah, dan kitab Al-Haditsiyyin Al-Mukhtalifin.”
    Saya katakan bahwa Ibnul Hasyir juga mengarang kitab Adabul Khulafa’. Ia wafat pada tahun 323 H. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi meriwayatkan hadis darinya dan mendapatkan ijazah periwayatan semua hadis yang diriwayatkannya.
    Di antara mereka ialah Ibnu Najjar, tokoh Nahwu dari Kufah. Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad ibn Harun ibn Fauqoh Abul Husein At-Tamimi. Ia adalah pengarang kitab Al-mukhtashar fim An-Nahw dan kitab Al-Malih wan Nawadir. Yaqut mengatakan: “Ibnu Najjar dilahirkan di Kufah pada tahun 303 H. atau 311 H. Lalu ia datang ke Baghdad dan belajar hadis pada Ibnu Duraid dan Nafthaweih. Ia adalah seorang perawi yang terpercaya dan pembaca terindah Al-Quran.”
    Dan pada hemat saya, Ibnu Najjar termasuk guru besar An-Najasyi; penulis kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah. Ia sendirinya menyebut namanya dengan penuh hormat dan sanjungan, selain juga menyebut-kan karya-karyanya seperti: kitab Ta’rikh Al-Kufah.
    Di samping itu, tak diragukan lagi bahwa Ibnu Najjar, selain nama panggilan untuk orang yang kita bicarakan ini, juga nama panggilan seseorang yang bernama Muhibuddin Muhammad ibn Mahmud ibn Hasan ibn An-Najjar; penulis kitab At-Tahshil wat Tadzlil, sebagaimana laporan dari Ta’rikh Al-Baghdadi. Muhibuddin adalah seorang ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah, sedangkan Ibnu Najjar yang kita bicarakan di sini adalah seorang ulama Syi’ah Imamiyah. Ibnu Najjar wafat pada tahun 420 H. atau 460 H.
    Di antara mereka ialah Abul Faraj Al-Qannani, pakar ilmu Nahwu dari Kufah. Ia adalah penjual kertas, sebagai-mana disebutkan oleh An-Najasyi di dalam Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah. Di sana, An-Najasyi juga mendata nama karya-karyanya. Sesungguhnya Abul Faraj adalah salah satu guru An-Najasyi. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya membahas nama ini di antara ulama abad keempat Hijriyah.
    Di antara mereka ialah Abul Faraj Muhammad ibn Abu Imran Musa ibn Ali ibn Abdurabbah Al-Qazweini. Ia  penulis dan tokoh Nahwu dari mazhab Kufah, sebagaimana yang dinyatakan oleh An-Najasyi yang hidup semasa dengannya, hanya saja ia tidak mendapatkan kesempatan untuk bertukar ilmu dan pikiran dengannya. Abul Faraj Al-Qazweini hidup di abad keempat Hijriyah.
    Di antara mereka ialah Abul Hasan Ar-Rab’ie. Nama aslinya adalah Ali ibn Isa ibn Al-Faraj ibn Shaleh Ar-Rab’ie. Ibnu Katsir Asy-Syami di dalam At-Ta’rikh berkata: “Pada mulanya, Ar-Rab’ie belajar ilmu-ilmu bahasa Arab pada As-Sirofi, lalu pada Abu Ali Al-Farisi dan secara intensif dan penuh berguru padanya selama dua puluh tahun hingga mencapai puncak kematangan dan ketinggian ilmu.”
    Ibnu Katsir melanjutkan: “Suatu hari, ia jalan-jalan di tepi sungai Dajlah. Sementara itu, Syarif Al-Murtadha dan Syarif Ar-Radhi berada di sebuah sampan di sekitar tepi sungai tersebut. Bersama mereka adalah Utsman ibn Janey Abu; Fath. Ali ibn Isa berkata kepada mereka berdua: ‘Hal yang paling mengherankan dari kalian berdua ialah bagai-mana Utsman bisa bersama kalian sedangkan Ali berjalan di tepi Dajlah dan jauh dari kalian?!’” Ali ibn Isa wafat pada tahun 420 H.
    Di antara mereka ialah Abu Ishaq Ar-Rifa’ie Ibrahim ibn Sa’d ibn Tayyib Ar-Rifa’ie, seorang tokoh Nahwu. Abu Ghalib Muhammad ibn Muhammad ibn Sahal ibn Bisyran An-Nahwi berkata: “Sungguh aku tidak pernah melihat orang yang lebih pandai dari Abu Ishaq Ar-Rifa’ie.”
    Abu Ishaq Ar-Rafi’ie seorang buta, belajar Nahwu pada As-Sirofi dan mempelajari Syarahnya atas kitab Al-Kitab karya Sibaweih. Dinukil bahwa ia mengarang beberapa kitab bahasa Arab dan koleksium syair. Ia pernah keluar dari kota Baghdad menuju Wasith. Padahal, sebelum kedatangannya di Baghdad, ia singgah di Wasith dan belajar Al-Quran di sana pada Abdul Ghaffar Al-Hishni. Ia selalu duduk di bagian depan masjid jami’ seraya membacakan Al-Quran untuk para jamaah masjid. Kisah demikian ini dibawakan oleh Yaqut dan dikatakan: “Kemudian ia singgah di Az-Zaidiyah. Di sanalah ia menemukan mazhab Rafidhah dan ‘Alawiyah. Karena itu, ia seringkali dinisbahkan ke mazhab ini. Sungguh ini sebuah fitnah dan kezaliman terhadap dirinya.” Abu Ishaq Ar-Rifa’ie wafat pada tahun  411 H.
    Di antara mereka ialah Abdul Salam ibn Al-Husein Abu Ahmad, seorang ahli Nahwu dari mazhab Basrah, sebagai-mana yang dicatat An-Najasyi dan digambarkannya sebagai guru besar sastra dari Basrah. Pada dasarnya, Abdul Salam adalah salah satu guru An-Najasyi di Kufah.
    Di antara mereka ialah Syarif Yahya ibn Muhammad ibn Thabathaba Al-‘Alawi. Panggilan nasabnya ialah Abul Mu’izz dan Abu Muhammad. Ia belajar Nahwu pada Ar-Rab’ie dan Asy-Syimas, dan padanya Ibnu Syajar belajar. Yaqut berkata: “Ibnu Syajar senantiasa bangga dengan nama Syarif Yahya.”
    Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest mengatakan: “Yahya Al-‘Alawi Abu Muhammad An-Naysaburi adalah seorang ahli Kalam dan pengarang banyak kitab.” Ia pernah ditemui oleh sekelompok pakar yang lalu belajar padanya, sebagaimana dicatat oleh As-Suyuthi dalam kitab Thabaqotun Nuhat, dan dikisahkan bahwa Syarif Yahya adalah seorang syi’ah.
    Saya katakan bahwa data ini juga ditegaskan oleh Syeikh Syi’ah Allamah Ibnu Muthahhar dalam Al-Khulashoh. Di sana ia mengatakan: “ Syarif Yahya adalah seorang faqih, alim dan mutakallim yang hebat. Ia tinggal di Naysabur.” Demikian ini juga dibawakan oleh An-Najasyi, Syeikh Ibnu Dawud dan tokoh-tokoh lainnya. Dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah menukil redaksi kesaksian-kesaksian mereka.
    Di antara mereka ialah Tsabit ibn Aslam ibn Abdul Wahhab Abul Hasan, seorang ahli Nahwu dari Halab. As-Suyuthi dalam Thabaqotun Nuhat mengatakan: “Adz-Dzahabi berkata: ‘Tsabit adalah salah satu tokoh besar Nahwu. Ia bermazhab Syi’ah. Ia mengarang sebuah kitab tentang ana-lisis atas bacaan Al-Quran ‘Ashim. Pada masa pemerintahan Saifuddaulah, ia menjabat sebagai kepala perpustakaan. Sementara itu, kaum Ismailiyyah menilai bahwa langkahnya itu malah akan merusak misi dakwah mereka, sebab ia mengarang sebuah kitab yang menyingkapkan rahasia-rahasia buruk mereka dan memulai dakwah kepada mereka. Maka itu, ia culik ke Mesir dan disalib di sana.’” Tsabit wafat pada kisaran 460 H.
    Di antara mereka ialah Abul Qosim At-Tanukhi. Nama lengkapnya Ali ibn Al-Muhsin ibn Ali ibn Muhammad ibn Abul Jaham. Pengarang Nasamatus Sahar pada tema ‘Mereka yang Bermazhab Syi’ah dan Penyair’, berkata: “Abul Qosim adalah seorang ulama besar, penyair dan sastrawan ulung, persis dengan ayah dan datuknya. Dia belajar bahasa Arab pada Abul ‘Ala’ Al-Ma’arri. Ia juga banyak meriwayatkan syair. Lain dari itu, Abul Qosim pernah menduduki jabatan sebagai hakim di beberapa negeri.”
    Saya katakan bahwa Abul Qosim At-Tanukhi juga pernah belajar Nahwu pada Sayyid Syarif Al-Murtadha. Muhammad ibn Syakir dalam Fawatul Wafiyyat mengatakan: “Dia adalah seorang syi’ah yang percaya pada Mu’tazilah.” Pendapat ini hanyalah kekeliruan dari Muhammad ibn Syakir. Sejatinya, Abul Qosim At-Tanukhi bermazhab Syi’ah Imamiyah. Ia lahir pada hari Selasa, pertengahan Sya’ban, 355 H, dan wafat pada 447 H. Al-Qodhi Al-Mar’asyi dalam Thabaqot Asy-Syi’ah memberikan kesaksian atas kesyi’ahan dirinya dan kesyi’ahan ayahnya; Al-Muhsin, serta datuknya; Al-Qodhi At-Tanukhi.
    Di antara mereka ialah Ali ibn Ahmad Al-Fanjkari. Dia berasal dari Fanj Kurd, yaitu sebuah daerah di Naysabur. Dia seorang sastrawan besar yang meraih mahkota syair Arab dan kebanggaan Syi’ah, yaitu syair Amiril Mukminin Ali a.s. Al-Maydani mengarang kitab As-Sami fil Asami fil Lughah dalam bahasa Persia. Di dalamnya, ia menyinggung nama Ali ibn Ahmad Al-Fanjkari dan memuji ketinggian ilmu, kemuliaan akhlak dan sastra Arabnya.
    Al-Qodhi Al-Mar’asyi dalam kitabnya; Thabaqotusy Syi’ah, mengatakan: “Ia seorang sastrawan hebat, berperangai mulia, cerdas dan seorang mukmin yang sempurna. Ia mempunyai syair-syair yang indah yang menyanjung Ahlul Bait a.s. Al-Mar’asyi membawakan bebarapa bait darinya.”
    As-Suyuthi mengatakan: “Ali Al-Fanjkari berada di kelas para sastrawan terunggul, pencipta komposisi syair dan prosa puitik yang berkembang luas dan mengalir deras. Ia belajar bahasa Arab pada Ya’qub ibn Ahmad; sang sastrawan besar. Di bawah asuhannyalah ia mematangkan talenta puisinya.”
    Pengarang kitab Al-Wasysyah, tatkala sampai di nama Ali Al-Fanjkari, mengatakan: “Ia dijuluki sebagai guru besar para pakar, mukjizat jaman, bukti para ahli.” Ia wafat pada 512 H. pada usia 80. Dalam kitab As-Siyaq tercatat tahun wafatnya jatuh pada 13 Ramadhan 503 H. Saya pun telah membawakan beberapa bait syairnya dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam. Ali Al-Fanjkari hidup semasa dengan Az-Zamakhsyari, dan terdapat banyak kisah tentang pengala-man dua tokoh ini.  
    Di antara mereka ialah raja para tokoh Nahwu bernama Al-Hasan ibn Shofie ibn Nizar ibn Abul Hasan. Dalam Kasyful Dzunun dinyatakan bahwa panggilan nasabnya adalah Abu Nizar. Penulisnya mengatakan: “Sebuah pilar Nahwu berada di tangan Abu Nizar; pemuka Rafidhah dan tokoh Nahwu. Nama aslinya adalah Hasan ibn Shofie Bardun dari bangsa Turki.” Abu Nizar wafat pada tahun 798 H.
    Namun, telah terjadi kekeliruan di dalam Ta’rikhul Wafat mengenai hari kelahiran dan wafat tokoh besar nahwu ini. Kekeliruan serupa juga dilakukan oleh As-Suyuthi tatkala ia mengatakan bahwa Abu Nizar wafat di Damaskus pada hari Selasa, 9 Syawal 568 H., dan hari kelahirannya jatuh pada tahun 489 H. Karena, sesungguhnya ia wafat pada tahun 463 H., sebagaimana yang dicatat di dalam Al-Khalal As-Sindiyah, dan ini dibenarkan oleh Ibnu Khalkan. Sang raja para tokoh ini belajar Nahwu pada Al-Fashihi yang bermazhab Syi’ah Imamiyah. Di bawah arahan guru ini, Abu Nizar mencapai kesempurnaan ilmunya. Lalu ia mengarang kitab Al-Hawi, Al-‘Umdah, Al-Maqshad fit Tashrif, Al-‘Arudh, At-tadzkirah As-Sanjariyah, Al-Maqomat, Al-Masailul ‘Asyr Al-Mu’ammayat, dan sebuah kitab kumpulan syair.
    Abu Nizar lahir di Baghdad lalu bertolak menuju kota-kota di Iran seperti Khurasan, Kirman dan Ghaznah. Sampai akhirnya ia tiba di negeri Syam lalu tinggal dan wafat di sana. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya menukilkan beberapa baitnya.
    Di antara mereka ialah Ali ibn Muhammad ibn Ali ibn Abu Zaid Al-Fashihi. Nama Al-Fashihi adalah sebuah nisbah kepada kitab Al-Fashih lantaran ia membacanya berulang kali. Ia berasal dari Istarabad di propinsi Jurjan. Al-Fashihi belajar pada Abul Qodir Al-Jurjani, dan padanyalah sang raja para tokoh itu, Abu Nizar, belajar Nahwu. Ia adalah imam di setiap bidang ilmu bahasa Arab dan membuka kuliah Nahwu di pusat pendidikan Nidzamiyyah di kota Baghdad di masa pasca Al-Khathib At-Tabrizi.
    Tak lama kemudian, masyarakat di sana mulai mengetahui mazhab Syi’ahnya. Tatkala berita ini disampaikan kepada-nya, ia mengatakan: “Aku tak akan menolak, aku seorang Syi’ah dari ubun-ubun sampai ujung kaki.” Karena itu, segera Abu Manshur Al-Jawaliqi memecatnya dan menyediakan posisi lain untuknya. Al-Fashihi wafat di Baghdad pada hari Rabu, 13 Dzul Hijjah, 516 H.
    Di antara mereka ialah Ibnu Syajari; guru Ibnu Anbari. dia orang pandai yang langka di masanya dan unggul dalam bahasa Arab, penguasaan bahasa dan syair-syair Arab. dia banyak menghafal sejarah bangsa Arab, menekuni sastra dan mempunyai akhlak yang sempurna. Data ini juga dibawa-kan oleh As-Suyuthi, Ibnu Khalkan, Yaqut, Ibnu Al-Anbari.
    Dari ulama Syi’ah yang melaporkan data ini ialah Syeikh Muntakhabuddin dalam kitab Fehrest Asma ‘Ulama’ Syi’ah Al-Muta’akhkhirin. Ia sendiri menukil data tersebut dari Syeikh Ath-Thusi, dan Syeikh Sayyid Ali ibn Shadruddin Al-Madani  dalam Ad-Darajat Ar-Rafi’ah fi Thabaqot As-Syi’ah.
    Sungguh As-Suyuthi telah melakukan kekeliruan dalam memaparkan nasab Ibnu Syajari, sebagaimana hal yang sama dilakukan oleh Yaqut dalam menafsirkan ihwal namanya, sebab nama aslinya ialah Hibatullah ibn Ali ibn Muhammad ibn Hamzah ibn Ahmad ibn Ubaidillah ibn Muhammad ibn Abdurrahman Asy-Syajari (bernisbah kepada Syajar, yaitu sebuah desa di salah satu daerah Madinah) ibn Al-Qosim ibn Al-Hasan ibn Zaid ibn Al-Hasan; cucunda yang mulia Nabi saw., putra tercinta Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Ibnu Syajari wafat pada tahun 537 H. Dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mendata karya-karyanya.
    Di antara mereka ialah Yahya Ibnu Abu Thayyi Ahmad ibn Dzahir Ath-Thaie Al-Kalbi Al-Halabi, seorang pakar besar Nahwu. Nama panggilan nasabnya ialah Abul Fadhl. Yaqut mengatakan: “Ia adalah salah satu tokoh sastra dan menekuni fiqih Syi’ah Imamiyah. Ia pengarang banyak karya di pelbagai bidang ilmu. Ibnu Abu Thayyi Al-Halabi hidup pada kisaran abad keenam Hijriyah.”
    Saya katakan bahwa penulis Kasyful Dzunun menegaskan bahwa kitab Akhbaru Syu’ara’ As-Sab’ah adalah karya Ibnu Abu Thayyi Yahya ibn Humaidah Al-Halabi yang wafat pada 335 H. Ia menyusun bab-bab kitab itu berdasarkan urutan huruf Abjad. Dan saya mengira keterangan ini tidak-lah benar. Yang tepat, kelahirannya jatuh pada bulan Syawal 575 H.
    Di antara mereka ialah Ahmad ibn Ali ibn Mu’qil Abul Abbas Al-Maqorri Al-Malhabi Al-Hamdhi, seorang sastrawan dari kabilah Azd. Ia adalah seorang pakar yang langka pada jamannya di bidang sastra dan bahasa Arab.
    As-Suyuthi mengatakan: “Adz-Dzahabi berkata: ‘Ahmad ibn Ali Al-Maqorri lahir pada tahun 567 H. Ia pergi menuju Irak. Di sana, dia menganut mazhab Rafidhah sambil belajar Nahwu pada Abul Baqo’ Al-‘Akbari dan Al-Wajih Al-Wasithi. Dia juga belajar ilmu itu di Damaskus pada Abul Yaman Al-Kindi dan menjadi pakar dalam bahasa Arab dan ‘Arudh hingga ia menulis kitab tentang dua ilmu ini. Ia merangkai syair sebegitu indah dan menata prosa puitik dan catatan penyempurnaan atas karya Al-Farisi. Ia melakukan semua itu secara baik dan mampu mengadakan hubungan dengan Al-Malik Al-Amjad dan mendapatkan kemuliaan di sisinya. Al-Maqorri hidup dengannya di sekitar kaum rafidhi di daerah itu.’”
    Ahmad ibn Ali Al-Maqorri amat kaya akan kekuatan dan keluasan pikirannya, berlebihan dalam kesyi’ahannya, dan pezuhud dunia. Dia wafat pada 25 Rabiul Awal 644 H.
    Di antara mereka ialah Ahmad ibn Muhammad Abul Al-Abbas Al-Asybili dari kabilah Azd. Dia terkenal juga dengan nama Ibnul Hajj. Ia termasuk salah satu imam ilmu Nahwu dan bahasa Arab. Ia belajar dan lulus dari bimbingan Asy-Syalubin dan tokoh-tokoh sekelasnya sampai menjadi imam dalam bahasa Arab, penguasa perbagai bahasa, dan tokoh besar dalam ‘Arudh. Pengarang kitab Al-Badrul Safir mengatakan: “Dia cemerlang dalam pengasaan bahasa Arab hingga tidak lagi menyisakan derajat di atas atau di sam-pingnya untuk seorang pun.”
    Majduddin di dalam Al-Bulghah mengatakan: “Ibnul Hajj pernah mengatakan: ‘Jika aku telah mati, Ibnu ‘Unfur akan melakukan intervensi atas Al-Kitab Sibaweih sesuka hatinya.” Ia sendiri mempunyai catatan atas kitab Sibaweih ini. Ia juga mengarang sebuah kitab tentang mazhab Syi’ah Imamiyah; sebuah kitab yang bagus yang membuktikan keimamahan dua belas imam Ahlul Bait a.s., sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Ma’alimul ‘Ulama’.
    Selain itu, Ibnul Hajj juga menulis kitab tentang Ulumul Quran, ringkasan atas Khashoish Ibnu Junay, kitab Hikam As-Sima’, Mukhtashorul Mustashfa’ karya Al-Ghazzali di bidang Ushul Fiqih, An-Nuqud ‘alal Shihah, dan kitab Al-Irodat ‘alal Maghrib. Ia pun mempunyai catatan pinggir atas kitab Al-Musykilat karya Al-Ghazali, catatan pinggir atas kitab Sirr Ash-Shina’ah dan atas Al-Idhah. Ibnul Hajj wafat pada tahun 647 H. Ibnu Abdul Malik mengatakan bahwa ia wafat pada tahun 561 H. Namun, yang tepat adalah yang pertama tadi.
    Di antara mereka ialah bintang para imam Nahwu, Ar-Ridha Al-Istarabadi. As-Suyuthi di dalam Thabaqot An-Nuhat mengatakan: “Ar-Ridha adalah tokoh besar yang masyhur, pengarang kitab Syarhul Kafiyah; sebuah syarah untuk Al-Kafiyah karya Ibnul Hajib. Kitab ini tidak ada padanannya dalam ukuran umumnya sebuah kitab Nahwu, baik dari segi cakupan, ketelitian  maupun analisisnya. Orang-orang banyak menekuni kitabnya ini, bahkan dijadikan bahan diskusi dan buku pelajaran dan rujukan bagi tokoh-tokoh sejamannya. Gelarnya adalah ‘Bintang Para Tokoh’, hanya saja saya tidak mengetahui nama aslinya atau pun riwayat hidupnya.”
    Al-Fadhil Al-Baghdadi pada pembukaan kitab Khazanatul Adab fi Syarhi Syawahid Syarh Ar-Ridha mengatakan: “Dan aku telah melihat di akhir naskah kuno dari syarah-syarah ini. Redaksi dari naskah itu berbunyi: ‘Ia adalah tuan, imam, alim, raja ulama, pemuka para ahli, mufti golongan-golongan, faqih yang besar, bintang agama dan bangsa, Muhammad ibn Al-Hasan Al-Istarabadi. Ia telah mendikte-kan syarah ini di Hadzrat Yang Mulia Al-Gharawi pada Rabiul Awal 688 H.”
    Saya katakan bahwa saya sendiri telah melihat tulisan tangan seorang alim dari Isfahan yang masyhur dengan nama Al-Fadhil Al-Hindi di balik lembaran syarah Ar-Ridha atas kitab Asy-Syafiyah fil Sharf. Berikut ini bunyi redaksi itu: “Inilah syarah kitab Asy-Syafiyah karya Syeikh Ar-Ridha Al-Murdhi, bintang agama, lambang kebenaran dan hakikat, Tuan Al-Istarabadi, yang menjulangkan kalimatnya sebegitu tingginya hingga melampaui bintang-bintang di langit dan menguraikannya secara lebih deras dari membuka bendu-ngan air. Bila ia mengucapkan sesuatu, hasrat akan ber-getar. Bila ia berbicara sebuah kalimat, pendengaran akan terpatri untuk menyimak. Dialah yang di tengah para tokoh tampil bagai raja yang ditaati, di hadapan pendukung dan menentangnya, di segenap negeri dan kawasan.”
    Saya tegaskan kembali bahwa di akhir-akhir syarahnya atas kitab Al-Kafiyah, yakni sebelum menjelaskan hukum Ha’ As-Sakt, Ar-Ridha mencantumkan tanggal penulisan syarah itu. Ia mengatakan: “Inilah akhir syarah atas Al-Muqoddimah. Segala puji bagi Allah atas segala nikmat dan kemurahan-Nya secara sempurna, dan shalawatnya atas  Muhammad dan keluarganya yang termulia. Dan telah tuntas serta tamat kalimat akhir syarah ini di Haram Hadzrat Yang Suci Al-Gharawi. Maka, atas pemilik dan pengawas Haram, sebaik-baiknya salam Tuhan keperkasaan pada Syawal 686 H.”
    Di antara mereka ialah Sayyid Ruknuddin, pengarang Al-Mutawassith; syarah Muqoddimah Ibnu Hajib ke dalam tiga syarah; yang paling masyhur di antara tiga syarah ini adalah syarah Al-Mutawassith. As-Suyuthi mengatakan: “Ibnu Rafi’e di akhir Ta’rikh Baghdad membubuhkan: ‘Ruknuddin tiba di Marogheh dan bekerja untuk Yang Mulia Nashiruddin Ath-Thusi. Ia tampak begitu mendidih lantaran kecerdasan yang luar biasa. Karena itu, Nashiruddin mengajukannya sebagai pemuka ulama di Marogheh. Ia giat mengajar filsafat dan menulis catatan pinggir atas kitab At-Tajrid dan atas kitab-kitab lainnya. Untuk anak Nashiruddin, ia juga menuliskan sebuah syarah atas Qowaidul ‘Aqoid karya Nashiruddin.”
    Tatkala Nashiruddin berhijrah ke Baghdad pada tahun 672 H., ia turut menyertainya ke sana. Sampai ketika tahun itu Nashiruddin wafat, dia berpindah ke Musil dan menetap di sana lalu mengajar di Madrasah Nuriyyah. Di sana, dia dipercayai untuk mengelola harta-harta wakaf madrasah. Dalam pada itu, Ruknuddin menulis syarah atas kitab Al-Muqoddimah karya Ibnu Hajib sebanyak tiga syarah; yang paling masyhur di antara tiga syarah ini adalah syarah Al-Mutawassith. Ia juga berkecimpung secara tekun di bidang Ushul Fiqih dan belajar pada As-Saif Al-Amadi, sehingga ia dipercayai untuk membuka sendiri kuliah mazhab Syafi’iyah di kawasan Sultaniyah.
    Ash-Shofadi mengatakan: “Ruknuddin sangat tawadhu. Dia akan senantiasa bangit berdiri di hadapan setiap orang sebagai penghormatan, bahkan kepada penghidang air. Dia begitu penyabar, mulia dan wibawa. Ia menulis syarah atas kitab Al-Mukhtashar karya Ibnu Hajib Al-Ashli dan atas Asy-Syafiyah fi At-Tashrif. Usianya mencapai tujuh puluh tahun lebih.” Pengarang Riyadhul ‘Ulama’ mengatakan: “As-Sayyid ibn Syaraf Syah adalah Sayyid Ruknuddin Al-Istarabadi, yaitu Abu Muhammad Al-Hasan ibn Muhammad ibn Syaraf Syah Al-Husaini. Ia mengarang kitab Manhaj Asy-Syi’ah fi Fadhail Washiy Khatam Asy-Syari’ah, atas nama Sultan Uweis Bahadur Khan.”
    Saya pribadi juga memiliki beberapa karya Ruknuddin, di antaranya syarah atas kitab Qowaidul ‘Aqoid karya Khajeh Nashiruddin Ath-Thusi, gurunya sendiri. Penulis Raudhatul Jinan menyatakan: “Ruknuddin adalah tokoh besar Syi’ah. Sekelompok ulama telah memberikan sejumlah kesaksian atas kesyi’ahannya dan menyebutkan karya-karyanya, termasuk kitab Manhaj Asy-Syi’ah. Ruknuddin wafat pada 718 H. Bagi sebagian ahli, hari wafatnya jatuh pada 14 Shafar 715 H.”
    Demikianlah kitab ini ditulis tuntas dengan segenap puji dan syukur atas hadirat Allah swt., oleh penulisnya; seorang hamba yang mengharap penuh akan kemurahan Tuhannya; Dzat Yang Maha Pengasih, Abu Muhammad Al-Hasan yang masyhur dengan nama Sayyid Hasan Shadruddin ibn Sayyid Hadi Al-Kadzim, pada hari Sabtu, 15 Jumadil Akhir 1330 H.[]